Archive for December, 2011

Lalu apa yang jadi bagian Dara??

Oleh: togi tua sianipar

————————-

SUARA musik bertalu talu saat Dara perempuan bersuara merdu itu melantunkan lagu untuk yang kesekian kalinya. Profesi sebagai biduan pesta kerap dia lakoni hanya untuk mendapatkan tambahan pundi pundi yang harus dia kumpulkan untuk bisa dia pakai melunasi biaya kuliah Pudan adik bungsunya yang sangat dia sayangi dan dia banggakan teramat sangat. Dara memang sudah mantap dengan keputusanya untuk tidak pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan rumahnya di kampung. Dia lebih memilih membantu Ibunya meneruskan usaha Ulos yang sudah sejak dia lahir dikerjakan Ibunya. Lalu sesekali dia menerima tawaran sebagai biduan pesta untuk mengisi waktu luangnya dan demi menambah pendapatannya.

Bertahun tahun dia menjalani profesi itu walau dia tau persis kalau semua materi yang dia dapatkan tidak akan pernah menjadi bagiannya. Dia juga harus kerja keras untuk membiaya sekolah kedua paramannya (anak abang tertuanya) yang tinggal bersamannya saat abang tertuanya itu menderita sakit yang cukup serius.

Yah.. Dara adalah sosok perempuan tangguh hampir sama dengan Ibu yang melahirkannya. Tanpa banyak mengeluh dan dengan sukacita dia menjalani hari harinya seakan itu dijadikannya takdir yang harus dia pikul. Bila saat itu perempuan seusianya sudah memilih untuk menikah dan berkeluarga, namun berbeda dengan Dara yang sudah empat kali menolak lamaran beberapa lelaki yang berniat untuk mempersuntingnya sebagai istri. Tidak juga Dara perempuan yang susah untuk diajak bernegosiasi atau bukan juga dia perempuan dengan segudang kriteria dalam memilih suami. Dara hanya merasa kalau waktu itu belum tepat untuk dia menjalani sebuah pernikahan. Dia masih ingin tetap fokus membantu adik bungsunya menyelesaikan kuliah, membantu biaya sekolah kedua paramannya, membantu dan mememani Ibunya yang sangat dia sayangi.

Usia Dara genap 26 tahun saat dia berhasil menamatkan kuliah adik bungsunya. Tapi Dara masih memilih untuk fokus membantu keluarganya lalu dengan pasti dia memilih untuk tidak menerima lamaran paribannya yang sudah dengan banyak cara diyakinkan orang tuanya agar Dara tidak menolak lamaran itu. Dara hanya tersenyum lalu tanpa basa basi dia berkata “Biarlah aku bantu mamak dan Bapak dulu, kalau Tuhan sudah berkehendak, jodoh itu akan datang dengan sendirinya”. Orang tuanya tak habis pikir akan pola pikir Dara yang dirasa sudah berlebihan. Bukan juga Dara jadi satu satunya sumber pencaharian untuk keluarga. Walau hanya pensiunan pegawai negeri berpangkat rendah, namun Bapak Dara masih bisa mengantongi sedikit rupiah setiap bulannya. Ibunya juga masih tetap menjual Ulos tenunan yang dikerjakan sendiri atau menadah Ulos dari pengerajin di kampung dan memasarkanya kebeberapa penadah dari beberbagai kota bahkan sesekali mengirimkanya ke luar negeri.

Pudan juga kerap kali meminta Dara untuk lebih serius memikirkan pasangan hidupnya kelak. Pudan hanya tak mau kalau Dara akan terlelap dalam ambisinya yang terlalu berlebihan untuk membahagiakan Bapak dan Ibunya. Lagi pula saat itu Pudan sudah bekerja di Jakarta dan sudah bisa menggantikan posisi Dara untuk membantu Bapak dan Ibunya di kampung, bahkan untuk biaya sekolah kedua keponakannya, itupun Pudan sudah menyanggupi. Namun percuma saja, Dara tetap konsisten pada keputusanya kalau waktunya masih belum tepat untuk menikah lalu meninggalkan keluarganya di kampung.

***Usia Dara genap 30 tahun saat Dara akhirnya bersedia menerima lamaran dari seorang lelaki berdarah Tionghoa. Betapa bahagia dan sukacitanya keluarganya saat tau Dara sudah tidak lagi diam dalam prinsip hidupnya yang dirasa jadi beban pikiran kedua orang tuanya kala itu. Tidak tanggung, Dara menyampaikan beberapa permohonan buat lelaki bermata sipit itu agar dia mau untuk di persunting. Dara hanya ingin tidak ada kecewa di mata orang tuanya yang sudah sangat mengharapkan pernikahannya bisa digelar. Lelaki berkulit putih itu dimintanya untuk membayar adat penuh dengan terlebih dahulu membeli marga lalu dengan begitu Dara akan dengan mantap menerima pinangannya. Ternyata bukanlah hal yang terlalu sulit bagi lelaki itu untuk memenuhi permintaan Dara. Sampai akhirnya prosesi pernikahan dan adat berlangsung lancar.

Dara akhirnya meninggalkan rumah orang tuanya dan harus ikut bersama suaminya tinggal di rumah sederhana yang sengaja dibangun suaminya sebelum mereka menikah. Beruntung rasannya Dara tidak terpisah oleh jarak yang terlalu jauh dengan Bapak, Ibu dan keluarganya karna Dara dan suaminya juga tinggal dalam kota yang sama dengan mereka. Dua bulan setelah pernikahannya dan oleh seizin Tuhan, akhirnya Dara mengandung anak pertamanya. Betapa kabar ini membawa sukacita yang luar biasa bagi keluarganya. Bagaimana tidak? ini adalah saat yang telah lama ditunggu tunggu oleh keluarga Dara, terlebih kedua orang tua Dara yang sudah sangat ingin sekali menimang cucu buah pernikahan anak perempuannya. Dara adalah anak perempuan kedua dari keluarganya. Kakak perempuannya yang sudah 13 tahun menikah belum juga dikaruniai keturunan oleh Tuhan. Itu yang membuat kehamilan Dara menjadi sebuah berkat yang luar biasa bagi keluarganya. Persis diusia tujuh bulan kanduangannya, Dara dan Ibunya mempersiapkan berbagai macam kebutuhan Dara. Mulai dari popok bayi, box bayi dan masih banyak lagi. Sama halnya dengan kebanyakan perempuan yang mengandung yang dalam waktu dekat akan melahirkan. Saat itu Dara juga berpesan pada Ibunya kalau kelak saat dia melahirkan, Ibunya yang sangat dia sayangi itu ada disampingnya menemani proses persalinannya.

Tidak juga harapan dan mimpi Dara bersetuju dengan rencana Tuhannya, selang beberapa minggu sejak Dara dan Ibunya mempersiapkan kebutuhan calon bayinya, peristiwa pahit harus bisa ditelan Dara. Peristiwa yang benar benar melululantahkan harapannya saat Ibu yang sangat dia sayangi itu terkena stroke dan harus dirawat berminggu minggu di Rumah Sakit. Betapa hati Dara remuk saat tau kalau Ibu yang teramat sangat dia sayangi itu terbaring lemah bahkan lumpuh kala itu. Dara hanya bisa meratap lalu sesekali dia bercerita kepada Pudan adik bungsunya yang secara ikatan batin sangat dekat dengannya. Akhirnya Dara berusaha tegar dan bangkit, dengan segera Dara berbenah diri dan dengan perlahan namun pasti dia mengerahkan semua yang dia mampu untuk kesembuhan Ibunya. Saat itu Dara seakan mendapati setitik cerah ketika kondisi Ibunya berangsur angsur membaik. Walau Ibunya belum bisa berbicara dengan lantang, namun Dara bersyukur untuk tiap suara yang keluar dari mulut Ibunya, walau belum bisa berjalan normal namun dara bersyukur atas pertolongan Tuhan yang memberikan langkah tertatih buat Ibunya.

***Usia kandungan Dara tepat 9 bulan saat Ibunya sudah bisa berjalan tertatih dan sudah bisa berbicara walau belum terlalu jelas. Walau impianya untuk bisa menjalani proses persalinannya ditemani Ibu yang sangat dia sayangi pupus sudah namun Dara tetap berlapang dada. Bukan hanya itu saja, persalinan normal yang sangat dia harapkan terpaksa harus dia simpan dulu dan dengan terpaksa harus menjalani operasi Caesar. Persis tanggal 19 Mei 2011 akhirnya Dara berhasil menjalani operasi Caesar. Bayi dari kandungannya juga berhasil diangkat.

Betapa riuh sorak sorai dan sukacitanya keluarga Dara menerima kabar kalau Dara sudah melahirkan seorang anak laki laki yang tampan dan sehat. Bapak dan Ibu Dara juga dengan buru buru menghubungi penatua dilingkungan rumah tempat mereka tinggal untuk menyampaikan kabar sukacita itu dan tak lupa memberikan beberapa rupiah sebagai ucapan syukur mereka akan berkat Tuhan atas kelahiran cucu yang sudah 13 tahun mereka tunggu tunggu.

Namun sukacita itu memudar dan perlahan luntur saat bayi Dara harus mendapat perawatan intensive karena ada sesuatu yang tidak lazim terjadi pada otak bayinya. Lima hari Dara dan suaminya bertekun dalam doa, begitu juga dengan Opung Doli dan Opung Borunya, Tuanya, dan ketiga Tulangnya yang teramat sangat mengharapkan kesehatan bayi Dara yang belakangan diberi nama Bryan Gabriel”  oleh Tulang dan Akongnya saat dilarikan ke salah satu Rumah Sakit Internasional di Medan.

Pagi di hari kelima sejak Gabriel hadir oleh seizin Tuhan, dan dengan seizin Tuhan pula dia pergi selamanya dalam tidur abadi tanpa Dara pernah menimangnya, tanpa Opungnya pernah menggendongnya, tanpa Tulang yang memberikan dia nama menciumnya hangat.

“Gabriel sudah diambil Tuhan dek, lalu apa yang jadi bagianku?” kata Dara datar saat tangisnya memecah hati Pudan terurai dalam telpon. Pudan terdiam dan tak sanggup berkata sekalipun tidak. “Apa yang harus aku katakan sama mamak dek?, kalau nanti mamak kenapa kenapa karna tau ini gimana?”. Pudan masih terdiam lalu mimirkan sepenggal kata dari mulut Dara, kakak yang sangat dia banggakan dan teramat sangat dia sayangi itu. Pudan benar benar hanya bisa diam bahkan sampai Pudan terbang menuju Medan, lalu terbang lagi menuju Tarutung, berjumpa dengan perempuan biduan pesta itu, perempuan pengerajin ulos dan perempuan tangguh yang telah membuat Pudan berhutang banyak hal dalam hidupnya.

***Pudan hanya bisa terdiam, hantinya ikut bertanya “lalu apa yang jadi bagian Dara yah Tuhan??”.

December 8, 2011 at 3:46 am 6 comments

Tuhan besertamu mamak

oleh: togi tua sianipar

———————-

KUTERBANGKAN anganku jauh menembus kaca bus lalu kemudian menyatu dengan angin dan melayang menuju Sumatera. Siang itu adalah hari yang paling aku benci seumur hidupku. Hari yang memaksaku untuk kembali ke Jakarta dan meninggalkan Mamak yang masih terbaring sakit di sebuah rumah sakit di kota Medan. Betapa aku tak berdaya sedikitpun untuk mencoba berontak dan menolak panggilan kota buas itu. Entah kenapa juga aku harus tunduk lalu kemudian menghampirinya dan menepikan banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar berjumpa denganmu Jakarta.

Andai saja aku masih punya dua pilihan saja kala itu, sudah dengan pasti dan lantang aku menolak saat Jakarta memanggilku pulang. Namun sayang, tak ada yang bisa memberiku satu pilihan lain sajapun tidak ada. Aku harus pulang ke Jakarta untuk bergulat bahkan sesekali jungkir balik untuk mendapatkan materi yang sebenarnya jumlahnya juga tidak cukup membayar keringat dan air mata yang tertumpah saat meraihnya. Aku hanya tidak ingin duduk dalam lamunan dan angan angan kosong kemudian berhenti tanpa berbuat lalu mengeluh tanpa berusaha. Untuk itu hampir enam tahun belakangan aku pasrah diperkosa Jakarta sampai dia puas lalu melepasku. Inilah aku yang sudah hampir enam tahun melacur untukmu Jakarta.

Seketika anganku terhenti saat wajahku ditimpah sinaran mata hari siang saat bus melaju garang, tak terlalu terik namun benci rasa hatiku dibuatnya. Aku galau saat batinku merasa diperkosa banyak hal yang dengan semena mena menelanjangi dan kemudian menodai hati kecilku yang sejatinya tulus namun kini mulai terinfeksi oleh pikiran dan prasangka buruk.

Aku bukan menuntut banyak kala itu, hanya ingin sekali kembali ke Medan untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi merawat Mamak yang masih terbaring lemah di rumah sakit saat aku tinggal pagi hari tadi. Aku hanya ingin ada di sampingnya membelai rambutnya yang sudah mulai memutih, aku hanya ingin menggenggam jemarinya saat kosong yang ada dipikirannya, aku hanya ingin mengajarinya menyebut ”A”, ”B”, ”C” atau bakan sesekali mengajarinya memanggil namaku ”TOGI”. Aku hanya ingin membantunya mengartikan setiap kata yang keluar dari mulutnya walau yang ada hanya kata yang sejujurnya sulit untuk aku mengerti, aku hanya ingin memberinya semangat untuk berusaha mengerakkan kaki dan tanganya lalu kemudian kuberikan dia hadiah ciuman di pipi dan bibirnya yang kering.

Sudah empat belas hari Mamak terbaring di rumah sakit saat aku meninggalkanya untuk pulang ke Jakarta. Persis tanggal empat maret lalu peristiwa pahit itu dimulai.

Saat pagi seperti biasa aku berangkat ke kantor dan kemudian memacu motorku berjelajah di jalan yang panjang berpuluh kilometer jaraknya. Seperti biasa pagi itu aku singgah di kantin kantor untuk sekedar membeli sebungkus nasi goreng lalu kemudian masuk ke ruanganku. Kubuka jaket yang menempel di badanku dan perlahan kukeluarkan telepon genggam yang sengaja kumasukkan di saku jaket. Ada tujuh panggilan tidak terjawab dari ”Dara” kakakku yang tinggal di Tarutung. Seketika saja jantungku berdegup kuat, namun sekali saja lalu kemudian nafasku sulit kutarik. Ada perasaan lain yang tiba tiba membuat aku takut lalu cemas tak terkatakan. Segera kulakukan panggilan balik ke nomor Dara, tak lama teleponku tersambung dan kemudian hanya suara tangisan yang kudengar sambil sesekali berbicara namun terbata bata. Aku panik luar biasa sampai akhirnya aku tau kalau sesuatu telah terjadi dengan Mamak pagi itu. Seketika saja hatiku kosong, pikiranku datar, semua kulit diwajahku seakan mengencang dan mataku kaku tak niat bergerak sedikitpun. Tiba tiba bayang bayang wajah Mamak perempuan yang melahirkan dan membesarkan aku itu datang berbondong bondong di pikiranku. Hatiku remuk seketika itu, seakan aku hampir bertemu dengan ajalku. Lama hatiku kosong melompong, wajahku panas, namun mataku masih tetap kaku. Perih sekali rasanya di palung hatiku terdalam dan perlahan kucoba untuk menarik nafas untuk sekedar memastikan apa peristiwa itu hanya mimpi yang tak jelas arahnya kemana.

Kuteguk air bening dari gelas yang terletak di mejaku, berjalan aku tapi tak tau hendak kemana kaki ini kubawa melangkah. Seketika saja kelopak mataku penuh seakan ingin memuntahkan lahar berkubik kubik saat akhirnya kakiku membawaku menepi ke toilet tak jauh dari mejaku. ”Hatiku remuk yah Tuhan, kenapa ini harus terjadi? Inikah upah atas kebaikan Mamak selama ini?”. Tumpah sudah airmataku berlomba tak terhentikan apapun. Bila saja hatiku dapat kuraih dengan tanganku, sudahlah aku menggenggamnya agar tak jatuh dari tampuknya.

Kembali kuraih HPku untuk kemudian mencoba menelpon keponakanku Carlos yang sudah sejak balita tinggal bersama Mamak. Aku ingin tau cerita yang sebenarnya dan berharap kalau semua itu bohong. Namun ternyata harapku kalah dan kini hatiku meradang menahan sakit yang termat kalau tenyata Mamak benar benar kena stroke.

Andai saja aku tidak menunggu waktu yang cocok dengan suasana hatiku untuk menelponya. Andai saja aku mau menyisihkan waktu bareng satu menit saja saat empat hari sebelum kejadian itu aku berniat menelponya. Andai saja aku…….

Bodohnya aku yang melewatkan empat hari berturut turut tanpa menelponya dan menanyakan kabarnya seperti yang biasa aku lakukan sebelumnya.

Dan sekarang pada siapa aku harus menyesali kebodohanku yang sudah empat hari terakhir tidak memanggilnya dari balik telepon persegi itu. Aku hanya ingin mendengar suaranya menyebut namaku ”Togi” atau bertanya ”Apa kabar?”.

Aku ingin sekali membunuh nyawaku saat kutau Mamak saat itu sudah tidak dapat lagi berkata kata, saat kutau Mamak sudah tidak dapat lagi berdiri, saat kutau Mamak sudah tidak dapat lagi menggerakkan kaki dan tangan kanannya. Bisik hatiku sendu persis dikedua daun telingaku ”Kisahmu sudah berakhir togi, maka nikmatilah mimpi dan angan anganmu yang tolol itu, karna semua itu sudah tak ada artinya lagi”.

Saat hatiku sudah tercabik cabik, saat pikiranku datar dan saat lututku terasa tak kuat lagi menopang badanku. Kembali aku membayangkan wajah Mamak.

Mamak bagian terpenting dalam hidupku, Mamak adalah alasan untuk aku bertahan hidup sampai saat ini, Mamak adalah penawar lara hatiku, Mamak adalah satu satunya sosok yang kucintai teramat sangat hampir sejajar dengan Tuhanku. Mamak adalah jiwaku dan nafasku. Mamak adalah segalanya buatku.

Sungguh aku tidak sanggup bila harus melihatnya dalam kesulitan dan terjerat oleh penyakit yang merampas bahagianya.

Demi Tuhan aku tidak berdusta apalagi menipu untuk setiap mata dan telinga yang berjumpa denganku. Mamak bagaikan Tuhanku yang selalu ada buatku dalam setiap pinta dan harapku. Sungguh aku tidak ingin menceritakan semua ini, namun aku hanya ingin dunia tau kalau tidak banyak Mamak di muka bumi ini sanggup bersaing dengan Mamakku yang hati dan jiwanya melebihi perempuan dari dunia manapun. Belum juga perempuan bertitel pahlawan sanggup mengalahkan rasa banggaku akan Mamak.

Dia yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan ribuan cerita tersusun rapih dalam sebuah buku yang kuletakkan di hatiku agar tak dapat dicuri siapapun. Dia yang sanggup mendustai mulut, mata bahkan perutnya hanya untuk anak anaknya. Dia yang sanggup menghapus keringatnya dan air matanya dengan senyum, walau kutau hatinya menjerit perih.

Mamak….!!!, rindu sekali rasanya aku mendengar suaramu merabah gendang telingaku lalu hatiku teduh dan tentram karnanya.

Dua minggu sudah aku menghabiskan waktu denganmu. Lalu lima hari diantaranya kau diam berbaring di ruang ICU dan memberiku banyak waktu untuk menumpahkan air mataku agar tak terlihat olehmu. Maka basah kelopak mataku dan tirisan air yang tak sengaja jatuh dipipimu saat aku menciummu, itupun tak kau tau.

Andai saja aku bukan terlahir olehmu, maka sudahlah aku mencari Tuhan lain lalu mengadu kepadanya. Namun nasihat dan petuah yang kau tanamkan buatku sejak kau mengenalkan Allahmu kepadaku, maka aku juga mengenalNYA dan percaya kepadaNYA.

Untuk itu dua minggu kita bertekun bersama dalam doa dan harap. Bahwa sejatinya tidak ada usaha yang sia sia dihadapan Tuhan.

Kemudian perlahan DIA mengembalikan suaramu, gerak di kaki dan tanganmu. Dan perlahan namun pasti aku yakin Mamak akan sembuh dan pulih oleh pertolongan Tuhanku.

Mamak…., bila untuk banyak hal hati dan mulutku sanggup berdusta. Namun untukmu kutak sanggup melakukannya. Maka itu pagi disaat pesawat yang akan membawaku terbang kembali ke Jakarta menungguku, kubisikkan ditelingamu ”Ganjang ma umurmu dah Mak, dang tolap au dope tading so marina, pos roham na lehonon ni Tuhan hamamalum tu Mamak dah”. Lalu bahagia rasa hatiku saat kau membalasku dengan senyum untuk membuatku yakin walau tidak terlalu jelas ucapanmu namun hatiku mengerti ”olo pudan naburju”.

Tidak lupa kita menyanyikan lagu kesayangan kita yang sudah kau ajarkan hampir dua puluh enam tahun yang lalu:

“Tuhan Debata sai ramotima,

Daging dohot tondi nami,

Ido pangidoan nami,

Sai pahipas be,

Hami on sude.”

God bless you Mamak, Bapak, Abang, Kakak dan semua keponakanku.

***Senang rasanya kalau sekarang kondisi Mamak sudah makin membaik, dan kini sudah dirawat di rumah untuk selanjutnya terapi rutin.

Semangat Mak’eeeeeeeee…….

Untukmu yang masih punya waktu bersama sama untuk membahagiakan orang tuamu, maka lakukanlah dini, tak perlu menunda nunda waktu.

Anyway terima kasih buat semua teman temanku yang sudah memberikan dukungan dan semangat untuk kesembuhan Mamakku, buat teman teman Alumni del yang sudah datang berkunjung ke RS Adam Malik Medan, buat teman teman SMA dulu dan buat semua doa dari semua teman teman sekantor.

December 8, 2011 at 3:45 am Leave a comment

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia

oleh: togi tua sianipar

AYAHKU adalah ayah juara satu sedunia,

Kalimat ini kudapat saat menonton film Sang Pemimpi dari novel penulis kondang Andrea Hirata yang tayang di RCTI sore tadi.

Tak berbeda denganku, aku juga merasa kalau ayahku adalah ayah juara satu sedunia. Bukan itu saja, ibuku juga ibu juara satu sedunia. Aku yakin kalau semua orang akan mengakui ungkapan itu, tidak akan ada anak yang menempatkan orang tuanya di ranking kedua atau mungkin ketiga.

Sejatinya bapak dan ibuku adalah orang yang aku kagumi dengan luar biasa sebagai Tuhan yang hidup di bumi ini buatku. Sunggu beruntung rasanya aku memiliki orang tua seperti mereka.

Bukan juga aku sudah meraih sukses yang luar biasa layaknya Andrea Hirata lalu kemudian mengagumi orang tuanya dalam sebuah novel debutnya. Namun aku yakin kalau bapak dan ibuku juga sangat membanggakan aku sebagai anak mereka yang lahir dari buah cintanya.

BAPAK, begitu aku memanggilnya setiap hari. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil saat aku mengenalnya. Lalu kemudian dengan apa yang dia punya berusaha keras membahagiakan istri dan kelima anaknya. Berjiwa besar, bijaksana dan penyabar adalah sifat yang dia punya lalu mencoba menularkannya pada anak anaknya. Hidup sederhana bukanlah tabuh buatnya, namun menjadi hakikat yang dia syukuri pada Tuhannya.

Upah yang dia dapatkan juga masih jauh dari cukup, namun dia tidak pernah menyerah pada hidup. Tidak juga dia mau menjatuhkan harga dirinya dalam kemelut jalan sesat untuk ikut menikmati uang yang bukan haknya seperti kebanyakan teman teman seprofesinya dulu. Hidup tidak melulu soal uang, tapi juga bagaimana mempertanggung jawabkannya kelak dihadapan Tuhan. Begitu dia berpesan tiap kali memberi petuah bagi kami anak anaknya.

Namun walaupun demikian, tidak juga dia terhenti dibaris belakang untuk berbagi kasih buat keluarganya bahkan kepada tetangganya. Bangga rasanya mulutku berucap bila mana aku diminta untuk memperkenalkan dia sebagai bapakku saat orang menanyakan identitasku. Persis seperti bapaknya Ikal, bapakku juga tidak pernah absen untuk mengambil Raportku dulu. Walau aku bukan murid juara satu di kelas, namun bapakku selalu menjadikan aku sebagai anak juara satu sedunia. Tidak juga dia selalu memberiku banyak uang untuk setiap ranking kelas dan nilai raportku yang bagus. Namun nasehat dan wejangannya selalu jadi hadiah yang tak ternilai buatku untuk selalu tegar dan berusaha lebih keras lagi dalam meraih mimpi. Menonton Naga Bodar, G 30 SPKI dan film film lainya di bioskop sudahlah cukup buatku sebagai bukti kalau dia juga berusaha memanjakanku seperti kebanyakan anak anak seusiaku dulu. Tidak sekalipun dia pernah membelikanku baju baru, namun bukan karna dia pelit atau tidak ingin melakukanya. Tapi lebih karna kondisi yang tidak mendukungnya untuk melakukanya kala itu.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, dia yang mengajarkanku bagaimana datang kepada Tuhan lalu meminta dengan kerendahan hati. Bagaimana bersykur saat ada nikmat yang datang menghampiri dan bagaimana menghentikan mata bergerak saat pedih dan sedih hadir agar tak setitikpun air mata tertumpah. “Jadilah kuat lalu bangun saat kau jatuh dan berdiri untuk melanjutkan langkah” begitulah dia mengingatkanku disaat lara menghantam.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, itu terbukti saat dulu berbulan bulan lamanya dia memelihara beberapa ekor ternaknya hanya untuk memenuhi janjinya membelikanku sepeda federal keluaran baru bila mana aku bisa mengajaknya berdamping di halaman sekolah saat nama murid berprestasi dipanggilkan di ke depan barisan. Lalu saat keberuntungan itu menjauh darinya, ketika seminggu sebelum pembagian raportku, kemudian ternak yang dia pelihara mati karna sakit musiman yang melanda. Namun bukanlah bapakku bila janji takpunya harga dan dengan gampang melupakanya. Tidak juga ada gurat sedih dan putus asah di wajahnya yang tampan dulu. Persis setelah aku berhasil mengajaknya berdamping riang di halaman sekolah kemudian dia mengajakku ke toko sepeda ternama di kotaku. Masih juga aku mengingat dia mengeluarkan uang seratus lima belas ribu rupiah untuk harga sepeda biru bergagang lurus yang dia belikan buatku. Lama aku berusaha untuk mencari tau dari mana bapak mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah janji. Dan sampai sekarang dia masih menyimpan rahasia itu lalu memilih tersenyum tiap kali aku mengajaknya bernostalgia tentang sepeda itu.

Bahagiaku memilikinya setia menemaniku setiap tahun merayakan indahnya Natal di masa kecilku. Dengan kemejanya yang selalu terlihat rapih walau sudah bertahun tahun dimilikinya, dia selalu ada buatku berdiri di depan kursi gereja menyaksikanku melafalkan ayat ayat alkitab lalu kemudian mengambilkan foto terbaik dengan kamera analog yang dulu dibelinya merekam moment sidi abang tertuaku.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, yang tidak sekalipun pulang dari suatu tempat tanpa membawakan oleh oleh buat keluarganya. Bukan juga oleh oleh mewah bernilai mahal, hanya sebungkus biskuit kacang atau mungkin hanya sebungkus pisang goreng panas sebagai senjata ampuhnya membangunkan anak anaknya bila sudah tertidur karna larut menantinya dalam malam. Sungguh aku mencintainya mengalahkan cintaku pada ragaku yang terbentuk olehnya. Dia yang selalu hadir pada setiap moment istimewa anak anaknya, lalu dengan senyum dan ketulusan hatinya memberi ketenangan buatku. Keras dan tegas yang bercampur dalam sifat dan karakternya tidak lantas membuatku merasa takut padanya. Tapi dengan begitu memberi peluang buatku belajar bagaimana hidup berdemokrasi.

Hanya satu yang tak pernah tampak dimataku tentang dia. Yahhh…, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menitikkan air mata dalam kondisi seberat apapapun. Kemarin saat sebulan yang lalu aku bertemu denganya, dia hampir kalah dalam tangis lalu kemudian memelukku saat aku akan kembali bertarung dan bergulat dengan buasnya Jakarta yang sama sekali tidak sedikitpun menarik hasratnya untuk menginjakkan kakinya di ibukota negara ini.

Tuhan menyertaimu bapakku dan mamakku tercinta, Kalian adalah orang tua juara satu sedunia. Maka terpujilah Tuhanku yang telah menghadirkan cinta tanpa harus dibeli. Karena dengan begitu rupiah bukanlah harga mati untuk sebuah bahagia. Semoga Tuhan memberkati bapak dan mamakku, memberi umur yang panjang, kesehatan dan bahagia. Biar kelak saat sukses itu tiba, mimpiku untuk menggajaknya berkeliling dunia menjadi nyata walau aku tak sehebat Andrea Hirata.

December 8, 2011 at 3:44 am Leave a comment

Lalu bagaimana??

oleh: togi tua sianipar

—————–

bila mana hidup berjalan tidak seperti apa yang kau inginkan, maka ketahuilah bahwa dirimu bukanlah siapa siapa.

lalu bila hatimu gundah gulana kemudian ingin membenturkannya agar remuk dan pecah terurai maka ketahuilah bahwa sejatinya kau tidak pernah berani melakukannya.

lalu batinmu menghujat dan ingin mengakhiri semua impian yang sudah puluhan tahun kau rajut dengan usaha keras, peluh bahkan airmata, maka sadarilah kalau ternyata diriimu yang kau anggap hebat hanya pecundang busuk lalu sesaat lagi akan dilempar ke dalam tong sampah.

lalu matamu terasa panas ingin memuntahkan laharnya, maka lakukanlah sebab tidak seorangpun akan melarangmu meraung dalam cengengmu yang luar biasa itu.

lalu kau akan bertanya “apa yang harus aku lakukan??”, maka lakukanlah semaumu sebab bodohnya dirimu bila saja sampai sekarang kau belum tau mana yang baik dan jahat untuk dirimu.

December 8, 2011 at 3:43 am Leave a comment

Officially missing you.

oleh:  togi tua sianipar.

MASIH kah kau ingat dengan sepasang kaos kaki kado natal dariku sepuluh tahun yang lalu?. Hanya itu yang kupunya dulu buatmu sobatku, karna kau tau persis siapa aku dan bagai mana aku dulu. Bila saja saat ini aku masih bisa bercerita dan berkeluh kesah denganmu seperti dulu kita selalu berbaring menatap langit langit kamar setelah menyelesaikan banyaknya soal soal hitungan, persamaan kuadrat atau bahkan memecahkan rumus kimia dulu. Ketika hanya ada kejujuran dan ketulusan dalam sebuah kisah klasik sahabat karib yang mungkin dulu tidak pernah terpikirkan oleh kita akan berakhir kapan. Aku tak mengerti jelas kenapa dulu kita hanya hanyut dalam warna persahabatan tanpa mau berfikir sedikitpun ke mana kita harus menggantungkan semuanya saat usia beranjak dan saat kau atau aku sudah tua menyatu dengan keluarga masing masing. Mungkin dulu semua terlupakan oleh biusan nada dan lagu bonjovimu yang selalu kau banggakan padaku tanpa sedikitpun memberi aku kesempatan untuk berusaha meyakinkanmu kalau dahsyatnya irama dan syair lagu Billy Gilman kesukaanku jauh lebih hebat dari lagu lagu favoritmu dulu.

ENTAH apa yang membuatku kesetanan menulis semua ini, apa karna aku baru saja mendapati dompet pemberiaanmu terjatuh di korsi teras kosanku. Yah dompet yang sudah setia menempel di bokongku yang gempal sejak sebelas tahun yang lalu kau berikan sebagai kado di hari ulang tahunku.Andai saja kau tau kalau sampai sekarang dua logam pecahan lipa puluh rupiah itu masih ada di dalam dompet hitam yang kini sudah hampir lapuk tapi aku masih tetap suka memakainya.Terkadang juga aku harus dengan susah payah meraih kotak kecil yang selalu kutaruh di atas lemariku hanya untuk sekedar menyalahkan rokokku dengan korek gas kado ulang tahun darimu sejak kau mengawali kuliahmu jauh di pulau yang sekarang jadi tempatku berpijak. Ada sedikit kepuasan bila mana aku membakar rokokku sembari membaca pesan singkat yang kau tuliskan di kertas kecil saat kau mengirimkan kado itu untukku “Dear my best friend, Mulai saat ini kau gak perlu lagi mengantongi sobekan serbuk korek dan dua pentol batang korek api untuk menyalakan rokokmu. Tapi aku gak mau kau merokok terus, kau harus berusaha berhenti gi”, begitu kau berpesan. Inilah saat yang kumaksud dulu, itu yang membuatku selalu menyimpan semua apa yang kau berikan buatku. Karna kutau persis kalau aku akan mengenangmu kini dan mungkin nanti.

ATAU mungkin cerita membawa kabur motor guru pas SMA dulu hanya untuk merasakan nikmatnya semangkok pansit ayam malioboro yang baru buka di seberang toko emas kota tarutung dulu, atau cerita perjuangan menembus hujan hanya untuk menemanimu bertemu perempuan kisah cinta monyetmu dulu, atau mungkin cerita membuat skenario singkat di mikrolet sebelum kita sampai di rumahmu hanya untuk sebuah izin keluar malam dari orangtuamu.Terkadang aku tersenyum bila mengingatmu selalu gagal meyakinkan bapakmu untuk mengizinkanmu menunggangi skuter bututnya dulu. Gagal itu yang membuat kita kadang harus berjalan kaki berkilometer jaraknya untuk bisa pulang ke rumahmu. Capek dan letih memang, tapi seru bila aku mengingat ekpresimu karna rasa takut dan panik berlari di tengah gelapnya malam. Rinduku tak terbendung bila ingat ibumu yang selalu baik untukku. Yang selalu membuatkan masakan istimewa tiap kali aku datang ke rumahmu untuk menyelesaikan tugas tugas di sekolah dulu. Maafkan aku sobat kalau aku sering sekali mengecewakanmu saat kau butuh aku di waktu sulit menerima kenyataan ibumu divonis menderita penyakit gula akut dan membuat beliau harus dirawat berbulan bulan lamanya di rumah sakit. Bahkan aku gak bisa berbuat apa apa saat akhirnya beliau kembali kepangkuan Bapa di sorga waktu aku masih baru menapaki hidup di Jakarta nanbuas. Maaf bila kau juga kecewa ketika aku tidak bisa menghantarmu ke altar saat pemberkatakan pernikahanmu, walau aku tau dulu aku sudah berjanji kepadamu sejak SMA dulu.

SOBATKU, taukah kau bila rapuh hatiku saat ini tak bisa kueratkan lagi agar tak remuk?. Sering sekali aku ingin bercerita banyak denganmu seperti dulu kita selalu berbagi disaat riang atau sedih. Apakah kau tau kalau kemarin hampir saja motorku masuk ke dalam got besar saat aku akan berangkat ke kantor?. Atau apakah kau tau kalau sekarang aku sudah tidak suka lagi dengan rokok Amild yang kau rekomendasikan sebagai rokok yang dampaknya lebih ringan dibanding rokok lainya menurut versimu?. Namun yang pasti kaos biru lengan panjang pemberianmu dulu sudah koyak karna dua hari yang lalu tersangkut di kawat jemuran saat tiba tiba saja hujan lebat megguyur Jakarta sore itu. Mengenangmu sudahlah cukup buatku, walau raga takberhadap, walau mata tak bertatap dan walau handphoneku kini sudah hampir tak pernah mendapati kau berteriak memanggilku atau bahkan tak pernah lagi mendapati pesan singkat yang kau kirimkan buatku. Yang pasti ceritamu akan selalu jadi semangat buatku untuk mengejar sukses yang sudah lebih dulu kau raih dari puncak tempat kita meletakkan semua dulu. Dan lagi belakangan rinduku selalu sukses terobati setiap pagi di kantorku, saat aku bertemu Office Boy yang wajahnya sangat mirip denganmu mangkal di pantri. Itu juga yang membuat aku sering mengingatmu beberapa hari belakangan ini, kalau ternyata wajahmu itu hanya sekelas OB 🙂

** have you took the time to know me and to understand me?

December 8, 2011 at 3:42 am Leave a comment

[KKDH] Melepasmu, perempuanku berambut sebahu

HARI INI, KULEPASKAN KAU DARI HATIKU. Perempuan berambut sebahu yang sempat mengeratkan hatiku agar tak berasa saat mataku terpaut akan sosok lain yang mencoba membiusku. Dan di siang yang cerah seketika lalu mendung beberapa saat kutuliskan semua gundahku.Lagu “listen” nya beyonce sudah puluhan kali kuputar entah sejak berapa jam lalu menemani jemariku yang binal berdansa di atas puluhan tuch notebookku.

Rokokku juga kini hanya tersisa 4 batang dari 20 barisan rapih saat aku membukanya.

Hanya satu harapku “selamatkan hatiku yang telah kau perkosa lalu meradang seakan terjepit dalam sebuah trauma panjang bertahun tahun lamanya”.

Jangan sampai kau menyesal, karena sesal kemudian tiada guna.

Aku bagaikan seorang perjaka disarang penyamun tersamar tak tampak.

Lantas kenapa aku harus takut akan penyamun-penyamun itu?.

Itu yang aku rasakan sejak aku berusaha menggali lubang dalam, lalu mengubur bayangmu walau kutak tau pasti apa sebenarnya aku sanggup??

Entahlah…, hatiku beriak tapi bibirku terpalang seakan tak berpintu.

Hanya bayang-bayang tolol yang muncul, tak terarah dan bahkan semakin merusak tatanan pikiranku. Sesekali mataku mengarah akan binalnya wanita-wanita tak berbusana pada layar persegi di hadapanku. Muak aku melihat mereka menawarkan semua yang mereka punya namun aku tak dapat menjamah.

Gelas bening berbulir dingin bervolume kuteguk namun kerongkonganku masih tetap kering. Kenapa rasaku kosong melompong bagai kepompong ditinggal lari oleh kupu-kupu yang sudah bermetamorfosis.

Bila kau tega membiarkanku merana durjana bertahun tahun lamanya, aku juga harus bisa.

Biarlah ku meranggas bagai ilalang terhampar tak berair lalu mengering hampir mati.

Kelak semua akan terlupakan sampai nanti bayang-bayangmu pecah bagai ombak beradu terdampar dipantai tak bertepi.

Kini aku tersadar, betapa bodohnya aku masih mengharapkanmu perempuan berambut sebahu. Sebab sejatinya rambutmu itu palsu. Itu kutau saat beberapaka kali aku memergokimu keluar dari shaloon selepas meluruskan rambutmu yang keriting mengeras meranggas tak sehat bagai seorang negro gembel 🙂

Semoga harap dan niatku semakin mantap dan HARI INI, KULEPASKAN KAU DARI HATIKU.

***ditulis secepat kilat hanya untuk ikut2an lomba yang aku sendiri kurang ngeh maksud dan tujuanya :))

***gambar didapat dari google 🙂

December 8, 2011 at 3:40 am 2 comments

Melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang

oleh : togi tua sianipar

=============

PAGI di hari kedua oktober 2010 adalah jadwal kedua buatku untuk menjalani pengobatan dengan cara akupuntur karna satu sakit yang aku derita beberapa tahun belakangan ini. Kalau proses akupuntur pertama aku jalani di Win Lab Mall of Indonesia maka jadwal akupuntur ke dua harus aku jalani di Polikliinik Mediko di daerah Jati Negara. Itu adalah jadwal yang diberikan buatku karna harus mengikuti jadwal praktek dr. Melya Warianto seorang dokter spesialis akupuntur yang punya kepribadian yang sangat luar biasa, beliau laksana titisan dewi berhati malaikat. Sudah sangat jarang sekali aku menemukan sosok dokter seperti beliau.

Proses akupuntur yang pertama kali kujalani seumur hidupku untuk sebuah pengobatan, sangat menakutkan di awal. Bagaimana tidak, membayangkan banyak jarum yang ditikamkankan ke tubuh sudah sangat mengerikan buatku. Namun ini adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh. Sampai tadi pagi aku harus bangun lebih pagi untuk mengejar jadwal akupuntur yang sudah diberikan buatku.

Pukul 07.30 aku dibangunkan oleh suara alaram yang sengaja aku setting. Berat sekali rasanya pagi itu, mengingat aku baru tertidur 4 jam. Belum lagi otakku dihantui rasa takut akan banyak jarum yang ditikamkan ke permukaan tubuhku. Bukan cuman itu, tiga jarum juga harus dirajam di lidahku untuk mengkontrol saraf yang ada di lidah. Namun aku harus menjalaninya untuk mendapatkan kesembuhan.

Setelah berdoa aku bergegas untuk mandi lalu tanpa sarapan apa apa, aku segera bergegas menuju poliklinik yang sama sekali belum pernah aku datangi sebelumnya. Namun berbekal alamat yang jelas dan sesekali bertanya kepada orang orang di jalan, akhirnya aku sampai tepat waktu.

Ramai sekali poliklinik pagi itu, kursi tunggu juga tak bersisa barang satu saja. Lalu aku segera mendaftarkan diri setelah selesai memarkirkan motor di area parkir. Tidak lama aku segera dihantar ke ruangan akupuntur karna memang sudah ada appointment dengan dr Melya yang menyapaku dengan senyumnya yang sejuk pagi itu.

Sesaat setelah aku masuk keruangan itu, kakiku terhenti lalu menatap sekeliling. Bulu kuduku merinding lalu bibirku bergetar melihat dua orang pasien yang sedang menajalani pengobatan akupuntur saat itu.

Pasien itu masih terlalu muda, seorang laki laki berumur 4 tahun dan seorangnya lagi perempuan berumur 5 tahun. Anak lelaki itu bernama Yoga, kepalanya sangat besar sekali berbentuk loncong, dan aku sampai ngeri memandang wajah anak itu. Lalu anak perempuan itu bernama Grace juga punya ciri ciri yang sedikit sama dengan Yoga, namun tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding Yoga.

Tubuh mereka berdua telanjang tak berbalut kain, yang terlihat hanya puluhan jarum merajam di bagian kepala, punggung, dada, perut sampai ke kaki. Hatiku seakan disayat lalu terpercik air garam, perih sekali melihatnya. Lalu sesekali mereka mengangis menahan sakit namun tak sanggup berucap. Seperti Yoga yang duduk tepat di sampingku, dia sengaja didudukkan dipangkuan Ayahnya. Yoga sering sekali menjerit dan menangis tiba tiba, seakan dia ingin sekali berucap lantang “tolong lepaskan semua jarum ini ayah..!!!”. Tapi sayangnya dia bukanlah anak yang normal seperti kebanyakan anak seusianya yang sudah bisa berbicara dengan suara lantang. Dia hanya bisa menangis lalu air matanya tertumpah sangat deras. Mulutnya juga basah karna banyak air ludah yang keluar beriring air matanya.

Tapi taukah kamu kalau Ayah Yoga dan Ibunya Grace yang terduduk setia menatap anaknya terlihat ikut merasakan apa yang Yoga dan Grace rasakan. Mereka terlihat sangat menyangi anak mereka yang terlahir sebagai anak tidak normal. Yah.. Yoga dan Grace adalah anak penyandang/penderita autis yang hanya ingin berjuang untuk keluar dari takdir yang Tuhan sudah berikan untuk mereka.

Aku malah tak mengerti apakah itu takdir yang harus mereka telan lalu dengan penuh usaha dan perjuangan menawar takdir itu pada Sang Khalik?? Yang jelas mereka punya hak yang sama seperti kita yang ingin hidupnya lebih layak, yang ingin hidupnya terlahir sempurna seperti kita sekarang.

Sesekali kutatap wajah Ayah Yoga yang sedari tadi berusaha mengalihkan perhatian Yoga dari rasa sakit yang dideritanya. Lalu sesekali beliau tersenyum dan kemudian menangis mencium Yoga. Hatinya seakan berkecamuk meratapi hidupnya yang harus berlapang dada menerima titipan terindah dari Tuhannya. Sorot matanya tampak mengumpulkan remah remah semangat yang hampir saja pecah terbuang. Lalu seketika beliau membuka mulutnya menatapku berucap “Aku sangat sayang sama dia mas, Yoga anak pertamaku yang benar benar berharga dan luar biasa buatku. Terkadang sulit untuk bisa mengerti apa maunya Tuhan mas, cuman aku berusaha iklas atas semua ini”. Air mataku seketika saja tertumpah dan benar benar tidak sanggup berucap apa apa. Aku hanya merasa kalau semangat yang ingin kutularkan buatnya sama sekali belum bisa disebut semangat buatnya karna situasi yang luar biasa tengah dialaminya.

Lalu beliau kembali menatapku sambil mengusap rambut Yoga dan berucap “Jangan nangis yah Om, gak usah kasihan sama Yoga. Yoga hanya butuh bantu doa yah Om..”. Begitu cara beliau memintaku mengusap air mata yang tertumpah saat itu.

Lalu kemudian dr. Melya datang dan menyuruhku merebahkan badan di tempat yang sudah disiapkan. Sedikit bertanya tentang keluhan dan perkembangan setelah akupuntur pertama, beliau kembali menikamkan belasan jarum di lidah, leher, dada, perut dan kakiku. Kali ini tidak sedikitpun rasa sakit itu datang, entah kenapa sakit itu berpindah lalu menyusup ke hatiku. Yahh…“melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang”.

Yoda dan Grace adalah anak yang luar biasa buatku. Dengan besarnya pencobaan yang Tuhan taruhkan di pundak mereka tidak sedikitpun membuat mereka meratap lalu pasrah menerima takdir. Terlebih buat orang tua mereka berdua. Sungguh orang tua yang luar biasa dan benar benar berhati besar. Sungguh Tuhan tak salah memlilh mereka sebagai orang tua dari Yoga dan Grace. Tidak sedikitpun mereka menyerah untuk sebuah kata bahagia menyaksikan anak mereka sembuh lalu bersyukur atas semua yang Tuhan sudah berikan.

Kini coba kita menilik sedikit saja pada bilik dihati kita, apakah masih ada ruang untuk bersabar dan bersyukur atas banyak bahagia yang kita punya. Aku malah tak menyadari kalau betapa banyak hal yang perlu disyukuri dalam hidup ini. Bersyukur buat kesehatan, bersyukur buat orang tua yang selalu ada buat kita, bersyukur buat teman dan bersyukur buat makan dan minum yang bisa aku nikmati.

Tiga puluh menit sudah berlalu aku memikirkan betapa angkuhnya hatiku, lalu seorang suster datang menyibak tirai biilik tempat aku merebahkan badan. Lalu perlahan dia menarik jarum satu persatu dari tubuhku dan tersenyum sambil berkata “semoga lekas sembuh yah pak”.

Kupasangkan sendal hitam di kedua telapak kakiku, kemudian menapak dan melintas dari hadapan Yoga dan Ayahnya. Hanya senyum yang bisa aku berikan buat Yoga dan doa yang teramat tulus dari lubuk hatiku “Kiranya Tuhan menyembuhkanya”.

Kemudian kini hatiku selalu diteror dengan banyak pertanyaan yang membuat aku malu untuk menjawab. Lalu apakah aku harus berduka kemudian mengumpat, mengutuk hanya karna sebuah cerita cinta yang kadang gagal, atau hanya karna banyak error pada baris codingku, atau hanya karna teman yang buat aku betek, atau hanya karna gajiku tak setinggi gaji orang lain, atau hanya karna aku tidak punya harta dan materi yang banyak?

Sungguh bodohnya apabila diri dibelunggu oleh satu judul saja. Bukankah hidup itu penuh warna?  Tinggal bagaimana caranya memadu padankan warna itu biar terlihat bernilai lalu membius mata untuk mengagumi indahnya.

God bless us.

*** btw, sampai lupa, menuliskan tentang penyakit yang aku derita. sebenarnya bukan sebuah penyakit serius. hanya berupa pencegahan karna gula darah dan kolestrol yang belakangan ini tak terkontrol. Ditambah olah raga yang hampir tidak pernah membuat sering sakit kepala dan sedikit menghambat proses pencernaan. Namun karna belakangan menganggu konsentrasi maka merasa perlu melakukan pencegahan dini agar dampaknya tidak meluas di hari esok.

December 8, 2011 at 3:39 am 2 comments

Older Posts


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,882 visitor

Top Clicks

  • None