Archive for October, 2009
Melempar amarah, penat dan sakit hati
Hampir saja aku lupa kalo aku masih punya blog tempat aku curhat selain ke teman2 dekatku like Ibotoku Meme, Eci and Tohap. Tentunya aku juga punya my great Jesus if I need everything from Him. Selain mereka ini, biasanya aku sering juga curhat sama my lovely Mom and Sista di kampung. Tapi kadang ada bebera hal yang ga bisa aku ceritain sama my Mom and my Sista.
Hampir saja aku menyerah setelah beberapa kali berdiri dalam sebuah tebing tinggi yang kugambarkan sebagai titik puncak kesabaranku. Kadang aku sudah pasrah dan memilih untuk terjun bebas dari titik kesabaran itu, batas kemampuanku. Tapi rasanya aku gak sanggup, gak tau karna apa…??!!!
Kalo aku boleh flash-back tentang “siapa aku”, rasanya terlalu sakit dan berat sekali hidup ini untuk aku tapaki. Rasanya aku pengen sekali diperhadapkan dengan pilihan yang lebih manusiawi. Tapi ternyata bukan kehendakku yang terjadi, Tuhan punya rencana lain buat aku yang benar-benar sulit untuk aku selami. Atau aku kah yang kurang tau diri dan sulit untuk bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang…?? Entah lahh…
Oktober 2005 lalu aku memutuskan untuk terbang menuju Jakarta yang konon disebut2 bisa berikan kita apa aja yang kita mau. Dengan modal nekat dan ijazah D3 yang masih bersifat sementar kubulatkan tekat untuk menegakkan badan, perlahan namun pasti kuangkat kepala yang sudah hampir lama tertunduk. Aku berjanji dalam diriku, apapun yang terjadi, takkan ada sedikitpun tangisan mulai saat itu. Makanya tidak setitikpun air mataku tertumpah waktu aku berangkat dan my Mom memegang tanganku sambil berucap “Semoga sukses ya mang…, jangan lupa berdoa dan kasih kabar sama mamak ya”.
Yaa….., aku adalah lelaki kuat, bahkan satu-satunya orang dari keluargaku yang berani untuk ambil keputusan merantau ke Jakarta sendiri. Dulu abangku pernah merantau ke Jakarta bersama tetanggaku dikampung, jadi mereka masih punya tempat tinggal dan ada orang yang menjaga mereka selama di Jakarta. Tapi aku berbeda dan itu tidak menyurutkan tekatku sedikitpun.
23 Oktober 2005 aku berangkat walau hanya dengan sedikit bekal dan entah rasa apa yang aku punya menerima uang itu dari my lovely Dad. Ingin rasanya aku marah sama Tuhan buat cara aneh yang diberikan disaat2 kepergianku. Pagi-pagi aku berkemas, dengan hanya membawa sebuah tas tenteng kecil (mungkin hanya ada 5 pasang pakaian di dalamnya). Kupeluk mamak yang sedari tadi berurai airmata, kucium kedua pipinya, kuberikan dia senyum untuk meyakinkanya kalo aku bakal baik-baik saja. Gak lama my lovely Sista “Dara” memanggilku ke kamar. Dia satu2nya saudaraku yg tau akan semua isi hatiku, permasalahanku dan tau apapun yg aku sembunyikan di hatiku. Dipeluknya aku sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan 50rb ke tanganku. Dengan mata yang basah diciumnya kedua pipiku sambil bilang “kalo gak tahan di Jakarta, harus pulang ya dek.., jangan di tahankan sendiri. Yaa….!!!???“. Aku gak menjawab dan gak ada rasa yang bisa kugambarkan waktu itu. Seakan aku akan pergi selamanya dan gak tau kapan aku akan memijakkan kaki lagi di rumah mungil yang baru 4 bulan sebelumnya dibeli dari hasil dana pensiun bapakku.
Kuraih tas kecil yang sedari tadi terletak seakan tak bertuan disebelah pintu rumahku. Celana pendek coklat muda, dan kaos biru pemberian kakakku jadi kesan tersendiri saat aku berangkat dulu. Mamakku sedikit berteriak seakan dia gak rela aku masuk dalam mini bus yang akan membawaku menuju Medan waktu itu. “Pudan….!!”, sapanya dengan harap aku akan menolehkan wajahku untuknya “Pudan….!!”, kembali my Mom memanggilku untuk beberapa kali. Tapi maaf, aku sudah commit dengan keputusanku, bahwa tak ada tangisan untuk saat itu. Tidak sekalipun aku berpaling dan menatap wajah2 di depan rumahku pagi itu yg penuh dengan kesedihan dan air mata. Sampai mini bus beranjak dan perlahan rumahku menghilang dari ujung jalan dan terhalang pepohonan.
Yaahhh……aku sudah pergi…., hanya itulah bisikan hatiku saat itu. Dengan tanpa tau kemana dan kapan aku harus pergi ke Jakarta. Paling tidak, aku sampai medan dulu pikirku. Hampir 7 jam aku terduduk dalam minibus itu, sampai akhirnya aku tiba di Medan. Aku hanya punya seorang teman dekat kala itu yang masih tinggal di Medan. Yaaa.. Harul.., akupun menemuinya dengan harapan aku bisa menginap dirumahnya sebelum aku terbang ke Jakarta.
Tanggal 24 Oktober 2005 aku terbang menuju Jakarta setelah membeli tiket Lion Air dengan harga 480rb. Tidak banyak uang yang tersisa kala itu, karna tidak sedikitpun aku menawar waktu bapak memberikanya kemaren. Bukan uang yang aku butuhkan kala itu, tapi ketegaran, tekat yang bulat dan sepenuh hati yang aku inginkan. Just it…!!!
Itu kali pertama aku bepergian dengan pesawat terbang, tapi tidak terlalu sulit saranya untuk mengetahui prosedur yang diberlakukan. Sampai di Jakarta, aku dijemput sama Benno yang waktu itu terlihat kurus dan masih belum dapat kerjaan setelah hampir 1 bulan di Jakarta.
Singkat cerita….kerasnya hidup di Jakarta sudah semakin terbiasa kulalui, terkadang aku harus makan nasi 1 kali sehari untuk bisa bertahan tanpa harus meminta ke orang tua di kampung (maklumlah, waktu itu aku masih pengangguran). Untungya aku masih punya banyak teman di Jakarta, makanya aku gak takut menjalani semuanya. Kurang lebih 3 minggu aku mencoba bertahan di Jakarta, sampai akhirnya temanku Moris memberikan informasi kalau di perusahaan tempat dia bekerja sedang membutuhkan developer .net. Tanpa pikir panjang, aku coba melamar ke sana dan setelah melewati beberapa tahap seleksi, akhirnya aku diterima (thx to moris, aku tau kalo semua itu berkat bantuanmu juga, makanya aku diterima). Sampai sekarang ada kesan tersendiri tiap kali aku mengingat Moris. Aku banyak kuat karna dia juga, dan aku bersyukur disaat-saat aku susah dulu, masih ada dia dan Tupa yang menemani aku jauh di Soroako – Makassar – Sulawesi Selatan dulu kurang lebih satu tahun.
November 2005 aku bekerja di PT. Learnit Global Indonesia dengan salary yang cukup lumayan besar buat aku pribadi waktu itu. Belum lagi aku dapat kesempatan untuk menghandle project jauh di ujung Sulawei Selatan sana. Berat rasanya, tapi pertolongan Tuhan selalu ada untukku saat itu. Beratnya hidup kuangkat secara perlahan dengan mengandalkan Tuhan dalam hidupku. Masalah demi masalah yang dihadapi orang tuaku dan keluargaku di kampung perlahan kami selesaikan. Thx God walo peluh dan keringatku seakan sudah kering, tapi pertolonganMu tidak pernah terlambat.
1 tahun 5 bulan aku bekerja di PT Learnit Global Indonesia, akhirnya kuputuskan pindah ke perusahaan lain. Aku dapat kesempatan untuk bekerja di PT KBRU Insurance Brokers salah satu member dari Sinar Mas Group (thx to Tina yang sudah nemani aku kurang lebih 2.6 tahun). Tadinya aku berharap ini adalah perusahaan terakhir tempat aku bekerja sebagai orang suruhan atau sebagai karyawan. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain buatku. Ketidak nyamanan yang kurasakan belakangan memaksa aku untuk mengambil keputusan berat dalam hidupku. Yaa…“resign” adalah hal paling tepat waktu itu. Tgl 6 Oktober lalu, aku resmi keluar dari perusahaan itu. Tapi Tuhan tidak tinggal diam, tgl 13 Oktober lalu, selang 1 minggusaja aku dapat kerjaan di salah satu perusahaan IT Consultan di Jakarta. Bahkan tawaran yang diberikan jauh diatas yg aku bayangkan. Tuhan yang hantar aku ketempat itu, dan aku yakin kalo Dia pasti memampukan aku (besok adalah hari pertamaku bekerja di sana).
Kini aku diperhadapkan dalam masalah baru. Setelah 4 hari yang lalu abangku paling sulung dirawat di ruang ICU RS Tarutung karna penyakit jantungnya kambuh lagi. Tapi aku yakin pertolongan Tuhan selalu ada buatku, buat kedua orangtuaku, buat abang2ku, buat kakak2ku dan ponakanku. Aku yakin abangku pasti disembuhkan dan dipulihkan Yesus. Karna aku tau, dia tidak pernah menutup telingaNya saat aku berseru kepadanya. Jumat malam lalu, abangku kritis, tapi berkat Tuhan dia kuat melewatinya dan sekarang perlahan semakin membaik. Kering sudah air mataku sejak abangku dirawat di rumah sakit, pikiranku berantakan. Tapi untungnya semua berangsur membaik dan semoga kedepanya semakin membaik pula.
“Tuhan….aku tau, tak ada yang sia-sia di hadapanMU. Biarlah keikhlasanku membantu abangku membuahkan hasil yang baik. Engkau pulihkan dan sembuhkan dia”
Beratnya hidup seakan jadi sahabat buatku, tapi aku tidak mau jatuh dalam keterpurukan, sebisa mungkin aku mengangkat wajahku dan merangkai senyum dibibirku. Tidak akan pernah aku menunjukkan amarah, penat dan sakit di hatiku pada siapapun. Sudah terlalu kebal rasanya aku akan semua ini. Yang penting, aku pegang janji Tuhan buatku, dan aku selalu bisa merasakan itu. Kalau kelak semua akan dibuatnya indah. Aku berkumpul bersama kedua orang tuaku, abang2ku, kakak2ku dan ponakanku dalam bahagia yang takterukur. Sehat jasmani dan rohani, walo aku tetap sendiri tanpa pasangan hidup, aku ikhlas……, ya..sungguh aku ikhlas
4 comments October 25, 2009