Lalu apa yang jadi bagian Dara??

December 8, 2011 at 3:46 am 6 comments

Oleh: togi tua sianipar

————————-

SUARA musik bertalu talu saat Dara perempuan bersuara merdu itu melantunkan lagu untuk yang kesekian kalinya. Profesi sebagai biduan pesta kerap dia lakoni hanya untuk mendapatkan tambahan pundi pundi yang harus dia kumpulkan untuk bisa dia pakai melunasi biaya kuliah Pudan adik bungsunya yang sangat dia sayangi dan dia banggakan teramat sangat. Dara memang sudah mantap dengan keputusanya untuk tidak pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan rumahnya di kampung. Dia lebih memilih membantu Ibunya meneruskan usaha Ulos yang sudah sejak dia lahir dikerjakan Ibunya. Lalu sesekali dia menerima tawaran sebagai biduan pesta untuk mengisi waktu luangnya dan demi menambah pendapatannya.

Bertahun tahun dia menjalani profesi itu walau dia tau persis kalau semua materi yang dia dapatkan tidak akan pernah menjadi bagiannya. Dia juga harus kerja keras untuk membiaya sekolah kedua paramannya (anak abang tertuanya) yang tinggal bersamannya saat abang tertuanya itu menderita sakit yang cukup serius.

Yah.. Dara adalah sosok perempuan tangguh hampir sama dengan Ibu yang melahirkannya. Tanpa banyak mengeluh dan dengan sukacita dia menjalani hari harinya seakan itu dijadikannya takdir yang harus dia pikul. Bila saat itu perempuan seusianya sudah memilih untuk menikah dan berkeluarga, namun berbeda dengan Dara yang sudah empat kali menolak lamaran beberapa lelaki yang berniat untuk mempersuntingnya sebagai istri. Tidak juga Dara perempuan yang susah untuk diajak bernegosiasi atau bukan juga dia perempuan dengan segudang kriteria dalam memilih suami. Dara hanya merasa kalau waktu itu belum tepat untuk dia menjalani sebuah pernikahan. Dia masih ingin tetap fokus membantu adik bungsunya menyelesaikan kuliah, membantu biaya sekolah kedua paramannya, membantu dan mememani Ibunya yang sangat dia sayangi.

Usia Dara genap 26 tahun saat dia berhasil menamatkan kuliah adik bungsunya. Tapi Dara masih memilih untuk fokus membantu keluarganya lalu dengan pasti dia memilih untuk tidak menerima lamaran paribannya yang sudah dengan banyak cara diyakinkan orang tuanya agar Dara tidak menolak lamaran itu. Dara hanya tersenyum lalu tanpa basa basi dia berkata “Biarlah aku bantu mamak dan Bapak dulu, kalau Tuhan sudah berkehendak, jodoh itu akan datang dengan sendirinya”. Orang tuanya tak habis pikir akan pola pikir Dara yang dirasa sudah berlebihan. Bukan juga Dara jadi satu satunya sumber pencaharian untuk keluarga. Walau hanya pensiunan pegawai negeri berpangkat rendah, namun Bapak Dara masih bisa mengantongi sedikit rupiah setiap bulannya. Ibunya juga masih tetap menjual Ulos tenunan yang dikerjakan sendiri atau menadah Ulos dari pengerajin di kampung dan memasarkanya kebeberapa penadah dari beberbagai kota bahkan sesekali mengirimkanya ke luar negeri.

Pudan juga kerap kali meminta Dara untuk lebih serius memikirkan pasangan hidupnya kelak. Pudan hanya tak mau kalau Dara akan terlelap dalam ambisinya yang terlalu berlebihan untuk membahagiakan Bapak dan Ibunya. Lagi pula saat itu Pudan sudah bekerja di Jakarta dan sudah bisa menggantikan posisi Dara untuk membantu Bapak dan Ibunya di kampung, bahkan untuk biaya sekolah kedua keponakannya, itupun Pudan sudah menyanggupi. Namun percuma saja, Dara tetap konsisten pada keputusanya kalau waktunya masih belum tepat untuk menikah lalu meninggalkan keluarganya di kampung.

***Usia Dara genap 30 tahun saat Dara akhirnya bersedia menerima lamaran dari seorang lelaki berdarah Tionghoa. Betapa bahagia dan sukacitanya keluarganya saat tau Dara sudah tidak lagi diam dalam prinsip hidupnya yang dirasa jadi beban pikiran kedua orang tuanya kala itu. Tidak tanggung, Dara menyampaikan beberapa permohonan buat lelaki bermata sipit itu agar dia mau untuk di persunting. Dara hanya ingin tidak ada kecewa di mata orang tuanya yang sudah sangat mengharapkan pernikahannya bisa digelar. Lelaki berkulit putih itu dimintanya untuk membayar adat penuh dengan terlebih dahulu membeli marga lalu dengan begitu Dara akan dengan mantap menerima pinangannya. Ternyata bukanlah hal yang terlalu sulit bagi lelaki itu untuk memenuhi permintaan Dara. Sampai akhirnya prosesi pernikahan dan adat berlangsung lancar.

Dara akhirnya meninggalkan rumah orang tuanya dan harus ikut bersama suaminya tinggal di rumah sederhana yang sengaja dibangun suaminya sebelum mereka menikah. Beruntung rasannya Dara tidak terpisah oleh jarak yang terlalu jauh dengan Bapak, Ibu dan keluarganya karna Dara dan suaminya juga tinggal dalam kota yang sama dengan mereka. Dua bulan setelah pernikahannya dan oleh seizin Tuhan, akhirnya Dara mengandung anak pertamanya. Betapa kabar ini membawa sukacita yang luar biasa bagi keluarganya. Bagaimana tidak? ini adalah saat yang telah lama ditunggu tunggu oleh keluarga Dara, terlebih kedua orang tua Dara yang sudah sangat ingin sekali menimang cucu buah pernikahan anak perempuannya. Dara adalah anak perempuan kedua dari keluarganya. Kakak perempuannya yang sudah 13 tahun menikah belum juga dikaruniai keturunan oleh Tuhan. Itu yang membuat kehamilan Dara menjadi sebuah berkat yang luar biasa bagi keluarganya. Persis diusia tujuh bulan kanduangannya, Dara dan Ibunya mempersiapkan berbagai macam kebutuhan Dara. Mulai dari popok bayi, box bayi dan masih banyak lagi. Sama halnya dengan kebanyakan perempuan yang mengandung yang dalam waktu dekat akan melahirkan. Saat itu Dara juga berpesan pada Ibunya kalau kelak saat dia melahirkan, Ibunya yang sangat dia sayangi itu ada disampingnya menemani proses persalinannya.

Tidak juga harapan dan mimpi Dara bersetuju dengan rencana Tuhannya, selang beberapa minggu sejak Dara dan Ibunya mempersiapkan kebutuhan calon bayinya, peristiwa pahit harus bisa ditelan Dara. Peristiwa yang benar benar melululantahkan harapannya saat Ibu yang sangat dia sayangi itu terkena stroke dan harus dirawat berminggu minggu di Rumah Sakit. Betapa hati Dara remuk saat tau kalau Ibu yang teramat sangat dia sayangi itu terbaring lemah bahkan lumpuh kala itu. Dara hanya bisa meratap lalu sesekali dia bercerita kepada Pudan adik bungsunya yang secara ikatan batin sangat dekat dengannya. Akhirnya Dara berusaha tegar dan bangkit, dengan segera Dara berbenah diri dan dengan perlahan namun pasti dia mengerahkan semua yang dia mampu untuk kesembuhan Ibunya. Saat itu Dara seakan mendapati setitik cerah ketika kondisi Ibunya berangsur angsur membaik. Walau Ibunya belum bisa berbicara dengan lantang, namun Dara bersyukur untuk tiap suara yang keluar dari mulut Ibunya, walau belum bisa berjalan normal namun dara bersyukur atas pertolongan Tuhan yang memberikan langkah tertatih buat Ibunya.

***Usia kandungan Dara tepat 9 bulan saat Ibunya sudah bisa berjalan tertatih dan sudah bisa berbicara walau belum terlalu jelas. Walau impianya untuk bisa menjalani proses persalinannya ditemani Ibu yang sangat dia sayangi pupus sudah namun Dara tetap berlapang dada. Bukan hanya itu saja, persalinan normal yang sangat dia harapkan terpaksa harus dia simpan dulu dan dengan terpaksa harus menjalani operasi Caesar. Persis tanggal 19 Mei 2011 akhirnya Dara berhasil menjalani operasi Caesar. Bayi dari kandungannya juga berhasil diangkat.

Betapa riuh sorak sorai dan sukacitanya keluarga Dara menerima kabar kalau Dara sudah melahirkan seorang anak laki laki yang tampan dan sehat. Bapak dan Ibu Dara juga dengan buru buru menghubungi penatua dilingkungan rumah tempat mereka tinggal untuk menyampaikan kabar sukacita itu dan tak lupa memberikan beberapa rupiah sebagai ucapan syukur mereka akan berkat Tuhan atas kelahiran cucu yang sudah 13 tahun mereka tunggu tunggu.

Namun sukacita itu memudar dan perlahan luntur saat bayi Dara harus mendapat perawatan intensive karena ada sesuatu yang tidak lazim terjadi pada otak bayinya. Lima hari Dara dan suaminya bertekun dalam doa, begitu juga dengan Opung Doli dan Opung Borunya, Tuanya, dan ketiga Tulangnya yang teramat sangat mengharapkan kesehatan bayi Dara yang belakangan diberi nama Bryan Gabriel”  oleh Tulang dan Akongnya saat dilarikan ke salah satu Rumah Sakit Internasional di Medan.

Pagi di hari kelima sejak Gabriel hadir oleh seizin Tuhan, dan dengan seizin Tuhan pula dia pergi selamanya dalam tidur abadi tanpa Dara pernah menimangnya, tanpa Opungnya pernah menggendongnya, tanpa Tulang yang memberikan dia nama menciumnya hangat.

“Gabriel sudah diambil Tuhan dek, lalu apa yang jadi bagianku?” kata Dara datar saat tangisnya memecah hati Pudan terurai dalam telpon. Pudan terdiam dan tak sanggup berkata sekalipun tidak. “Apa yang harus aku katakan sama mamak dek?, kalau nanti mamak kenapa kenapa karna tau ini gimana?”. Pudan masih terdiam lalu mimirkan sepenggal kata dari mulut Dara, kakak yang sangat dia banggakan dan teramat sangat dia sayangi itu. Pudan benar benar hanya bisa diam bahkan sampai Pudan terbang menuju Medan, lalu terbang lagi menuju Tarutung, berjumpa dengan perempuan biduan pesta itu, perempuan pengerajin ulos dan perempuan tangguh yang telah membuat Pudan berhutang banyak hal dalam hidupnya.

***Pudan hanya bisa terdiam, hantinya ikut bertanya “lalu apa yang jadi bagian Dara yah Tuhan??”.

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

Tuhan besertamu mamak Kali keempat kecewa mencoba datang

6 Comments Add your own

  • 1. Wiwin  |  December 8, 2011 at 8:55 am

    Pudan adalah bagian nya Dara, begitu juga Mama dan Bapak terlebih Suaminya. Tetap semangat Dara, You are such a great woman. Yakinlah, apa yang kau tabur, itu yang kau Tuai. Dan percayalah tangan Tuhan tidak pernah terlambat untuk menolong.

    Reply
  • 2. no limit adventure  |  March 9, 2012 at 2:58 am

    salam sukses selalu gan 🙂

    Reply
  • 3. arif  |  April 3, 2012 at 8:40 am

    ya begitulah… coba si pudan bisa lebih bersabar 🙂

    Reply
  • 4. Maximum  |  May 8, 2012 at 9:19 am

    Tabahlah dara.. sesungguhnya tuhan mempunyai rencana lain untuk dara agar mendapatkan bagian .. sabar.. 🙂

    Reply
  • 5. jual rumah makassar  |  May 22, 2012 at 9:18 am

    sungguh perjuangan yang amatkeras ya….

    Reply
  • 6. luph  |  August 29, 2012 at 2:50 pm

    naiz story dg pilihan huruf yang baik

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,997 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: