Melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang

December 8, 2011 at 3:39 am 2 comments

oleh : togi tua sianipar

=============

PAGI di hari kedua oktober 2010 adalah jadwal kedua buatku untuk menjalani pengobatan dengan cara akupuntur karna satu sakit yang aku derita beberapa tahun belakangan ini. Kalau proses akupuntur pertama aku jalani di Win Lab Mall of Indonesia maka jadwal akupuntur ke dua harus aku jalani di Polikliinik Mediko di daerah Jati Negara. Itu adalah jadwal yang diberikan buatku karna harus mengikuti jadwal praktek dr. Melya Warianto seorang dokter spesialis akupuntur yang punya kepribadian yang sangat luar biasa, beliau laksana titisan dewi berhati malaikat. Sudah sangat jarang sekali aku menemukan sosok dokter seperti beliau.

Proses akupuntur yang pertama kali kujalani seumur hidupku untuk sebuah pengobatan, sangat menakutkan di awal. Bagaimana tidak, membayangkan banyak jarum yang ditikamkankan ke tubuh sudah sangat mengerikan buatku. Namun ini adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh. Sampai tadi pagi aku harus bangun lebih pagi untuk mengejar jadwal akupuntur yang sudah diberikan buatku.

Pukul 07.30 aku dibangunkan oleh suara alaram yang sengaja aku setting. Berat sekali rasanya pagi itu, mengingat aku baru tertidur 4 jam. Belum lagi otakku dihantui rasa takut akan banyak jarum yang ditikamkan ke permukaan tubuhku. Bukan cuman itu, tiga jarum juga harus dirajam di lidahku untuk mengkontrol saraf yang ada di lidah. Namun aku harus menjalaninya untuk mendapatkan kesembuhan.

Setelah berdoa aku bergegas untuk mandi lalu tanpa sarapan apa apa, aku segera bergegas menuju poliklinik yang sama sekali belum pernah aku datangi sebelumnya. Namun berbekal alamat yang jelas dan sesekali bertanya kepada orang orang di jalan, akhirnya aku sampai tepat waktu.

Ramai sekali poliklinik pagi itu, kursi tunggu juga tak bersisa barang satu saja. Lalu aku segera mendaftarkan diri setelah selesai memarkirkan motor di area parkir. Tidak lama aku segera dihantar ke ruangan akupuntur karna memang sudah ada appointment dengan dr Melya yang menyapaku dengan senyumnya yang sejuk pagi itu.

Sesaat setelah aku masuk keruangan itu, kakiku terhenti lalu menatap sekeliling. Bulu kuduku merinding lalu bibirku bergetar melihat dua orang pasien yang sedang menajalani pengobatan akupuntur saat itu.

Pasien itu masih terlalu muda, seorang laki laki berumur 4 tahun dan seorangnya lagi perempuan berumur 5 tahun. Anak lelaki itu bernama Yoga, kepalanya sangat besar sekali berbentuk loncong, dan aku sampai ngeri memandang wajah anak itu. Lalu anak perempuan itu bernama Grace juga punya ciri ciri yang sedikit sama dengan Yoga, namun tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding Yoga.

Tubuh mereka berdua telanjang tak berbalut kain, yang terlihat hanya puluhan jarum merajam di bagian kepala, punggung, dada, perut sampai ke kaki. Hatiku seakan disayat lalu terpercik air garam, perih sekali melihatnya. Lalu sesekali mereka mengangis menahan sakit namun tak sanggup berucap. Seperti Yoga yang duduk tepat di sampingku, dia sengaja didudukkan dipangkuan Ayahnya. Yoga sering sekali menjerit dan menangis tiba tiba, seakan dia ingin sekali berucap lantang “tolong lepaskan semua jarum ini ayah..!!!”. Tapi sayangnya dia bukanlah anak yang normal seperti kebanyakan anak seusianya yang sudah bisa berbicara dengan suara lantang. Dia hanya bisa menangis lalu air matanya tertumpah sangat deras. Mulutnya juga basah karna banyak air ludah yang keluar beriring air matanya.

Tapi taukah kamu kalau Ayah Yoga dan Ibunya Grace yang terduduk setia menatap anaknya terlihat ikut merasakan apa yang Yoga dan Grace rasakan. Mereka terlihat sangat menyangi anak mereka yang terlahir sebagai anak tidak normal. Yah.. Yoga dan Grace adalah anak penyandang/penderita autis yang hanya ingin berjuang untuk keluar dari takdir yang Tuhan sudah berikan untuk mereka.

Aku malah tak mengerti apakah itu takdir yang harus mereka telan lalu dengan penuh usaha dan perjuangan menawar takdir itu pada Sang Khalik?? Yang jelas mereka punya hak yang sama seperti kita yang ingin hidupnya lebih layak, yang ingin hidupnya terlahir sempurna seperti kita sekarang.

Sesekali kutatap wajah Ayah Yoga yang sedari tadi berusaha mengalihkan perhatian Yoga dari rasa sakit yang dideritanya. Lalu sesekali beliau tersenyum dan kemudian menangis mencium Yoga. Hatinya seakan berkecamuk meratapi hidupnya yang harus berlapang dada menerima titipan terindah dari Tuhannya. Sorot matanya tampak mengumpulkan remah remah semangat yang hampir saja pecah terbuang. Lalu seketika beliau membuka mulutnya menatapku berucap “Aku sangat sayang sama dia mas, Yoga anak pertamaku yang benar benar berharga dan luar biasa buatku. Terkadang sulit untuk bisa mengerti apa maunya Tuhan mas, cuman aku berusaha iklas atas semua ini”. Air mataku seketika saja tertumpah dan benar benar tidak sanggup berucap apa apa. Aku hanya merasa kalau semangat yang ingin kutularkan buatnya sama sekali belum bisa disebut semangat buatnya karna situasi yang luar biasa tengah dialaminya.

Lalu beliau kembali menatapku sambil mengusap rambut Yoga dan berucap “Jangan nangis yah Om, gak usah kasihan sama Yoga. Yoga hanya butuh bantu doa yah Om..”. Begitu cara beliau memintaku mengusap air mata yang tertumpah saat itu.

Lalu kemudian dr. Melya datang dan menyuruhku merebahkan badan di tempat yang sudah disiapkan. Sedikit bertanya tentang keluhan dan perkembangan setelah akupuntur pertama, beliau kembali menikamkan belasan jarum di lidah, leher, dada, perut dan kakiku. Kali ini tidak sedikitpun rasa sakit itu datang, entah kenapa sakit itu berpindah lalu menyusup ke hatiku. Yahh…“melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang”.

Yoda dan Grace adalah anak yang luar biasa buatku. Dengan besarnya pencobaan yang Tuhan taruhkan di pundak mereka tidak sedikitpun membuat mereka meratap lalu pasrah menerima takdir. Terlebih buat orang tua mereka berdua. Sungguh orang tua yang luar biasa dan benar benar berhati besar. Sungguh Tuhan tak salah memlilh mereka sebagai orang tua dari Yoga dan Grace. Tidak sedikitpun mereka menyerah untuk sebuah kata bahagia menyaksikan anak mereka sembuh lalu bersyukur atas semua yang Tuhan sudah berikan.

Kini coba kita menilik sedikit saja pada bilik dihati kita, apakah masih ada ruang untuk bersabar dan bersyukur atas banyak bahagia yang kita punya. Aku malah tak menyadari kalau betapa banyak hal yang perlu disyukuri dalam hidup ini. Bersyukur buat kesehatan, bersyukur buat orang tua yang selalu ada buat kita, bersyukur buat teman dan bersyukur buat makan dan minum yang bisa aku nikmati.

Tiga puluh menit sudah berlalu aku memikirkan betapa angkuhnya hatiku, lalu seorang suster datang menyibak tirai biilik tempat aku merebahkan badan. Lalu perlahan dia menarik jarum satu persatu dari tubuhku dan tersenyum sambil berkata “semoga lekas sembuh yah pak”.

Kupasangkan sendal hitam di kedua telapak kakiku, kemudian menapak dan melintas dari hadapan Yoga dan Ayahnya. Hanya senyum yang bisa aku berikan buat Yoga dan doa yang teramat tulus dari lubuk hatiku “Kiranya Tuhan menyembuhkanya”.

Kemudian kini hatiku selalu diteror dengan banyak pertanyaan yang membuat aku malu untuk menjawab. Lalu apakah aku harus berduka kemudian mengumpat, mengutuk hanya karna sebuah cerita cinta yang kadang gagal, atau hanya karna banyak error pada baris codingku, atau hanya karna teman yang buat aku betek, atau hanya karna gajiku tak setinggi gaji orang lain, atau hanya karna aku tidak punya harta dan materi yang banyak?

Sungguh bodohnya apabila diri dibelunggu oleh satu judul saja. Bukankah hidup itu penuh warna?  Tinggal bagaimana caranya memadu padankan warna itu biar terlihat bernilai lalu membius mata untuk mengagumi indahnya.

God bless us.

*** btw, sampai lupa, menuliskan tentang penyakit yang aku derita. sebenarnya bukan sebuah penyakit serius. hanya berupa pencegahan karna gula darah dan kolestrol yang belakangan ini tak terkontrol. Ditambah olah raga yang hampir tidak pernah membuat sering sakit kepala dan sedikit menghambat proses pencernaan. Namun karna belakangan menganggu konsentrasi maka merasa perlu melakukan pencegahan dini agar dampaknya tidak meluas di hari esok.

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

Panggil aku “Pandu” [part 1] [KKDH] Melepasmu, perempuanku berambut sebahu

2 Comments Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,997 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: