Hari Pengantin Bonar

December 8, 2011 at 3:36 am Leave a comment

Oleh: Togi Tua Sianipar

————————

Ce. Ii. EN. Te. Aa, panggil aku Cinta,

KENAPA harus dibesar besarkan? Kenapa harus dipaksakan? Kenapa harus dipertanyakan?

Bukankah mereka bilang cinta itu tulus? Lantas kenapa harus terlalu dipermasalahkan? Biarlah semua datang dengan sendirinya, biar kiranya dia masuk perlahan dan mau tinggal selamanya dalam diri.

Mungkin cinta ini yang dirasa jadi sebuah malapetaka oleh BONAR seorang lelaki perjaka tua yang kandas meletakkan harapanya pada sebuah cinta.

Yah…, Bonar memang sudah bukan lagi seorang laki laki dewasa yang tengah berjelajah dalam usia yang tepat untuk memikirkan cinta atau mungkin sekedar bermain main dengan cinta. Usianya yang tinggal dua tahun lagi akan tepat jatuh pada bilangan empat puluh yang bagi beberapa orang merupakan sesuatu hal yang tabuh. Itu juga yang buat dia terpaksa pasrah untuk menerima tawaran mamaknya menikah dengan perempuan yang sengaja dipilihkan mamaknya buatnya. Bagaimana tidak, kelima orang adik Bonar sudah menutup cerita lajang mereka dan kini sudah membina rumah tangga masing masing dengan anak anak yang Tuhan sudah karuniakan kepada mereka.

Bonar adalah anak tertua yang tadinya jadi harapan termanis buat bapak dan mamaknya untuk meneruskan garis keturunan mereka. Mengharap Bonar bisa segera memiliki istri dan anak adalah penantian yang sangat panjang dan benar benar berharga buat kedua orangtuanya bahkan bagi oppung (kakek/nenek) Bonar. Sudah tentu pula, bukan saja Bonar seorang sulung dari saudara saudaranya, Bonar juga cucu tertua dari garis keturunan oppungnya. Untuk itu hampir setiap mulut yang bertemu denganya selalu memperkarakan status Bonar yang sudah menimbulkan keresahan bagi hati keluarga besarnya.

***HERLINA perempuan desa yang tidak terlalu banyak menuntut dan hampir tidak mengenal apa itu demokrasi kini dihadirkan sebagai pilihan terakhir buat Bonar oleh mamaknya. Sifat penurut inilah yang membuat Herlina tidak perlu ditawar terlalu lama untuk mau menikah dengan Bonar seorang laki laki yang sudah dikenalnya betul sejak dia bisa mengenal dan merasa dan mengerti berkata kata. Tentunya Bonar juga menyaksikan pertumbuhan Herlina sejak kecil sampai dia diperhadapkan akan pilihan itu karna mereka tinggal pada kampung yang sama. Herlina berumur 18 tahun tepat saat dia diminta kesediaanya untuk menikah dengan Bonar laki laki yang sebenarnya tidak dicintainya itu.

“Kali ini kau gak bisa menolak lagi, apa kau tega membiarkan kami pergi meninggalkan hidup ini sebelum melihatmu menikah dan menimang cucu darimu? Lihat juga bapakmu sudah tidak sesehat dulu Bonar, dia sudah sakit sakitan. Bapakmu juga sakit sakitan karna kau juga, dia stress memikirkan kau yang tak kunjung menikah ini. Makanya kau harus mau yang amang? Tolong jangan kau kecewakan kami orang tuamu ini”. Begitu mamak membujuk Bonar yang hanya terdiam dan sebenarnya tidak sedikitpun memikirkan perkataan perempuan tua itu dengan serius.

Dia juga tidak mengerti entah apa yang menggerakkan bibirnya dan menganggukkan kepalanya untuk bersetuju dengan permintaan mamaknya yang sangat dia sayangi itu. Padahal Bonar adalah sesosok yang tidak pernah mau diajak bernegosiasi untuk urusan jodoh sebelumnya.

“Baiklah mak, kalau memang itu yang jadi keputusan mamak. Aku gak bisa menolak lagi mak, terserah mamak dan bapak sajalah. Aku ikut saja”. Begitu Bonar menjawab tarawan mamaknya kala itu.

*** Tiga hari sebelum pernikahan Bonar, semua saudara, family dekat dan jauh sudah mulai berdatangan dari berbagai daerah. Ternyata mereka terlalu larut dalam sukacita atas rencana pernikahan Bonar yang akan segera digelar. Terlebih adik adiknya yang dengan antusias membantu semua biaya pernikahan Bonar dan bahkan memberikan hadiah beragam jenisnya untuk abang yang sangat mereka sayangi itu. Bukan itu saja, oppungnya yang sudah lanjut usianya saja tidak tanggung memberikan tanah berbidang bidang luasnya sebagai hadiah untuk cucu tertuanya itu.

Undangan sudah beres disebar ke semua kerabat mereka. Mulai dari kerabat yang ada di Siantar, Medan, Riau, Jakarta bahkan sampai ke Belanda sudahlah kelar. Tinggal menunggu kedatangan mereka saja di hari pernikahan Bonar.

Di hari hari terakhir masa lajangnya Bonar justru memilih untuk pergi ke ladang tempat dia biasanya menghabiskan hari harinya. Ladang yang sudah seperti milik pribadinya sejak belasan tahun yang lalu Bonar memilih untuk tinggal di kampung menemani kedua orang tuanya setelah meraih gelar Insinyur Pertanian dari sebuah universitas di Medan. Dia hanya kasihan dan tidak tega melihat kedua orang tuanya yang semakin tua dan ditinggal pergi oleh adik adiknya karna sudah menikah.

Terik matahari saat itu memaksa Bonar untuk beristirahat sejenak di sopo (pondok) kecil tak berdinding yang ada di ladangnya itu. Pikiranya berat sekali, keras dan tandus rasa hatinya. Dia merasa terpaksa menjalani semua keputusan itu, bagai tanah kering yang dihujami panggu tumpul. Tidak nyaman sekali rasa hatinya. Sesekali dia teringat dengan Herlina perempuan yang seakan dijadikan tumbal buat dirinya. Jauh di lubuk hati Bonar, rasa tidak tega dan kasihan sungguh teramat besar buat Herlina. Dia hanya tidak ingin Herlina menikahinya hanya karna ingin dikatakan berbakti buat orangtuanya dan dikatakan patuh sama adat dan tradisi di kampungnya. Herlina adalah anak tulangnya (paman) yang baru dua bulan yang lalu menamatkan sekolahnya dari bangku SMA.

Sebenarnya Bonar ingin sekali menyudahi semua cerita seputar rencana pernikahinya. Dia sangat berharap ada mujizat yang mau menyapanya untuk bisa membatalkan pernikahanya itu. Namun di lain pihak, Bonar tidak sanggup kalau sampai melihat kecewa yang luar biasa menerpa kedua orang tuanya, adik adiknya dan bahkan semua keluarga besarnya. Tapi Bonar tidak bisa berbuat apa apa, bahkan dia tidak berani menyampaikan keluhan di hatinya pada siapapun. Bayang banyang Herlina benar benar menghantuinya. Dia sadar betul dan bisa merasakan betapa sebenarnya Herlina juga ingin sekali batal menikah denganya. Dia sudah menganggap Herlina seperti adik kandungnya sendiri, namun kini dia harus berubah menjadi seorang calon suami Herlina yang akan menemani hari hari Herlina sampai maut memisahkan.

*** Satu malam sebelum pernikahannya, Bonar sengaja keluar rumah untuk sekedar mencari udara segar yang diharapkanya mampu menyejukkan hatinya yang kacau dan benar benar tidak bisa digambarkan. Kakinya menapak namun tak tau arahya ke mana. Dia hanya bisa membiarkan kedua kakinya berjalan dan mengiring badannya kemana saja malam itu. Sampai dia terhenti oleh sesosok yang tepat berdiri di hadapanya. Herlina, yah perempuan yang sudah dipilihkan sebagai calon istrinya itu ternyata diam diam mengikuti Bonar malam itu.

“Kenapa abang belum tidur? Apa abang lagi ada masalah?” sapah perempuan lugu itu. Bonar hanya terdiam dan sedikit memberikan senyumnya untuk Herlina.

“Abang tidak apa apa, cuman lagi susah tidur aja” begitu Bonar membohongi calon istrinya itu. Terdiam mereka sejenak sampai Bonar memberanikan diri bertanya kepada Herlina yang juga terlihat kalut hatinya.

“Herlina, apakah kau benar benar mau menikah dengan aku?, kenapa kau mau dipaksa menikah dengan laki laki tua seperti aku ini, sementara kau masih muda dan perjalananmu masih panjang?”. Herlina hanya terdiam dan tidak sedikitpun dia mau menjawab pertanyaan Bonar. Namun gurat wajahnya sangat jelas menunjukkan galau hatinya.

“Kalau memang kau tidak mau menjawab, baiknya kita pulang saja dan beristirahat, karna besok pastilah kita akan sangat letih menjalani acara pemberkatan dan adat” kata Bonar pada perempuan dihadapanya itu.

Bonar berpaling dan berjalan mengarah ke rumahnya, namun seketika dia terpaksa menghentikan langkahnya karna Herlina menarik tanganya dari belakang. Dengan berurai air mata Herlina memegang tangan Bonar sambil tertunduk malu. Dia tidak tau bagaimana caranya dia menumpahkan gundah hatinya. Dia bingung bagaimana cara menyampaikan protes hatinya kepada laki laki yang besok akan jadi suaminya itu. Perlahan Herlina mengangkat kepalanya dan menatap wajah laki laki paruh baya itu. Dia kembali menangis dan berusaha mengumpulkan tenaga dan keberanianya untuk berkata jujur kepada Bonar.

“Bang…, apakah kau kecewa andai pernikahan kita ini batal digelar? Apakah kau akan membunuhku dan orangtuaku kalau kalau aku membatalkan semua ini? Betapa hatiku tidak mau berdamai dengan kenyataan bang, sejak sebulan yang lalu namboru (bibik) melamarku aku sudah berusaha untuk bisa mencintaimu walau aku harus mengubur cita citaku untuk melanjutkan studyku ke universitas. Tapi ternyata aku gak bisa bang, aku tidak berhasil membujuk hatiku untuk mau menumbuhkan rasa itu” Begitu Herlina berkata kata sambil terbata bata saat pipinya basah oleh airmatanya.

Bonar terdiam dan kini seakan langit runtuh menimpa dirinya. Hatinya remuk dan perasaanya seakan diperkosa oleh keadaan. Ternyata apa yang dikhawatirkanya selama ini terjadi juga, kalau ternyata Herlina juga terpaksa menjalani semuanya. Namun dia berusaha tegar walau rasa tegar yang dia punya sudah tidak bernyawa sedikitpun. Bagai mengumpulkan remah remah bercampur duri yang dipaksa ia kunyah lalu ditelan masuk ke lambungnya. Dia hanya berusaha untuk menghargai keberanian paribannya itu. Dia hanya berusaha memberikan harga sedikit saja buat dirinya. Lalu dengan begitu status perjaka tuanya masih punya sedikit harga dan bukan menjadikannya seorang pengemis yang berharap belas kasihan.

Bonar meraih tangan Herlina dan meyakinkan hati perempuan itu lagi atas perkataan yang telah dia lontarkan kepadanya. Tidak terlalu lama Bonar mendapatkan kepastian itu dari mulut Herlina dan dari binar mata Herlina yang sangat jujur. Perlahan Bonar membuka katup mulutnya dan dengan pelan dia berkata “Pergilah.., sebelum terlambat. Kemasi barang barangmu lalu pergi sebentar ke mana saja kau merasa aman. Karna kalau kau masih ada di sini sampai besok maka mereka semua akan memaksamu lagi. Aku tidak akan marah kepadamu, karna cinta itu tidak bisa dipaksa”.

Bonar meninggalkan perempuan itu lalu kembali berjalan menuju rumahya. Hatinya kini datar, kering bagai lahan gundul meranggas. Matanya kaku tak sedikitpun bergerak ke mana mana. Sampai dia masuk ke dalam kamarnya. Tak ada satupun yang dia inginkan saat itu kecuali berharap besok tidak akan pernah datang menghampirinya. Dia ingin sekali hari berhenti sampai malam itu saja. Dia hanya berharap matahari lupa bangun dari tidurnya hingga tak akan pernah muncul dari ufuk timurnya. Namun sayang semua tidak mungkin bisa terbendung oleh Bonar, tidak ada pengecualian buat beban dan sakit dihatinya yang luar biasa kala itu.

*** Pagi hari saat Bonar berdiri bagai patung dengan jas yang mewah hadiah dari bapaknya di depan cermin. Dia menatap sosoknya yang ternyata masih kalah akan arti sebuah cinta. Terdiam saja tanpa berkata, hanya berdiri dan tidak juga melangkah keluar dari kamar, sebab tidak ada artinya Bonar di hari pengantin itu.

p.s.

1. terinspirasi oleh kejadian nyata, seseorang yang penulis kenal (bukan pengalaman pribadi atau bayangan penulis tentang dirinya). Jadi mohon untuk tidak sehuzon yah 🙂

sebab fitnah lebih kejam dari fiknik :p

2. maaf apabila ditemukan kesamaan nama (benar2 ketidak sengajaan)

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

MONA, temuilah Tuhanmu… Panggil aku “Pandu” [part 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,882 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: