Bapakku adalah bapak juara satu sedunia

December 8, 2011 at 3:44 am Leave a comment

oleh: togi tua sianipar

AYAHKU adalah ayah juara satu sedunia,

Kalimat ini kudapat saat menonton film Sang Pemimpi dari novel penulis kondang Andrea Hirata yang tayang di RCTI sore tadi.

Tak berbeda denganku, aku juga merasa kalau ayahku adalah ayah juara satu sedunia. Bukan itu saja, ibuku juga ibu juara satu sedunia. Aku yakin kalau semua orang akan mengakui ungkapan itu, tidak akan ada anak yang menempatkan orang tuanya di ranking kedua atau mungkin ketiga.

Sejatinya bapak dan ibuku adalah orang yang aku kagumi dengan luar biasa sebagai Tuhan yang hidup di bumi ini buatku. Sunggu beruntung rasanya aku memiliki orang tua seperti mereka.

Bukan juga aku sudah meraih sukses yang luar biasa layaknya Andrea Hirata lalu kemudian mengagumi orang tuanya dalam sebuah novel debutnya. Namun aku yakin kalau bapak dan ibuku juga sangat membanggakan aku sebagai anak mereka yang lahir dari buah cintanya.

BAPAK, begitu aku memanggilnya setiap hari. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil saat aku mengenalnya. Lalu kemudian dengan apa yang dia punya berusaha keras membahagiakan istri dan kelima anaknya. Berjiwa besar, bijaksana dan penyabar adalah sifat yang dia punya lalu mencoba menularkannya pada anak anaknya. Hidup sederhana bukanlah tabuh buatnya, namun menjadi hakikat yang dia syukuri pada Tuhannya.

Upah yang dia dapatkan juga masih jauh dari cukup, namun dia tidak pernah menyerah pada hidup. Tidak juga dia mau menjatuhkan harga dirinya dalam kemelut jalan sesat untuk ikut menikmati uang yang bukan haknya seperti kebanyakan teman teman seprofesinya dulu. Hidup tidak melulu soal uang, tapi juga bagaimana mempertanggung jawabkannya kelak dihadapan Tuhan. Begitu dia berpesan tiap kali memberi petuah bagi kami anak anaknya.

Namun walaupun demikian, tidak juga dia terhenti dibaris belakang untuk berbagi kasih buat keluarganya bahkan kepada tetangganya. Bangga rasanya mulutku berucap bila mana aku diminta untuk memperkenalkan dia sebagai bapakku saat orang menanyakan identitasku. Persis seperti bapaknya Ikal, bapakku juga tidak pernah absen untuk mengambil Raportku dulu. Walau aku bukan murid juara satu di kelas, namun bapakku selalu menjadikan aku sebagai anak juara satu sedunia. Tidak juga dia selalu memberiku banyak uang untuk setiap ranking kelas dan nilai raportku yang bagus. Namun nasehat dan wejangannya selalu jadi hadiah yang tak ternilai buatku untuk selalu tegar dan berusaha lebih keras lagi dalam meraih mimpi. Menonton Naga Bodar, G 30 SPKI dan film film lainya di bioskop sudahlah cukup buatku sebagai bukti kalau dia juga berusaha memanjakanku seperti kebanyakan anak anak seusiaku dulu. Tidak sekalipun dia pernah membelikanku baju baru, namun bukan karna dia pelit atau tidak ingin melakukanya. Tapi lebih karna kondisi yang tidak mendukungnya untuk melakukanya kala itu.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, dia yang mengajarkanku bagaimana datang kepada Tuhan lalu meminta dengan kerendahan hati. Bagaimana bersykur saat ada nikmat yang datang menghampiri dan bagaimana menghentikan mata bergerak saat pedih dan sedih hadir agar tak setitikpun air mata tertumpah. “Jadilah kuat lalu bangun saat kau jatuh dan berdiri untuk melanjutkan langkah” begitulah dia mengingatkanku disaat lara menghantam.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, itu terbukti saat dulu berbulan bulan lamanya dia memelihara beberapa ekor ternaknya hanya untuk memenuhi janjinya membelikanku sepeda federal keluaran baru bila mana aku bisa mengajaknya berdamping di halaman sekolah saat nama murid berprestasi dipanggilkan di ke depan barisan. Lalu saat keberuntungan itu menjauh darinya, ketika seminggu sebelum pembagian raportku, kemudian ternak yang dia pelihara mati karna sakit musiman yang melanda. Namun bukanlah bapakku bila janji takpunya harga dan dengan gampang melupakanya. Tidak juga ada gurat sedih dan putus asah di wajahnya yang tampan dulu. Persis setelah aku berhasil mengajaknya berdamping riang di halaman sekolah kemudian dia mengajakku ke toko sepeda ternama di kotaku. Masih juga aku mengingat dia mengeluarkan uang seratus lima belas ribu rupiah untuk harga sepeda biru bergagang lurus yang dia belikan buatku. Lama aku berusaha untuk mencari tau dari mana bapak mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah janji. Dan sampai sekarang dia masih menyimpan rahasia itu lalu memilih tersenyum tiap kali aku mengajaknya bernostalgia tentang sepeda itu.

Bahagiaku memilikinya setia menemaniku setiap tahun merayakan indahnya Natal di masa kecilku. Dengan kemejanya yang selalu terlihat rapih walau sudah bertahun tahun dimilikinya, dia selalu ada buatku berdiri di depan kursi gereja menyaksikanku melafalkan ayat ayat alkitab lalu kemudian mengambilkan foto terbaik dengan kamera analog yang dulu dibelinya merekam moment sidi abang tertuaku.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia, yang tidak sekalipun pulang dari suatu tempat tanpa membawakan oleh oleh buat keluarganya. Bukan juga oleh oleh mewah bernilai mahal, hanya sebungkus biskuit kacang atau mungkin hanya sebungkus pisang goreng panas sebagai senjata ampuhnya membangunkan anak anaknya bila sudah tertidur karna larut menantinya dalam malam. Sungguh aku mencintainya mengalahkan cintaku pada ragaku yang terbentuk olehnya. Dia yang selalu hadir pada setiap moment istimewa anak anaknya, lalu dengan senyum dan ketulusan hatinya memberi ketenangan buatku. Keras dan tegas yang bercampur dalam sifat dan karakternya tidak lantas membuatku merasa takut padanya. Tapi dengan begitu memberi peluang buatku belajar bagaimana hidup berdemokrasi.

Hanya satu yang tak pernah tampak dimataku tentang dia. Yahhh…, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menitikkan air mata dalam kondisi seberat apapapun. Kemarin saat sebulan yang lalu aku bertemu denganya, dia hampir kalah dalam tangis lalu kemudian memelukku saat aku akan kembali bertarung dan bergulat dengan buasnya Jakarta yang sama sekali tidak sedikitpun menarik hasratnya untuk menginjakkan kakinya di ibukota negara ini.

Tuhan menyertaimu bapakku dan mamakku tercinta, Kalian adalah orang tua juara satu sedunia. Maka terpujilah Tuhanku yang telah menghadirkan cinta tanpa harus dibeli. Karena dengan begitu rupiah bukanlah harga mati untuk sebuah bahagia. Semoga Tuhan memberkati bapak dan mamakku, memberi umur yang panjang, kesehatan dan bahagia. Biar kelak saat sukses itu tiba, mimpiku untuk menggajaknya berkeliling dunia menjadi nyata walau aku tak sehebat Andrea Hirata.

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

Lalu bagaimana?? Tuhan besertamu mamak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,997 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: