Selamat ulang tahun Bapak [03062014]

Image

oleh: togi tua sianipar

—————————

Masih saja segar dalam ingatanku kala dua puluhan tahun lalu kau ajak aku ke bioskop saat film “Misteri Gunung Merapi” rame dibicarakan hampir semua anak di kompleks. Dan kau tak mau bila aku hanya bisa diam tak bisa ikut bercerita bersama teman-teman seusiaku bagaimana hebatnya cambuk berapi dalam film itu.

Masih saja segar dalam ingatanku kala belasan tahun lalu kau selalu hadir di tiap catur wulan raport sekolahku dibagikan. Dan kau selalu menghadiahkanku semangkuk baso di pertigaan kantor tempatmu bekerja, itu yang membuatku selalu bergairah untuk menghadiahkan raking kelas dan selembar piagam penghargaan bila mana raport dibagikan.

Masih saja segar dalam ingatanku kala beberapa tahun lalu kau menangis memberangkatkanku merantau ke Jakarta, lalu rasa perih hatimu tak dapat kau tahan karna tak cukup uang yang kau beri melepasku merantau. Sejujurnya perih hatiku berpuluh kali lipat menyaksikanmu menangis kala itu, hanya saja aku berpura-pura tegar dan kukatakan “ini sudah lebih dari cukup pak, akan banyak teman yang membantuku di Jakarta. Doakan saja aku”

Masih saja segar dalam ingatanku kala beberapa bulan lalu kutemukan kau terduduk di kursi teras rumah kita mengenakan kaos berkrah dengan saku dibagian kiri depan, tak pernah kau mau memakai oblong. Lalu suaraku sedikit keras melarangmu merokok dan hanya meminum kopi dari pagi hingga sore tanpa mau makan. Lalu kau membujukku untuk mengembalikan sebungkus rokok yang kusita darimu.

Masih saja segar dalam ingatanku kala beberapa minggu lalu untuk pertama kali kau meminta uang padaku dengan dalih membeli kado untuk ponakanmu yang menikah di kampung. Puluhan tahun kau kubebani dengan merengek meminta uang, lalu baru sekali kau dengan langsung meminta padaku. Biasanya kau hanya akan menungguku memberikan uang lalu kau selalu menerimanya tanpa ada komentar dan tergesah-gesah memasukkannya ke dalam sakumu agar tak terlihat siapapun.

Hari ini kau berulang tahun, Bapak juara satu sedunia yang dulu selalu menyelipkan receh di saku celanaku agar tak terlihat anak-anakmu yang lain biar tak tampaklah kiranya kau berlaku tak adil. Bapak juara satu sedunia yang selalu membawakan kami sebungkus gorengan hangat bila mana kau pulang dari luar kota. Bapak juara satu sedunia yang sekalipun tak pernah memukulku dengan tanganmu yang keras lalu bila kau marah kau lebih memilih meminta istrimu menghukumku, lalu setelahnya kau gantikan kesalku dengan sepiring indomie kuah yang kau masak. Lalu kau menggodaku dan bilang “Allang ma nah, tabo hian. Masak dua hubaen”.

Bapak juara satu sedunia, bila saja Jakarta ini iklas melepasku dan aku pulang ke rumah kita atau bila kau mau kau boleh tinggal bersamaku dan Mamak di rumahku. Merawatmu di masa tuamu lalu sesekali kuajak kau berkeliling kota melihat gedung-gedung tinggi walau ku tau kau tak akan suka.
Selamat ulang tahun ke 70 Bapak juara satu sedunia, hasianhu na burju, kebanggaanku. Semoga Tuhan memberkatimu melimpah dan memberikan kesehatan dan umur panjang untukmu, istrimu, anak dan cucumu.

Teriring doa nantulus dari bungsumu

June 3, 2014 at 7:19 am Leave a comment

Selamat ulang tahun Mamak [14032014]

Image

oleh: togi tua sianipar

—————————

Entah akan ada berapa cinta yang kualami dalam hidup ini, tapi kau adalah cinta pertamaku yang abadi tak terganti.
Entah akan sebahagia apa hidupku ini nanti, namun kutau pasti tak ada bahagia melebihi bahagiaku memilikimu hingga kini.

Selamat pagi Terkasih,
Hatiku melihatmu tengah duduk di kursi rumah kecil kita.
Selamat pagi Kesayangan,
Bagaimana sarapanmu pagi ini?
Selamat pagi Matahariku,
Beruntungnya aku memilikimu 31 tahun tak pernah putus.

Pagi ini kutemui handphoneku memberiku tanda pengingat bila hari ini adalah hari ulang tahunmu.
Padahal tanpa dia mengingatkankupun manalah mungkin aku lupa bila hari ini 65 tahun sudah kau ada setia untuk hidup dan keluarga terutama untukku bungsumu ini. Bahagiannya aku.
Lalu 3 tahun takhir Stroke cemburu melihat kita dan mencoba mencuri bahagiaku bersamamu.
Tapi jangan takut, aku akan selalu ada bersamamu melawannya. Kau akan baik-baik saja bersamaku, kau akan aman di dekat suami, anak dan cucumu.
Aku berjanji untukmu, percayalah.

Selamat pagi Mamak, selamat pagi Kesayanganku, selamat ulang tahun Kekasih hatiku.
Kualamatkan doa paling tulus di sepanjang hidupku untuk kesembuhan, kepulihan, kesehatan, dan kebahagiaanmu. Kiranya Tuhan sudi bekerjasama denganku untuk menjagamu.
Panjang umur dan kiranya Tuhan mendengarkan doa permohonanku.

Untukmu Mamak, apapun itu…..

With Love
Bungsumu

June 3, 2014 at 7:17 am 1 comment

__menapak dalam tegar

oleh: togi tua sianipar

———————

PAGI ini hujan lagi, wiper mobilku semakin cepat bergerak ke kiri dan ke kanan. Jalanan macet tak bisa dielakkan lagi. Panjangnya antrian kendaraaan di setiap persimpangan dan lampu merah membuatku bosan lalu sesekali marah dengan kondisi macetnya jalanan Jakarta. Tiba-tiba saja seorang ibu tua menjulurkan tangannya tepat di depan wajahku dan membuatku terkejut bukan main. Kaca mobil memang sengaja kubiarkan terbuka separuh agar asap rokok yang kubakar tidak membuat pengap udara di mobil. “Buat makan pak..!!!, buat makan pak..!!!” begitu si Ibu berkata-kata dengan tatapan kosong dan air muka yang hambar tak berasa. Basah kepala dan bajunya tak lagi dia hiraukan.

Kuraih receh dari laci mobil lalu ku berikan padanya. Kuamati lagi wajah itu pelan-pelan. Yah pelan-pelan. Sepertinya aku mengenal wajahnya. Betul, aku mengenalnya. Itu wajahku!!!. Wajah dengan jenis ekspresi merana, nelangsa, meranggas, penuh derita, sakit. Itu benar-benar wajahku, wajahku yang dulu, wajahku tiga tahun lalu, wajahku yang sempat ingin kubunuh tapi tak sempat. **Anganku seketika saja terbang pada peristiwa dulu.

Tahun 2011 dulu. Bulan pertama setelah banyak pertistiwa pahit yang aku alami benar-benar menyeretku masuk dalam keterpurukan. Peristiwa saat Tuhan izinkan Mamak yang teramat sangat aku kasihi bergulat dengan sakit stroke yang serius membuat semangat yang sedari kecil aku pupuk seakan layu , kering meranggas dan hampir mati.

Tidak mudah untuk melewati semuanya itu, tidak mudah juga untuk berpura-pura bersikap tegar dan berusaha iklas akan semua kejadian itu. Yahhh, aku hanya seorang biasa yang tidak pernah siap untuk menerima rasa sakit yang merajam hati.

Hari-hari yang sangat berat kulewati tanpa ada semangat, bahkan tak ada harapan. Hidup seakan aku jalani tanpa ada tujuan. Aku jatuh dan terpuruk, terperosok jauh sekali. Hidup hanya dihantui rasa takut, sakit hati dan tidak ada damai di hatiku. Tak ada seharipun kulewatkan tanpa mempersalahkan Tuhan yang saat itu aku rasa cukup semena-mena membiarkan semua itu terjadi. Rasa percaya diri seakan hilang terbang terhembus angin entah kemana.

Malu dan letih aku harus menjual sedih dan cerita pada setiap teman yang aku harap bisa membantuku sekedar meminjam uang menebus obat Mamak dan untuk semua biaya teraphy yang dibutuhkannya. Sampai akhirnya rasa sudah takdapat kukenali lagi, tidak lagi ada sedih, riang dan entah apapun itu. Semua aku lakukan seolah hanya semacam keharusan untuk setiap minggu harus menyiapkan uang berjuta-juta rupiah lalu dengan sigap mengirimkannya ke kampung untuk biaya pengobatan Mamak.

Tidak seorangpun keluarga kuijinkan masuk dalam kubangan dan jeratan hutang ini, karena penuh pasrah dan iklas aku menyiapkan leherku terpenggal oleh hutang yang aku gauli. Air mata sudah jadi hal biasa kupakai sebagai senjata bila ada mulut yang menolakku saat mengemis ibah. Namun itu keluar begitu saja tanpa rasa malu dan bahkan tidak berasa apapun di hatiku.

Berat sekali dan hampir aku menyerah saat itu. Sejatinya aku merasa hanya berjalan pada sebuah putaran permainan yang ada pada level penghabisan menunggu game over. Yahhh bagaimana tidak, hanya untuk mengisi perut saja rasanya sulit sekali saat itu. Beruntung saya masih punya teman-teman dekat yang masih mau meperhatikanku dan membantuku walau sesungguhnya aku tak peduli apa motivasi mereka melakukannya untukku saat itu.

Pagi di hari-hari berat seperti biasa aku menapak ke kantorku yang saat itu sangat jauh dari tempatku tinggal. Aku ingin sekali mengakhiri semua cerita pahit ini. Aku sudah tidak kuat karena aku tau siapa aku dan sejauh mana kemampuanku. Tepat di hari pembayaran gaji yang sejatinya riang malah membuatku terpukul. Saat itu posisiku sebagai Senior Supervisor di sebuah perusahaan food and beverage yang sebenarnya termasuk salah satu perusahaan terbesar di Republik ini, namun tetap saja gajiku kandas persis di tanggal pay day. Hutang sudah menjalar dimana mana, sementara apa yang kupunya sudah tidak cukup lagi menyelesaikan masalahku. Tidak sedikitpun lagi air mataku tertumpah. Aku pasrah.

Saat itu aku hanya meminta Tuhan untuk memberiku satu jalan saja mengatasi masalahku bila memang Dia masih bisa mendengar suara hatiku saat itu. Karena sudah kuputuskan untuk resign dan pulang ke kampung menginggalkan pekerjaanku, kuliah masterku yang belum kelar, lalu bertemu Mamak dan akan kukatakan padanya “Aku terjerat utang banyak dan aku sudah tidak bisa lagi membiayai pengobatanmu. Mungkin juga akan banyak orang yang mengejar aku atau mungkin polisi akan mencariku kemana saja aku pergi lalu memborgol kedua tanganku. Tapi aku mau semua itu terjadi saat aku berada didekatmu Mamak. Maafkan aku anakmu yang tak berguna ini, maka izinkan aku merawatmu dengan kedua tanganku, dengan hatiku yang meranggas karena rasa sakit hati berbulan-bulan lamanya tapi kuharap bisa memberikan kasih setulus yang kubisa untukmu Mamak”.

Mantap sudah keputusanku kala itu. Namun tak juga aku berani melakukannya. Surat pengunduran diriku kusimpan entah sudah berapa hari di laci meja kerjaku. Setiap kali aku membukanya dunia seakan meruntuhkan bongkahan-bongkahan batu menimpa kepalaku tapi sakitnya justru di hatiku.

Dan ternyata…

Tak lama hari berselang, saat makan siang disebuah kantin pabrik padat dikerumuni para buruh berebut jatah, HP ku berbunyi. Ada seorang Ibu menyapaku ramah, ternyata ada panggilan interview dari sebuah instansi yang aku sendiri tidak tau sejak kapan aku mengajukan lamaran ke sana. Tidak juga aku tertarik untuk ikut dalam seleksi itu, namun terlanjur aku setuju dengan jadwal seleksi yang ditawarkannya.

Lalu hari itu tiba, belum pernah aku sejujur itu berbicara perihal kesulitan hidup, rasa sakit di hatiku dan luluhlantahnya hidup yang kualami kepada Mamak. Tapi pagi itu seakan ada yang memaksaku untuk harus bercerita jujur padanya. Kuraih telpon di meja kamarku, aku ingin mendengar suara Mamak yang sebenarnya belum begitu sempurna berbicara. Aku hanya diam sesaat dan kukatakan “Mak, pagi ini aku ada panggilan seleksi ke tempat kerja baru. Aku mau cari uang yang banyak supaya aku bisa bantu pengobatan Mamak karena apa yang aku punya sekarang tidak cukup lagi membantu pengobatanmu. Doakan aku yah Mak”. Lalu kututup telpon dan beranjak ke sebuah instansi yang mengundangku untuk ikut serangkaian tahapan seleksi.

Tidak banyak yang aku harapkan, hanya bisa diterima kerja entah jadi apa saja namun mereka mau mengupahku dengan gaji yang aku rasa cukup untuk menopang hidupku dan membantu biaya pengobatan Mamak. Begitulah aku jalani serangkaian test kurang lebih 2 minggu prosesnya. Sampai akhirnya hasil final menyatakan aku diterima bekerja di sana.

Doa Mamak yang sudah Tuhan dengar dan bukan doaku, sebab aku juragan dosa yang telah memaki-NYA setiap hari. Jadi manalah mungkin Tuhan mendengarkan doaku saat itu. Aku percaya itu. Mamak yang sudah meminta kepada Tuhan dengan teramat sangat bersama lidahnya yang keluh pasca sroke, Mamak yang sudah berseru pada Tuhan untuk beri aku jalan terbaik dan bisa melewati semua ini.

Dan sejak saat itu aku seakan menemukan pertolongan dari Tuhan untuk membantuku bangkit dari keterpurukannku. Sampai akhirnya Tuhan membantuku menemukan jalan untuk semua biaya pengobatan Mamak, Tuhan yang memberikan tenaga untuk pikiranku yang sebenarnya hampir geger menyelesaikan kuliah masterku karena harus berbagi fokus namun hasilnya tetap spektakuler, Tuhan juga yang menaruh uang di saku celana dan dompetku untuk cukup membayarkan hutang yang begitu banyak kepada semua yang sudah berbaik hati meminjamkan uang untukku. Tuhan yang memberiku kesempatan bekerja di instansi yang dipimpin lansung orang nomor dua di republik ini. Tuhan juga yang memberikan atasan bak saudara sedarah yang selalu memberiku maklum teramat sangat dalam bekerja hingga aku tetap bisa memberikan perhatian terbaik untuk Mamak dan keluarga di kampung (terima kasihku untukmu Sir MAT, Tuhan memberkatimu).

Lalu hari berganti hari semangatku bangun dari tidur panjangnya, mendapati senyum dan tawa Mamak dibalik speaker HP ku. Kondisinya semakin membaik. Akupun mulai berani bermimpi lagi, setelah lama tak pernah sedikitpun aku berani melakukannya lagi karena terlalu banyak mimpi buruk mendekatiku.

Banyak hal yang sudah Tuhan perbuat dalam hidupku dan aku percaya yang terbaik yang sudah Tuhan lakukan. Perlahan tapi pasti Tuhan bantu aku menyelesaikan semuanya. Biaya pengobatan Mamak, kuliah masterku selesai dengan hasil yang sangat memuaskan, renovasi rumah Mamak di kampung, beli rumah untuk istri dan anakku kelak, menyekolahkan ponakan sampai ke universitas dan dengan baiknya Tuhan mengizinkannya lulus dengan beasiswa penuh oleh pemerintah, mobil baru, berkeliling Indonesia dari Sabang – Merauke sembari bekerja, dan belakangan ini saya sedang mempersiapkan usaha bersama seorang sahabatku di Medan. Semoga semua berjalan lancar, sesuai jadwal dan bila Tuhan izinkan April nanti potong tumpeng akan digelar sebagai tanda usaha itu akan siap dibuka.

Aku bukan sedang memegahkan diri, sama sekali tidak. Kumohon kau tak mengartikannya seperti itu. Aku hanya tersadar betapa hidup banyak ragamnya. Semua terjadi karena seizin Tuhan. Bila ini yang terjadi padaku semua bukan karena kuat dan hebatku. Hanya karena kemurahan hati Tuhan.

Janji Tuhan tidak pernah terlambat dan selalu pasti. Aku percaya itu. Amin.

Anganku terhenti oleh hingar bingar bunyi klakson mobil yang ada di belakangku. Lampu merah kini berganti hijau dan memaksaku untuk sesegera mungkin menginjak gas dan pergi meninggalkan macetnya jalanan pagi itu. Entah kebetulan atau tidak, satu lagu rohani terputar dalam waktu yang tepat. Membuatku hanyut dalam melankolisnya perjalanan senin pagi bersama hujan di suatu jalan di Jakarta Pusat.

****

Marlojong ahu tu Ho oh Tuhan

Hapariron i gok di rohakki

Ho haposanki hutiop tongtong

Lam margogo ahu dibaen ho

Tikki jumpang ahu dihagogotan i

Nang galumbang pe ganggu rohakki

Ho haposanki hutiop tongtong

Lam margogo ahu dibaen ho

Songon lali i habang mansai timbo

Maninggalhon sude akka sidangolakki

Holan ho Tuhan pasabam rohakki

Ndada nasotarbahen ho Tuhan

February 3, 2014 at 9:34 am 3 comments

Kali keempat kecewa mencoba datang

oleh: togi tua sianipar

—————–

Kira-kira dua tahun yang lalu keputusan itu kuambil, keputusan yang sebenarnya berat untuk aku ambil. Tapi keinginan dan tekat seolah sudah bulat sampai akhirnya tak perlu menimbang-nimbang lebih dalam lagi.

Andai saja aku boleh jujur pada diri sendiri bahwa keputusan ini lebih karna dihasut oleh rasa iri akan masa lalu yang sepertinya tidak seberuntung sekarang ini.

Saat usiaku memasuki dua belas tahun dulu banyak keinginan yang sebenarnya ingin sekali kumiliki namun seakan semesta tak mendukung untuk aku bisa mendapatkannya.

Kalau aku boleh sebut hal terpenting dulu yang selalu aku inginkan adalah “bersekolah”. Yah, sederhana memang tapi itulah realita. Bapak dan Mamakku juga sebenarnya penuh rasa salut akan itu, namun tidak terlalu memberi peluang buat aku dan saudara-saudaraku untuk bisa memilih sekolah yang kita rasa cocok dan kita senangi. Tak banyak pilihan dulu, hanya satu saja dan harus ikut kemana Bapak dan Mamak meminta kita untuk sekolah, maka tak perlu menawar.

Pertama kali aku merasa kecewa dulu adalah saat aku kembali pada pilihan buntu itu. Saat menamatkan sekolah dari SD negeri, aku seolah tak bertenaga untuk meminta kepada Bapak dan Mamak untuk ikut teman-teman dekatku melanjutkan sekolah ke SMP Swasta ternama di kotaku dulu. Bermimpi untuk jadi murid pintar dan berprestasi adalah harga mati di keluargaku tapi bukan untuk memilih sekolah paling bagus dan terkenal yang identik dengan biaya selangit.

Kujalani hari-hariku bersekolah di SMP negeri dengan fasilitas standar namun cukup buatku untuk menimba ilmu. Walau bayang-bayang teman-teman SD dulu masih sering singgah disela-sela anganku sampai akhirnya kutamatkan sekolahku dari SMP negeri itu dengan hasil yang cukup memuaskanku dan orang tuaku.

Pertama kali aku merasa bangga dulu adalah saat aku dengan mudahnya berhasil mendapatkan satu bangku di SMA negeri yang saat itu jadi sekolah favorit bagi mereka-mereka yang lulus dari bangku SMP dan berburu SMA terbaik di kotaku. Bagaimana tidak, SMA negeri itu adalah SMA terbaik di kotaku dan murid-murid di sana juga adalah murid-murid terbaik dari semua SMP yang ada di kotaku. Bermodalkan nilai ebtanas SMP akhirnya aku berhak untuk satu kursi di sana tanpa harus mencoba meminta pada Bapak dan Mamakku untuk mengizinkan aku bersekolah di SMA favorit itu.

Kali kedua aku kecewa saat akan menyelesaikan sekolahku dari SMA aku bahkan nyaris takdiberi pilihan oleh orang tuaku untuk melanjutkan studiku ke universitas hanya karena terbentur biaya kuliah yang saat itu seolah sulit dibayangkan akan menjadi beban serius bagi Bapak dan Mamakku. Bukan juga mereka tidak ingin aku berhasil kelak, namun keadaan saat itu memang seakan tak mendukung untuk aku melanjutkan studiku ke universitas dan aku juga memahami itu bersama kecewaku.

Kali kedua aku merasa bangga dulu adalah saat kakakku menjaminkan hidupnya tiga tahun untukku demi niatku yang dirasanya tulus ingin sekali merasakan bangku kuliah. Itu yang juga yang membuatku bersemangat untuk berusaha keras masuk ke politeknik favorit yang tidak jauh dari kotaku dulu. Kali itu semesta seakan mendukungku sampai akhirnya aku berhasil lulus di politeknik yang diperuntukkan bagi mereka-mereka yang sedikit banyak senasib denganku. Lagi-lagi karena tidak banyak pilihan, itu juga yang membuatku seolah terjerat dalam situasi antara sulit dan tak sulit untuk kujalani. Sedikit nyaman tapi justru rasa tidak nyaman lebih mendominasi kala itu. Mungkin karena itu bukanlah bidang yang tepat untukku kala itu. Jurusan seni yang lama aku idam-idamkan dan kubanggakan teramat sangat sejak kecil dulu akhirnya berakhir pada pilihan buntu pada disiplin ilmu komputer yang sebenarnya saat ini telah menafkahiku sejak 7 tahun yang lalu. Dan kini aku bersyukur akan takdir yang sudah mengenalkanku akan ilmu ini. Canggih, menyenangkan dan mahal harganya. Itu beberapa alasan kenapa aku bersyukur akan itu saat ini.

Kali ketiga aku merasa kecewa adalah saat teman-teman seprofesiku dan seusiaku ingin terus berburu ilmu di perguruan tinggi atau sekedar melanjutkan studi mereka dari Ahlimadia ke Sarjana. Saat itu pilihan seakan pergi berlari dariku entah kemana. Karena pilihan untuk harus tetap bersabar dan fokus bekerja demi membantu keluarga di kampung dan untuk hal-hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar mengejar angan yang belum tentu bisa kugapai.

Kalau banyak dari mereka yang beruntung saat itu bisa melanjutkan studinya dengan banyaknya dana penjaminan dari orang tua atau mungkin dari saudara, berbeda denganku yang justru harus menjamin kelangsungan sekolah keponakanku yang sedikit kurang beruntung seperti aku dulu.

Kali ketiga aku merasa bangga adalah saat aku akhirnya bisa melanjutkan studi Sarjana setelah dua tahun menunggu. Dengan segala upaya dan kerja keras berbagi pikiran, waktu dan tenaga dengan adil antara diriku dan orang-orang di kampung namun akhirnya berhasil juga aku menyelesaikan Sarjanaku tepat waktu dengan baik.

Kali keempat kecewa mencoba datang dan kuganti dengan bangga adalah saat aku bisa melanjutkan studi Masterku tanpa harus menunggu lama dan bersabar. Persis setelah tamat Sarjana kubulatkan tekatku untuk mengambil keputusan yang sejujurnya awalnya itu dihasut rasa iri oleh cerita kecewa dulu maka kuputuskan untuk melanjutkan studi Master selagi semesta mendukungku. Tak semulus apa yang kupikirkan memang, banyak hal yang membuatku nyaris melupakan impian ini terutama saat Mamak sakit serius dulu. Namun dengan penuh syukur atas segala pertolongan Tuhan, akhirnya aku berhasil menyelesaikan Masterku kurang dari dua tahun. Dan bahkan saat ini ada sedikit bonus karena tiket untuk studi Doktor sudah berlipat manis di sakuku. **tapi lupakan sejenak soal tiket ini, aku hanya sedang tak mau memikirkannya🙂

Terima kasih untuk rasa kecewa yang dulu pernah kualami, karena sejatinya belajar darimu sungguh tak mudah namun memaksaku mengejar angan. Terima kasih juga buat setiap waktu Tuhan tak pernah mau meninggalkanku, juga buat keluarga yang luar biasa yang kupunya, sahabat dalam segala sabar yang memberi banyak warna tak terhitung. **God bless.

August 30, 2012 at 11:42 am 9 comments

Lalu apa yang jadi bagian Dara??

Oleh: togi tua sianipar

————————-

SUARA musik bertalu talu saat Dara perempuan bersuara merdu itu melantunkan lagu untuk yang kesekian kalinya. Profesi sebagai biduan pesta kerap dia lakoni hanya untuk mendapatkan tambahan pundi pundi yang harus dia kumpulkan untuk bisa dia pakai melunasi biaya kuliah Pudan adik bungsunya yang sangat dia sayangi dan dia banggakan teramat sangat. Dara memang sudah mantap dengan keputusanya untuk tidak pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan rumahnya di kampung. Dia lebih memilih membantu Ibunya meneruskan usaha Ulos yang sudah sejak dia lahir dikerjakan Ibunya. Lalu sesekali dia menerima tawaran sebagai biduan pesta untuk mengisi waktu luangnya dan demi menambah pendapatannya.

Bertahun tahun dia menjalani profesi itu walau dia tau persis kalau semua materi yang dia dapatkan tidak akan pernah menjadi bagiannya. Dia juga harus kerja keras untuk membiaya sekolah kedua paramannya (anak abang tertuanya) yang tinggal bersamannya saat abang tertuanya itu menderita sakit yang cukup serius.

Yah.. Dara adalah sosok perempuan tangguh hampir sama dengan Ibu yang melahirkannya. Tanpa banyak mengeluh dan dengan sukacita dia menjalani hari harinya seakan itu dijadikannya takdir yang harus dia pikul. Bila saat itu perempuan seusianya sudah memilih untuk menikah dan berkeluarga, namun berbeda dengan Dara yang sudah empat kali menolak lamaran beberapa lelaki yang berniat untuk mempersuntingnya sebagai istri. Tidak juga Dara perempuan yang susah untuk diajak bernegosiasi atau bukan juga dia perempuan dengan segudang kriteria dalam memilih suami. Dara hanya merasa kalau waktu itu belum tepat untuk dia menjalani sebuah pernikahan. Dia masih ingin tetap fokus membantu adik bungsunya menyelesaikan kuliah, membantu biaya sekolah kedua paramannya, membantu dan mememani Ibunya yang sangat dia sayangi.

Usia Dara genap 26 tahun saat dia berhasil menamatkan kuliah adik bungsunya. Tapi Dara masih memilih untuk fokus membantu keluarganya lalu dengan pasti dia memilih untuk tidak menerima lamaran paribannya yang sudah dengan banyak cara diyakinkan orang tuanya agar Dara tidak menolak lamaran itu. Dara hanya tersenyum lalu tanpa basa basi dia berkata “Biarlah aku bantu mamak dan Bapak dulu, kalau Tuhan sudah berkehendak, jodoh itu akan datang dengan sendirinya”. Orang tuanya tak habis pikir akan pola pikir Dara yang dirasa sudah berlebihan. Bukan juga Dara jadi satu satunya sumber pencaharian untuk keluarga. Walau hanya pensiunan pegawai negeri berpangkat rendah, namun Bapak Dara masih bisa mengantongi sedikit rupiah setiap bulannya. Ibunya juga masih tetap menjual Ulos tenunan yang dikerjakan sendiri atau menadah Ulos dari pengerajin di kampung dan memasarkanya kebeberapa penadah dari beberbagai kota bahkan sesekali mengirimkanya ke luar negeri.

Pudan juga kerap kali meminta Dara untuk lebih serius memikirkan pasangan hidupnya kelak. Pudan hanya tak mau kalau Dara akan terlelap dalam ambisinya yang terlalu berlebihan untuk membahagiakan Bapak dan Ibunya. Lagi pula saat itu Pudan sudah bekerja di Jakarta dan sudah bisa menggantikan posisi Dara untuk membantu Bapak dan Ibunya di kampung, bahkan untuk biaya sekolah kedua keponakannya, itupun Pudan sudah menyanggupi. Namun percuma saja, Dara tetap konsisten pada keputusanya kalau waktunya masih belum tepat untuk menikah lalu meninggalkan keluarganya di kampung.

***Usia Dara genap 30 tahun saat Dara akhirnya bersedia menerima lamaran dari seorang lelaki berdarah Tionghoa. Betapa bahagia dan sukacitanya keluarganya saat tau Dara sudah tidak lagi diam dalam prinsip hidupnya yang dirasa jadi beban pikiran kedua orang tuanya kala itu. Tidak tanggung, Dara menyampaikan beberapa permohonan buat lelaki bermata sipit itu agar dia mau untuk di persunting. Dara hanya ingin tidak ada kecewa di mata orang tuanya yang sudah sangat mengharapkan pernikahannya bisa digelar. Lelaki berkulit putih itu dimintanya untuk membayar adat penuh dengan terlebih dahulu membeli marga lalu dengan begitu Dara akan dengan mantap menerima pinangannya. Ternyata bukanlah hal yang terlalu sulit bagi lelaki itu untuk memenuhi permintaan Dara. Sampai akhirnya prosesi pernikahan dan adat berlangsung lancar.

Dara akhirnya meninggalkan rumah orang tuanya dan harus ikut bersama suaminya tinggal di rumah sederhana yang sengaja dibangun suaminya sebelum mereka menikah. Beruntung rasannya Dara tidak terpisah oleh jarak yang terlalu jauh dengan Bapak, Ibu dan keluarganya karna Dara dan suaminya juga tinggal dalam kota yang sama dengan mereka. Dua bulan setelah pernikahannya dan oleh seizin Tuhan, akhirnya Dara mengandung anak pertamanya. Betapa kabar ini membawa sukacita yang luar biasa bagi keluarganya. Bagaimana tidak? ini adalah saat yang telah lama ditunggu tunggu oleh keluarga Dara, terlebih kedua orang tua Dara yang sudah sangat ingin sekali menimang cucu buah pernikahan anak perempuannya. Dara adalah anak perempuan kedua dari keluarganya. Kakak perempuannya yang sudah 13 tahun menikah belum juga dikaruniai keturunan oleh Tuhan. Itu yang membuat kehamilan Dara menjadi sebuah berkat yang luar biasa bagi keluarganya. Persis diusia tujuh bulan kanduangannya, Dara dan Ibunya mempersiapkan berbagai macam kebutuhan Dara. Mulai dari popok bayi, box bayi dan masih banyak lagi. Sama halnya dengan kebanyakan perempuan yang mengandung yang dalam waktu dekat akan melahirkan. Saat itu Dara juga berpesan pada Ibunya kalau kelak saat dia melahirkan, Ibunya yang sangat dia sayangi itu ada disampingnya menemani proses persalinannya.

Tidak juga harapan dan mimpi Dara bersetuju dengan rencana Tuhannya, selang beberapa minggu sejak Dara dan Ibunya mempersiapkan kebutuhan calon bayinya, peristiwa pahit harus bisa ditelan Dara. Peristiwa yang benar benar melululantahkan harapannya saat Ibu yang sangat dia sayangi itu terkena stroke dan harus dirawat berminggu minggu di Rumah Sakit. Betapa hati Dara remuk saat tau kalau Ibu yang teramat sangat dia sayangi itu terbaring lemah bahkan lumpuh kala itu. Dara hanya bisa meratap lalu sesekali dia bercerita kepada Pudan adik bungsunya yang secara ikatan batin sangat dekat dengannya. Akhirnya Dara berusaha tegar dan bangkit, dengan segera Dara berbenah diri dan dengan perlahan namun pasti dia mengerahkan semua yang dia mampu untuk kesembuhan Ibunya. Saat itu Dara seakan mendapati setitik cerah ketika kondisi Ibunya berangsur angsur membaik. Walau Ibunya belum bisa berbicara dengan lantang, namun Dara bersyukur untuk tiap suara yang keluar dari mulut Ibunya, walau belum bisa berjalan normal namun dara bersyukur atas pertolongan Tuhan yang memberikan langkah tertatih buat Ibunya.

***Usia kandungan Dara tepat 9 bulan saat Ibunya sudah bisa berjalan tertatih dan sudah bisa berbicara walau belum terlalu jelas. Walau impianya untuk bisa menjalani proses persalinannya ditemani Ibu yang sangat dia sayangi pupus sudah namun Dara tetap berlapang dada. Bukan hanya itu saja, persalinan normal yang sangat dia harapkan terpaksa harus dia simpan dulu dan dengan terpaksa harus menjalani operasi Caesar. Persis tanggal 19 Mei 2011 akhirnya Dara berhasil menjalani operasi Caesar. Bayi dari kandungannya juga berhasil diangkat.

Betapa riuh sorak sorai dan sukacitanya keluarga Dara menerima kabar kalau Dara sudah melahirkan seorang anak laki laki yang tampan dan sehat. Bapak dan Ibu Dara juga dengan buru buru menghubungi penatua dilingkungan rumah tempat mereka tinggal untuk menyampaikan kabar sukacita itu dan tak lupa memberikan beberapa rupiah sebagai ucapan syukur mereka akan berkat Tuhan atas kelahiran cucu yang sudah 13 tahun mereka tunggu tunggu.

Namun sukacita itu memudar dan perlahan luntur saat bayi Dara harus mendapat perawatan intensive karena ada sesuatu yang tidak lazim terjadi pada otak bayinya. Lima hari Dara dan suaminya bertekun dalam doa, begitu juga dengan Opung Doli dan Opung Borunya, Tuanya, dan ketiga Tulangnya yang teramat sangat mengharapkan kesehatan bayi Dara yang belakangan diberi nama Bryan Gabriel”  oleh Tulang dan Akongnya saat dilarikan ke salah satu Rumah Sakit Internasional di Medan.

Pagi di hari kelima sejak Gabriel hadir oleh seizin Tuhan, dan dengan seizin Tuhan pula dia pergi selamanya dalam tidur abadi tanpa Dara pernah menimangnya, tanpa Opungnya pernah menggendongnya, tanpa Tulang yang memberikan dia nama menciumnya hangat.

“Gabriel sudah diambil Tuhan dek, lalu apa yang jadi bagianku?” kata Dara datar saat tangisnya memecah hati Pudan terurai dalam telpon. Pudan terdiam dan tak sanggup berkata sekalipun tidak. “Apa yang harus aku katakan sama mamak dek?, kalau nanti mamak kenapa kenapa karna tau ini gimana?”. Pudan masih terdiam lalu mimirkan sepenggal kata dari mulut Dara, kakak yang sangat dia banggakan dan teramat sangat dia sayangi itu. Pudan benar benar hanya bisa diam bahkan sampai Pudan terbang menuju Medan, lalu terbang lagi menuju Tarutung, berjumpa dengan perempuan biduan pesta itu, perempuan pengerajin ulos dan perempuan tangguh yang telah membuat Pudan berhutang banyak hal dalam hidupnya.

***Pudan hanya bisa terdiam, hantinya ikut bertanya “lalu apa yang jadi bagian Dara yah Tuhan??”.

December 8, 2011 at 3:46 am 6 comments

Tuhan besertamu mamak

oleh: togi tua sianipar

———————-

KUTERBANGKAN anganku jauh menembus kaca bus lalu kemudian menyatu dengan angin dan melayang menuju Sumatera. Siang itu adalah hari yang paling aku benci seumur hidupku. Hari yang memaksaku untuk kembali ke Jakarta dan meninggalkan Mamak yang masih terbaring sakit di sebuah rumah sakit di kota Medan. Betapa aku tak berdaya sedikitpun untuk mencoba berontak dan menolak panggilan kota buas itu. Entah kenapa juga aku harus tunduk lalu kemudian menghampirinya dan menepikan banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar berjumpa denganmu Jakarta.

Andai saja aku masih punya dua pilihan saja kala itu, sudah dengan pasti dan lantang aku menolak saat Jakarta memanggilku pulang. Namun sayang, tak ada yang bisa memberiku satu pilihan lain sajapun tidak ada. Aku harus pulang ke Jakarta untuk bergulat bahkan sesekali jungkir balik untuk mendapatkan materi yang sebenarnya jumlahnya juga tidak cukup membayar keringat dan air mata yang tertumpah saat meraihnya. Aku hanya tidak ingin duduk dalam lamunan dan angan angan kosong kemudian berhenti tanpa berbuat lalu mengeluh tanpa berusaha. Untuk itu hampir enam tahun belakangan aku pasrah diperkosa Jakarta sampai dia puas lalu melepasku. Inilah aku yang sudah hampir enam tahun melacur untukmu Jakarta.

Seketika anganku terhenti saat wajahku ditimpah sinaran mata hari siang saat bus melaju garang, tak terlalu terik namun benci rasa hatiku dibuatnya. Aku galau saat batinku merasa diperkosa banyak hal yang dengan semena mena menelanjangi dan kemudian menodai hati kecilku yang sejatinya tulus namun kini mulai terinfeksi oleh pikiran dan prasangka buruk.

Aku bukan menuntut banyak kala itu, hanya ingin sekali kembali ke Medan untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi merawat Mamak yang masih terbaring lemah di rumah sakit saat aku tinggal pagi hari tadi. Aku hanya ingin ada di sampingnya membelai rambutnya yang sudah mulai memutih, aku hanya ingin menggenggam jemarinya saat kosong yang ada dipikirannya, aku hanya ingin mengajarinya menyebut ”A”, ”B”, ”C” atau bakan sesekali mengajarinya memanggil namaku ”TOGI”. Aku hanya ingin membantunya mengartikan setiap kata yang keluar dari mulutnya walau yang ada hanya kata yang sejujurnya sulit untuk aku mengerti, aku hanya ingin memberinya semangat untuk berusaha mengerakkan kaki dan tanganya lalu kemudian kuberikan dia hadiah ciuman di pipi dan bibirnya yang kering.

Sudah empat belas hari Mamak terbaring di rumah sakit saat aku meninggalkanya untuk pulang ke Jakarta. Persis tanggal empat maret lalu peristiwa pahit itu dimulai.

Saat pagi seperti biasa aku berangkat ke kantor dan kemudian memacu motorku berjelajah di jalan yang panjang berpuluh kilometer jaraknya. Seperti biasa pagi itu aku singgah di kantin kantor untuk sekedar membeli sebungkus nasi goreng lalu kemudian masuk ke ruanganku. Kubuka jaket yang menempel di badanku dan perlahan kukeluarkan telepon genggam yang sengaja kumasukkan di saku jaket. Ada tujuh panggilan tidak terjawab dari ”Dara” kakakku yang tinggal di Tarutung. Seketika saja jantungku berdegup kuat, namun sekali saja lalu kemudian nafasku sulit kutarik. Ada perasaan lain yang tiba tiba membuat aku takut lalu cemas tak terkatakan. Segera kulakukan panggilan balik ke nomor Dara, tak lama teleponku tersambung dan kemudian hanya suara tangisan yang kudengar sambil sesekali berbicara namun terbata bata. Aku panik luar biasa sampai akhirnya aku tau kalau sesuatu telah terjadi dengan Mamak pagi itu. Seketika saja hatiku kosong, pikiranku datar, semua kulit diwajahku seakan mengencang dan mataku kaku tak niat bergerak sedikitpun. Tiba tiba bayang bayang wajah Mamak perempuan yang melahirkan dan membesarkan aku itu datang berbondong bondong di pikiranku. Hatiku remuk seketika itu, seakan aku hampir bertemu dengan ajalku. Lama hatiku kosong melompong, wajahku panas, namun mataku masih tetap kaku. Perih sekali rasanya di palung hatiku terdalam dan perlahan kucoba untuk menarik nafas untuk sekedar memastikan apa peristiwa itu hanya mimpi yang tak jelas arahnya kemana.

Kuteguk air bening dari gelas yang terletak di mejaku, berjalan aku tapi tak tau hendak kemana kaki ini kubawa melangkah. Seketika saja kelopak mataku penuh seakan ingin memuntahkan lahar berkubik kubik saat akhirnya kakiku membawaku menepi ke toilet tak jauh dari mejaku. ”Hatiku remuk yah Tuhan, kenapa ini harus terjadi? Inikah upah atas kebaikan Mamak selama ini?”. Tumpah sudah airmataku berlomba tak terhentikan apapun. Bila saja hatiku dapat kuraih dengan tanganku, sudahlah aku menggenggamnya agar tak jatuh dari tampuknya.

Kembali kuraih HPku untuk kemudian mencoba menelpon keponakanku Carlos yang sudah sejak balita tinggal bersama Mamak. Aku ingin tau cerita yang sebenarnya dan berharap kalau semua itu bohong. Namun ternyata harapku kalah dan kini hatiku meradang menahan sakit yang termat kalau tenyata Mamak benar benar kena stroke.

Andai saja aku tidak menunggu waktu yang cocok dengan suasana hatiku untuk menelponya. Andai saja aku mau menyisihkan waktu bareng satu menit saja saat empat hari sebelum kejadian itu aku berniat menelponya. Andai saja aku…….

Bodohnya aku yang melewatkan empat hari berturut turut tanpa menelponya dan menanyakan kabarnya seperti yang biasa aku lakukan sebelumnya.

Dan sekarang pada siapa aku harus menyesali kebodohanku yang sudah empat hari terakhir tidak memanggilnya dari balik telepon persegi itu. Aku hanya ingin mendengar suaranya menyebut namaku ”Togi” atau bertanya ”Apa kabar?”.

Aku ingin sekali membunuh nyawaku saat kutau Mamak saat itu sudah tidak dapat lagi berkata kata, saat kutau Mamak sudah tidak dapat lagi berdiri, saat kutau Mamak sudah tidak dapat lagi menggerakkan kaki dan tangan kanannya. Bisik hatiku sendu persis dikedua daun telingaku ”Kisahmu sudah berakhir togi, maka nikmatilah mimpi dan angan anganmu yang tolol itu, karna semua itu sudah tak ada artinya lagi”.

Saat hatiku sudah tercabik cabik, saat pikiranku datar dan saat lututku terasa tak kuat lagi menopang badanku. Kembali aku membayangkan wajah Mamak.

Mamak bagian terpenting dalam hidupku, Mamak adalah alasan untuk aku bertahan hidup sampai saat ini, Mamak adalah penawar lara hatiku, Mamak adalah satu satunya sosok yang kucintai teramat sangat hampir sejajar dengan Tuhanku. Mamak adalah jiwaku dan nafasku. Mamak adalah segalanya buatku.

Sungguh aku tidak sanggup bila harus melihatnya dalam kesulitan dan terjerat oleh penyakit yang merampas bahagianya.

Demi Tuhan aku tidak berdusta apalagi menipu untuk setiap mata dan telinga yang berjumpa denganku. Mamak bagaikan Tuhanku yang selalu ada buatku dalam setiap pinta dan harapku. Sungguh aku tidak ingin menceritakan semua ini, namun aku hanya ingin dunia tau kalau tidak banyak Mamak di muka bumi ini sanggup bersaing dengan Mamakku yang hati dan jiwanya melebihi perempuan dari dunia manapun. Belum juga perempuan bertitel pahlawan sanggup mengalahkan rasa banggaku akan Mamak.

Dia yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan ribuan cerita tersusun rapih dalam sebuah buku yang kuletakkan di hatiku agar tak dapat dicuri siapapun. Dia yang sanggup mendustai mulut, mata bahkan perutnya hanya untuk anak anaknya. Dia yang sanggup menghapus keringatnya dan air matanya dengan senyum, walau kutau hatinya menjerit perih.

Mamak….!!!, rindu sekali rasanya aku mendengar suaramu merabah gendang telingaku lalu hatiku teduh dan tentram karnanya.

Dua minggu sudah aku menghabiskan waktu denganmu. Lalu lima hari diantaranya kau diam berbaring di ruang ICU dan memberiku banyak waktu untuk menumpahkan air mataku agar tak terlihat olehmu. Maka basah kelopak mataku dan tirisan air yang tak sengaja jatuh dipipimu saat aku menciummu, itupun tak kau tau.

Andai saja aku bukan terlahir olehmu, maka sudahlah aku mencari Tuhan lain lalu mengadu kepadanya. Namun nasihat dan petuah yang kau tanamkan buatku sejak kau mengenalkan Allahmu kepadaku, maka aku juga mengenalNYA dan percaya kepadaNYA.

Untuk itu dua minggu kita bertekun bersama dalam doa dan harap. Bahwa sejatinya tidak ada usaha yang sia sia dihadapan Tuhan.

Kemudian perlahan DIA mengembalikan suaramu, gerak di kaki dan tanganmu. Dan perlahan namun pasti aku yakin Mamak akan sembuh dan pulih oleh pertolongan Tuhanku.

Mamak…., bila untuk banyak hal hati dan mulutku sanggup berdusta. Namun untukmu kutak sanggup melakukannya. Maka itu pagi disaat pesawat yang akan membawaku terbang kembali ke Jakarta menungguku, kubisikkan ditelingamu ”Ganjang ma umurmu dah Mak, dang tolap au dope tading so marina, pos roham na lehonon ni Tuhan hamamalum tu Mamak dah”. Lalu bahagia rasa hatiku saat kau membalasku dengan senyum untuk membuatku yakin walau tidak terlalu jelas ucapanmu namun hatiku mengerti ”olo pudan naburju”.

Tidak lupa kita menyanyikan lagu kesayangan kita yang sudah kau ajarkan hampir dua puluh enam tahun yang lalu:

“Tuhan Debata sai ramotima,

Daging dohot tondi nami,

Ido pangidoan nami,

Sai pahipas be,

Hami on sude.”

God bless you Mamak, Bapak, Abang, Kakak dan semua keponakanku.

***Senang rasanya kalau sekarang kondisi Mamak sudah makin membaik, dan kini sudah dirawat di rumah untuk selanjutnya terapi rutin.

Semangat Mak’eeeeeeeee…….

Untukmu yang masih punya waktu bersama sama untuk membahagiakan orang tuamu, maka lakukanlah dini, tak perlu menunda nunda waktu.

Anyway terima kasih buat semua teman temanku yang sudah memberikan dukungan dan semangat untuk kesembuhan Mamakku, buat teman teman Alumni del yang sudah datang berkunjung ke RS Adam Malik Medan, buat teman teman SMA dulu dan buat semua doa dari semua teman teman sekantor.

December 8, 2011 at 3:45 am Leave a comment

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia

oleh: togi tua sianipar

AYAHKU adalah ayah juara satu sedunia,

Kalimat ini kudapat saat menonton film Sang Pemimpi dari novel penulis kondang Andrea Hirata yang tayang di RCTI sore tadi.

Tak berbeda denganku, aku juga merasa kalau ayahku adalah ayah juara satu sedunia. Bukan itu saja, ibuku juga ibu juara satu sedunia. Aku yakin kalau semua orang akan mengakui ungkapan itu, tidak akan ada anak yang menempatkan orang tuanya di ranking kedua atau mungkin ketiga.

Sejatinya bapak dan ibuku adalah orang yang aku kagumi dengan luar biasa sebagai Tuhan yang hidup di bumi ini buatku. Sunggu beruntung rasanya aku memiliki orang tua seperti mereka.

Bukan juga aku sudah meraih sukses yang luar biasa layaknya Andrea Hirata lalu kemudian mengagumi orang tuanya dalam sebuah novel debutnya. Namun aku yakin kalau bapak dan ibuku juga sangat membanggakan aku sebagai anak mereka yang lahir dari buah cintanya.

BAPAK, begitu aku memanggilnya setiap hari. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil saat aku mengenalnya. Lalu kemudian dengan apa yang dia punya berusaha keras membahagiakan istri dan kelima anaknya. Berjiwa besar, bijaksana dan penyabar adalah sifat yang dia punya lalu mencoba menularkannya pada anak anaknya. Hidup sederhana bukanlah tabuh buatnya, namun menjadi hakikat yang dia syukuri pada Tuhannya.

Upah yang dia dapatkan juga masih jauh dari cukup, namun dia tidak pernah menyerah pada hidup. Tidak juga dia mau menjatuhkan harga dirinya dalam kemelut jalan sesat untuk ikut menikmati uang yang bukan haknya seperti kebanyakan teman teman seprofesinya dulu. Hidup tidak melulu soal uang, tapi juga bagaimana mempertanggung jawabkannya kelak dihadapan Tuhan. Begitu dia berpesan tiap kali memberi petuah bagi kami anak anaknya.

Namun walaupun demikian, tidak juga dia terhenti dibaris belakang untuk berbagi kasih buat keluarganya bahkan kepada tetangganya. Bangga rasanya mulutku berucap bila mana aku diminta untuk memperkenalkan dia sebagai bapakku saat orang menanyakan identitasku. Persis seperti bapaknya Ikal, bapakku juga tidak pernah absen untuk mengambil Raportku dulu. Walau aku bukan murid juara satu di kelas, namun bapakku selalu menjadikan aku sebagai anak juara satu sedunia. Tidak juga dia selalu memberiku banyak uang untuk setiap ranking kelas dan nilai raportku yang bagus. Namun nasehat dan wejangannya selalu jadi hadiah yang tak ternilai buatku untuk selalu tegar dan berusaha lebih keras lagi dalam meraih mimpi. Menonton Naga Bodar, G 30 SPKI dan film film lainya di bioskop sudahlah cukup buatku sebagai bukti kalau dia juga berusaha memanjakanku seperti kebanyakan anak anak seusiaku dulu. Tidak sekalipun dia pernah membelikanku baju baru, namun bukan karna dia pelit atau tidak ingin melakukanya. Tapi lebih karna kondisi yang tidak mendukungnya untuk melakukanya kala itu.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, dia yang mengajarkanku bagaimana datang kepada Tuhan lalu meminta dengan kerendahan hati. Bagaimana bersykur saat ada nikmat yang datang menghampiri dan bagaimana menghentikan mata bergerak saat pedih dan sedih hadir agar tak setitikpun air mata tertumpah. “Jadilah kuat lalu bangun saat kau jatuh dan berdiri untuk melanjutkan langkah” begitulah dia mengingatkanku disaat lara menghantam.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, itu terbukti saat dulu berbulan bulan lamanya dia memelihara beberapa ekor ternaknya hanya untuk memenuhi janjinya membelikanku sepeda federal keluaran baru bila mana aku bisa mengajaknya berdamping di halaman sekolah saat nama murid berprestasi dipanggilkan di ke depan barisan. Lalu saat keberuntungan itu menjauh darinya, ketika seminggu sebelum pembagian raportku, kemudian ternak yang dia pelihara mati karna sakit musiman yang melanda. Namun bukanlah bapakku bila janji takpunya harga dan dengan gampang melupakanya. Tidak juga ada gurat sedih dan putus asah di wajahnya yang tampan dulu. Persis setelah aku berhasil mengajaknya berdamping riang di halaman sekolah kemudian dia mengajakku ke toko sepeda ternama di kotaku. Masih juga aku mengingat dia mengeluarkan uang seratus lima belas ribu rupiah untuk harga sepeda biru bergagang lurus yang dia belikan buatku. Lama aku berusaha untuk mencari tau dari mana bapak mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah janji. Dan sampai sekarang dia masih menyimpan rahasia itu lalu memilih tersenyum tiap kali aku mengajaknya bernostalgia tentang sepeda itu.

Bahagiaku memilikinya setia menemaniku setiap tahun merayakan indahnya Natal di masa kecilku. Dengan kemejanya yang selalu terlihat rapih walau sudah bertahun tahun dimilikinya, dia selalu ada buatku berdiri di depan kursi gereja menyaksikanku melafalkan ayat ayat alkitab lalu kemudian mengambilkan foto terbaik dengan kamera analog yang dulu dibelinya merekam moment sidi abang tertuaku.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, yang tidak sekalipun pulang dari suatu tempat tanpa membawakan oleh oleh buat keluarganya. Bukan juga oleh oleh mewah bernilai mahal, hanya sebungkus biskuit kacang atau mungkin hanya sebungkus pisang goreng panas sebagai senjata ampuhnya membangunkan anak anaknya bila sudah tertidur karna larut menantinya dalam malam. Sungguh aku mencintainya mengalahkan cintaku pada ragaku yang terbentuk olehnya. Dia yang selalu hadir pada setiap moment istimewa anak anaknya, lalu dengan senyum dan ketulusan hatinya memberi ketenangan buatku. Keras dan tegas yang bercampur dalam sifat dan karakternya tidak lantas membuatku merasa takut padanya. Tapi dengan begitu memberi peluang buatku belajar bagaimana hidup berdemokrasi.

Hanya satu yang tak pernah tampak dimataku tentang dia. Yahhh…, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menitikkan air mata dalam kondisi seberat apapapun. Kemarin saat sebulan yang lalu aku bertemu denganya, dia hampir kalah dalam tangis lalu kemudian memelukku saat aku akan kembali bertarung dan bergulat dengan buasnya Jakarta yang sama sekali tidak sedikitpun menarik hasratnya untuk menginjakkan kakinya di ibukota negara ini.

Tuhan menyertaimu bapakku dan mamakku tercinta, Kalian adalah orang tua juara satu sedunia. Maka terpujilah Tuhanku yang telah menghadirkan cinta tanpa harus dibeli. Karena dengan begitu rupiah bukanlah harga mati untuk sebuah bahagia. Semoga Tuhan memberkati bapak dan mamakku, memberi umur yang panjang, kesehatan dan bahagia. Biar kelak saat sukses itu tiba, mimpiku untuk menggajaknya berkeliling dunia menjadi nyata walau aku tak sehebat Andrea Hirata.

December 8, 2011 at 3:44 am Leave a comment

Older Posts


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Recent Posts

Calendar

September 2016
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Visitor

  • 27,366 visitor

Top Clicks

  • None