Kusembunyikan air mataku darimu Mamak..

December 8, 2011 at 3:33 am Leave a comment

Oleh : Togi Tua Sianipar

————————–

PUDAN kembali memandang jam digital yang ada di sudut kanan bawah notebooknya siang itu. Hatinya grasa grusu karna masih banyak kerjaan yang harus dia selesaikan dalam rentang waktu yang semakin sempit. Sesekali dia menarik nafas panjang karna rasa resah dan letih yang dia rasa. Belum lagi jantungnya berdebar debar membayangkan kalau kalau kepulanganya kali ini menuju kampung halamanya akan tertunda oleh kerjaannya di kantor yang siang itu semakin liar memperkosanya.

*** Entah usaha dan pertolongan dari mana yang menyertai harinya kala itu akhirnya tugas kantornya berangsur kelar. Mungkin karna doa dari sang kakak yang sangat dia sayangi akhirnya Sang Khalik terlihat berpihak hari itu untuk Pudan.

Tepat setelah Pudan selesai mengisi perut di siang nan terik tepat di bawah rel kereta api di bilangan jakarta Pusat, dengan langkah pasti dan senyum dia kembali keruanganya di gedung berlantai delapan itu.

Suka cita penuh yang dia rasa mengiringi lankahnya menuju kos kosan tempat dia tinggal. Tak banyak waktu yang diperlukan motor bututnya untuk mengantar jejaka ini menuju tempat tinggalnya itu, hanya kisaran dua puluh menit sudahlah cukup sekali.

Dibukanya pintu kamarnya dan terduduk dia sejenak sambil membereskan semua barang barang yang akan dia bawa pulang ke Silindung kota kecil tempat terpautnya cinta dan harap dari Bapak, Mamak dan Saudara Saudaranya.

Dua helai kemeja berlengan panjang dan dua kemeja berlengan pendek yang sudah dia siapkan buat kedua abang dan kedua keponakanya mampu mengajak sedikit senyum bertengger di bibirnya yang sedikit mengering. Hatinya menangis bahagia saat keempat helai baju itu dilipatnya perlahan lalu dimasukkanya ke dalam tas yang terletak di lantai kamarnya siang itu.

“Terima kasih Tuhan, bahwa kali ini aku masih bisa memberi hadiah buat abang dan keponakanku walau Natal belum tiba”. Begitu kira kira bisik hati Pudan.

Pudan bukan seorang laki laki dengan banyak materi, bukan pula dia laki laki sukses dengan banyak uang. Dia hanya seorang karyawan biasa yang sudah lima tahun bertarung melawan kerasnya hidup di kota Jakarta yang liar dan binal.

Biasanya dia akan mengeluarkan budget lebih pada saat kidung Natal sudah mulai bergemah, saat dia akan pulang ke kampung halamanya untuk merayakan Natal bersama keluarganya. Saat itulah biasanya Pudan sengaja membawakan oleh oleh sebagai kado Natal buat keluarganya di kampung. Namun kali ini berbeda dari biasanya, Pudan harus pulang ke kampung karna harus menyaksikan kakak yang sangat dia banggakan bersaksi di hadapan Tuhan dalam sebuah pemberkatan nikah.

Sore sebelum langit gelap Pudan beranjak dari kamar kos kosanya menuju bandara, sengaja dia menaiki Bus biar kiranya ada uang yang tersisa yang nanti bisa dipakai buat menjalani hari harinya di kampung tercinta.

Tidak perlu berhari lamanya untuk menyeberangi lautan menuju Sumatra. Hanya dua jam perjalanan Pudan sudah tiba di kota Medan yang juga terasa hangat dikulitnya yang coklat. Sengaja juga dia menginap di rumah temannya untuk sedikit menghemat pundi pundinya. Siapa tau banyak hal yang diperlukan di kampung nanti.

Pagi cerah membangunkan tidurnya, tak lupa dia bergegas menlanjutkan perjalananya menuju Silindung kotanya. Sengaja dia menyisihkan uang berbulan bulan lamanya untuk bisa membeli tiket pesawat kecil bermuatan tak banyak itu, dia hanya berharap agar dia lebih cepat sampai di Silindung bertemu dengan Bapak, Mamak dan keluarganya.

Tiga puluh menit sudah dia terduduk di dalam pesawat kecil itu sampai akhirnya dia sampai di sebuah bandara yang sangat kecil di Humbang Hasundutan.

Ternyata abangnya yang sulung sudah menunggunya dengan motor sederhana yang sengaja di belikan Pudan untuk bapaknya empat tahun yang lalu. Batinya seakan berkejar kejaran denga roda motor yang dipacu abangnya dengan kencang. Sesekali dia memeluk abangnya sambil menyembunyikan wajahnya di balik pundak abangnya. Dia hanya tidak ingin abangnya melihat Pudan menangis menahan rasa bahagia. Betapa tidak, enam bulan yang lalu dia hampir saja kehilangan sosok yang duduk di hadapanya itu. Saat abang sulungnya itu koma dan mendapat perawatan serius di Rumah Sakit karna menderita jantung koroner berminggu minggu lamanya.

Setengah lingkaran jarum panjang jam berjelajah sampai akhirnya Pudan dan abangnya sampai di rumahnya. Hadirnya kali ini disambut Bapaknya yang tampak semakin tua dan kurus sedikit tak terawat. Sosoknya yang tampan dan badanya yang tegap dulu sudah tak terlihat lagi. Seakan semua memudar begitu saja entah ke mana. Namun binar wajahnya masih tetap seperti yang dia kenal dulu. Tak kuasa di peluknya bapaknya yang sudah tidak sekuat dekapan yang dulu pernah dia rasakan, kembali dia sengaja menenggelamkan wajahnya di pundak laki laki tua itu hanya untuk menyembunyikan dua atau tiga tetes air mata yang tak terbendung kala itu.

Pudan hanya tak mau menunjukkan kesedihan buat orang orang yang dia kasihi. Tak lama juga dia bertemu kakak keduanya di belakang rumah sedang sibuk membantu juru masak siang itu. Sudah empat tahun dia tidak bertemu dengan kakak yang sangat dia kagumi itu, kakak yang mengajarkanya banyak arti sabar dan iklas. Senyum dan haru rasanya Pudan mendekap tubuh kakaknya, dan lagi lagi dia sedikit berlama lama menyenderkan kepalanya di pundak kakaknya hanya untuk bersembunyi mengusap kelopak matanya yang sudah basah.

Sesekali Pudan mengitari banyak orang di rumahnya mencari sosok lain yang sangat dia rindukan. Mamak yang sudah dengan penuh peluh dan keringat membesarkanya, dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Batinya sedikit terganjal dan tak puas sebelum dia bertemu mamak yang sangat dia kagumi itu. Sementara Dara, kakak yang selalu Pudan bangga banggakan hampir kesemua teman dan kenalanya itu belum rampung mengikuti pembinaan pernikahan di Gereja pagi itu.

Lama sudah dia menunggu terduduk di ruang tamu ditemani Bapaknya sambil menikmati hangatnya secangkir kopi buatan Bapak yang dia kagumi itu. Yahh.., tidak pernah Bapaknya lupa menghadiahkanya secangkir kopi tiap kali Pudan diajak bercengkrama di ruang tamu. Sembari Pudan membagikan semua oleh oleh yang sengaja dibawanya dari ibukota.

Ada sekitar satu jam setelah dia sampai di rumahnya barulah Dara kakak yang dia tunggu tunggu datang. Segera Pudan berdiri dari duduknya dan menyambut kakaknya persis di mulut pintu rumahnya. Dia ragu kalo tenaganya untuk membendung air matanya kali ini sudah tak ada lagi. Dipeluknya kakak yang sangat dia sayangi itu dengan eratnya. Dibiarkanya kakaknya menangis di pelukanya, yah.. Dara selalu melakukan itu dipelukan Pudan tiap kali mereka baru bertemu dan bila akan berpisah sementara.

Hati Pudan semakin dililit haru, namun Pudan tetap berusaha tegar. Diusapnya air mata kakak yang sudah banyak berkorban buatnya sambil sedikit mengolok “Lalap kau nangis Dar..!!”. Kakanya selalu membalasnya dengan tamparan kecil penuh kasih sayang di pipih Pudan tiap kali Pudan menggodanya seperti itu.

Kakaknya menarik tanganya sembari mengiring Pudan ke kamar tempat mereka sering bercerita dan berkeluh kesah. Tak sabar rasanya Dara ingin memperlihatkan sebuah kebaya dengan songket indah memerah yang di ambilnya dari gantungan di lemari. “Ini baju pengantin yang dibelikan calon laemu sama aku, makasih buat doamu yah dek, akhirnya besok aku akan menikah. Oh yahh, mana kadomu buat aku? kemarin kau bilang kau mau kasih aku cincin termewah yang pernah ada?”. Sambil senyum Dara menggoda adik yang sangat dia sayangi itu. Pudan hanya bisa terdiam dan tersenyum kecil di bibirnya.

Baru saja mereka berbincang melepas rindu akhirnya Mamak yang dia tunggu tunggu sedari tadi tiba juga. Tidak ada seorangpun yang memberitahukan Pudan akan kedatangan perempuan tua itu. Tapi Pudan tau persis dan kenal betul dengan suara yang dia dengar dari luar rumah kecil itu. Seketika saja Pudan berlari ke luar meninggalkan Dara di kamar.

Dari pintu dilihatnya sosok perempuan tua berjalan menghampirinya, penuh riang dan bahagia yang tak terhingga. Terlihat rasa bangga yang luar biasa di wajah perempuan tua itu menyaksikan Pudan yang berdiri di pintu rumah menantikanya. Pudan meraih kedua tangan Mamak yang dia kagumi itu saat raganya mendekat, ingin sekali rasanya Pudan menangis di pelukan perempuan yang sangat dicintainya itu.

Tapi bukan sebuah pilihan tepat buat Pudan untuk menunjukkan betapa rapuhnya hatinya saat itu. Dia hanya ingin mendekap Mamak yang dicintainya itu, lalu membenamkan kepalanya di pundak perempuan yang sudah mengandung dan melahirkanya itu. Hangat tubuh perempuan tua itu masih sehangat dulu, walau sudah tidak sekuat dekapan yang dulu selalu dia rasakan.

Diciumnya kedua pipi Mamak yang dia kagumi dengan luar biasa itu, diusapkan airmata yang tertumpah dan meleleh jatuh dari kelopak mata perempuan itu.

Tak lama Mamak tersenyum sambil membelai rambut Pudan laki laki bungsu yang sudah dia besarkan penuh kasih sayang. Ditatapnya mata Pudan sambil sesekali tertawa kecil dan berkata “Ahh…, Mamak jadi nangiskan?. Padahal itu karna aku senang kau bisa pulang mang. Gimana, sudah makan kau?, aku belikan Kue Talam kesukaanmu karna aku tau kau datang”.

Ini adalah saat terberat buat Pudan untuk bisa bertahan membendung air mata yang tertumpah. Betapa dia haru mendengar perkataan dari Mamak yang menggali semua kenangan yang dulu selalu dirasakan setiap akhir pekan tiba.

Sejak Pudan masih bersekolah di bangku SD sampai dia SMA, Mamak tak pernah lupa membawakanya oleh oleh dari pasar tradisional di Silindung sebagai santapan terdahsyat buat Pudan yang selalu menantinya dengan setia di rumah. Dan sampai sekarang betapa perempuan tua itu masih tetap ingat dan tau persis jajanan kesukaan anak bungsunya itu.

Sukses Pudan mengunci rapat lubang airmatanya, walau dadanya terasa sesak menahan semua haru sedari tadi. Pria lajang itu kembali disapah Mamak saaat tengah asyik menyantap nikmatnya Kue Talam yang sudah hampir tak pernah dirasakanya lagi.

“Apanya kau bawa sama Mamak Pudan..??” (sapah perempuan tegar bersuara lantang itu). “Masa Mamak gak kau ingat?. Kakak, abang dan keponakanmu kau bawakan oleh oleh, masa Mamak gak ada?”. Pudan hanya terdiam dan sesekali tersenyum simpul mendengar pertanyaan Mamak yang sangat dia sayangi itu.

Ada rasa pedih yang dirasakan Pudan kala itu, seakan sembilu berdandan disayatkan di hatinya seketika. Pudan terdiam namun kerutan di dahinya tak bisa berbohong kalau dia tengah memikirkan perkataan perempuan yang dia sayangi itu dengan serius. Dihampirinya Mamak yang tengah terduduk di kamar, didekapnya kembali tubuh perempuan yang kini sudah tak segemuk dulu. Diraihnya tangan Mamak sambil berkata “Apa Mamak sedih karna aku gak bawa apa apa untuk Mamak?, bilang sama aku Mak, apa yang Mamak mau biar aku belikan”.

Mamak hanya terdiam seakan dia sulit sekali jujur akan kalutnya hati dan pikiranya belakangan ini. Seketika tangis Mamak tertumpah lagi sambil mendekap Pudan. Hatinya seakan berkecamuk, sepertinya Mamak ingin sekali menumpahkan kemelut di hatinya kepada anak bungsunya itu. Tapi entah kenapa bibir Mamak seakan terkunci rapat, “Mamak gak mau lagi membuat kau pusing, Mamak kasihan sama kau Pudan, biarlah… Mamak baik baik saja kok” (bisik Mamak pelan seakan dia tak mau seorangpun tau kalau dia mengadu kepada Pudan).

“Bilanglah Mak, kenapa? Apa yang mengganjal di hatimu? Biar aku gak bingung (kata Pudan)”. Mamak hanya menatap pudan dan perlahan dia berani menumpahkan sedikit demi sedikit galau hatinya. Betapa hati Mamak berat sekali melepas anak gadisnya yang sangat dia sayangi untuk menikah besok. Betapa dia masih ingin sekali ada bersama sama borunya (anak perempuan) itu menapaki hidup ini. Betapa tidak itu adalah saat berat buat Mamak melepas borunya untuk pergi dari rutinitas hari harinya. Bekerja mencari nafkah dan bertukar pikiran bersama boru yang sangat dia sanyangi itu selama ini.

“Senang sekali hati Mamak kakakmu sudah dilamar orang, tapi dilain pihak aku takut kalau kalau nanti aku merindukanya dan tidak ada lagi yang akan menemani hari tuaku. Walau masih ada abangmu, tapi rasanya beda kalau kakakmu Dara tidak tinggal di rumah ini lagi” (begitu Mamak berkeluh kesah).

Pudan kini mengerti benar duduk persoalanya, sudah barang tentu Mamak resah memikirkan bagai mana besok dia harus bertarung sendiri menghadapi kerasnya hidup. Betapa putri kesayanganya yang sudah menemaninya tiga puluh tahun kini harus meninggalkanya dan ikut suaminya. Bukankah itu adalah kodrat manusia? (bisik hatiku). Tapi aku mengerti benar kondisi sekarang, kondisi hati seorang perempuan tua yang ingin selalu ada di dekat anaknya.

Pudan kembali memeluk tubuh Mamak dan berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. “Mamak gak boleh begitu, Mamak harus dengan sukacita mengantarkan kakak untuk menerima pemberkatannya besok. Masih ada aku yang akan selalu ada buat Mamak. Dan percayalah bahwa semua akan baik baik saja Mak” . Begitu Pudan meyakinkan hati Mamak.

Satu malam sebelum pemberkatan nikah Dara, Pudan sengaja menghampiri dua prempuan tangguh yang sangat dia kagumi itu. Perempuan yang benar benar dia kagumi dalam hidupnya. Perempuan yang sudah menjual peluh dan keringatnya untuk Pudan. Untuk kasih sayang, untuk biaya sekolah dan untuk kebahagiaan Pudan dulu dan sekarang. Di raihnya jemari Dara sambil mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Sebuah cincin emas yang sudah disiapkan dengan menyisihkan beberapa jumlah rejekinya berbulan bulan lamanya. Dia memang ingin sekali memberikan cincin itu buat kakak yang sangat dia sayangi itu. Dipasangkanya cincin itu di jari manis Dara. Dipeluknya erat Dara sambil berkata “Aku gak punya apa apa yah kak, semoga kau senang dan keluargamu diberkati Tuhan. Jangan lupa sesekali lihat Mamak nanti kalau kau sudah berumah tangga. Aku sangat mengasihimu kak”. Sengaja Pudan tak berlama lama memeluk Dara, dia takut kalau kalau air matanyanya akan tertumpah. Segera dia mengeluarkan satu lagi kotak kecil dari saku celananya. Diraihnya jemari Mamak yang sangat disayanginya, sebuah cincin bermata bening dibalut emas berbinar kuning kini melingkar di jari manis Mamak. Didekapnya Mamak lama sekali waktu itu dan berkata “Ganjang ma umurmu dah Mak, las roham jala unang marsak ho dah Mak. Porlu dope ho di hami anakkmon (Semoga Mamak panjang umur, jangan sedih lagi. Kami anak anakmu masih membutuhkanmu)”.

Air mata Pudan tertumpah seketika, dan beruntung jatuh tepat di lengan bajunya. Segera diusapnya kelopak matanya agar tak terlihat siapa siapa. Betapa Pudan terlalu pintar menyembunyikan air matanya. Karna dia merasa air mata tak selamanya perlu tertumpah dari mata seorang laki laki 🙂

God bless us.

*** cerita ini disadur dari pengalaman seorang laki laki yang sampai sekarang belajar bagaimana bersikap, bagaimana tegar dan bagaimana berjuang untuk sebuah bahagia.

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

Lika Liku Jejaka live at Mustang 88 FM Radio MONA, temuilah Tuhanmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,882 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: