Panggil aku “Pandu” [part 1]

December 8, 2011 at 3:38 am Leave a comment

oleh: togi tua sianipar

=============

SUARA langkah kaki itu sudah tidak asing lagi di telinga Pandu laki laki yang masih duduk di bangku sekolah dasar kala itu. Sebenarnya sudah sejak sepuluh menit lalu dia terbangun dari tidurnya namun dinginnya subuh masih membuat dia enggan beranjak dari tempat tidurnya yang sengaja dibagi berdua dengan abangnya. Seketika saja Pandu kembali menutup matanya saat suara langkah kaki itu terasa dekat dari telinganya. Dia mencoba berusaha berpura pura tidur lagi berharap ada sesuatu yang nantinya akan berubah saat langkah itu berhenti di dekatnya lalu berpaling saat melihatnya masih larut dalam tidur yang indah. Namun sepertinya ini adalah kegagalan yang kesekian kalinya dia terima dengan berpura pura menutup mata agar terlihat masih tertiidur nyenyak.

Yah, Pandu harus segera mengakhiri tidurnya saat langkah kaki itu tepat berhenti di sebelahnya lalu tangan lembut mengusap wajahnya dan berbisik lembut “Bangunlah mang, kau harus segera pergi biar tidak telat dan tidak pulang dengan tangan kosong lagi seperti beberapa minggu lalu”. Itu yang membuat Pandu segera bangun dari tidurnya lalu bergegas untuk membasuh wajahnya dengan dinginya air subuh itu. Dia hanya tidak mau membuat kecewa ibunya lagi seperti beberapa minggu yang lalu dia gagal membawa pulang beberapa gulungan benang yang akan dipakai ibunya menenun mawar yang indah dalam beribu barisan benang berpadu.

Tak lama setelah Pandu menerima catatan kecil dari ibunya, dia bergegas melangkahkan kakinya keluar dari mulut pintu rumahnya menembus embun yang masih merayap terapung bagai lautan putih tak bertepi.Tidak banyak yang dia pikirkan bahkan untuk mengeluhpun dia tak sanggup, dia hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa sampai di pasar dengan cepat agar dia bisa membawakan benang pesanan ibunya subuh itu. Berjelajah dan menapak, Pandu hanya terdiam lalu sesekali mengeratkan jaket tebal di bandannya yang sengaja dipasangkan ibunya saat dia berangkat dari rumahnya tadi. Dinginnya subuh benar benar tak bisa ditawar oleh Pandu, toh juga itu sudah jadi sahabat baginya yang sudah dua tahun terakhir menemaninya menapaki subuh dan menenangkannya dari rasa takut dan sepi batinya.

Begitulah Pandu acap kali melakukan tugasnya di sabtu subuh. Dia harus menggantikan ibunya untuk menjemput kiloan benang yang akan dipintal dan ditenun oleh sang ibu demi mendapatkan uang yang sangat berarti baginya dan keluarganya. Bagaimana bisa dia menolak tugas itu lalu memilih untuk berdiam diri layaknya anak anak seusianya yang cukup duduk manis lalu sesekali merengek meminta uang atau suatu hadiah dari bapak dan ibunya. Mustahil Pandu memilih jalan itu lalu dengan keras hati menyaksikan ibunya merintih sakit menahan rematiknya kambuh karna harus memaksakan diri bergulat dengan dinginya subuh menusuk dan merajam tulangnya. Dia sungguh mencintai ibunya yang sudah dengan penuh cerita berjuang untuk sebuah harap yang dia juga belum tau akan berujung dalam episode yang seperti apa kelak.

Kali ini Pandu berhasil membawa kiloan benang berwarna ganding yang dipesankan ibunya. Batinya cukup puas lalu dengan senyum bahagia dia kembali melangkah pulang menuju rumahnya. Kali ini dia tidak perlu takut atau merasakan lagi dingin menyusup celah pada jaketnya karna matahari sudah mulai terbangun lalu mengintip dari balik bukit Siatas Barita yang berdiri menegak memandangnya. Nafasnya sedikit terengah engah lalu sesekali dihembuskanya kencang mengusir letihnya. Pantas saja, tidak setegukpun air mengalir ditenggorokanya sejak tadi, tidak juga dia memakan sepotong kue atau roti mengganjal perutnya yang agak lapar. Uang yang diberikan ibunya selalu tidak bersisa bahkan terkadang kurang. Namun Pandu tidak pernah mengeluh,dia merasa kalau itu sudah takdir yang harus dia telan lalu masuk ke lambungnya. Hanya ada dua pilihan buatnya kala itu, menjalankan tugas dari ibunya lalu bersekolah atau menolak tugas ibunya lalu duduk dan berdiam di rumah tanpa mau merasakan bagaimana nikmatnya belajar di sekolah bersama teman teman seusianya. Pandu memperbesar langkahnya sambil sesekali berlari kecil agar tidak telat sampai di rumahnya. Berkilo kilo panjang jalan yang dia tapaki dengan kakinya yang kurus, dia tidak mau telat lagi ke sekolah pagi itu lalu diolok olok teman teman di kelasnya.

Tidak lama akhirnya Pandu sampai di rumahnya yang kecil namun terasa hangat baginya. Diletakkanya kiloan benang yang dia bawa di atas meja yang membisu berdiri di dapur rumahnya. Kakanya segera menyambutnya lalu menyiapkanya seember air hangat di kamar mandi. Entah apa juga yang membuat kakak perempuanya itu selalu menyiapkan seember air hangat tiap kali Pandu pulang dari pasar memebeli benang. Yang dia tau ibunya berpesan kepada kakaknya untuk melakukanya lalu kakak perempuanya harus melalukan itu, hanya itu yang dia tau. Dengan segera Pandu bersiap untuk mandi merasakan sedikit hangatnya hadiah yang sampai sekarang sangat dia rindukan dari kakak perempuanya itu. Lalu setelah dia merasakan hangat di tubuhnya oleh balutan handuk dan berpakaian seragam putih merahnya, Pandu harus segera melahap sarapan paginya sebelum berangkat ke sekolah bersama abang dan kakaknya. Sepiring nasi putih hangat dengan potongan kecil telur dadar sudah siap dia santap. Tidak perlu bersungut sungut kenapa pagi itu dia harus merasakan menu yang hampir sama untuk tiap pagi, tidak perlu juga dia mengerutkan dahinya lalu protes kenapa bukan sepotong daging yang dia terima atas kerja kerasnya pagi itu. Karna lagi lagi Pandu dan saudaranya tidak punya pilihan menu istimewa seperti yang ada di meja makan tetangganya. Pandu terduduk cukup manis di kursi yang sudah diwariskan oleh penghuni rumahnya baginya, tepat berhadapan dengan kursi abangnya yang sulung, lalu kedua kakak perempuanya mengapitnya di sisi kiri dan kanan, sementara abangnya yang satu lagi duduk tepat bersanding dengan si sulung. Lalu kakak perempuanya yang tertua memulai doa pagi itu, berharap sepiring nasi putih hangat dengan potongan kecil telur dadar dan segelas teh manis hangat itu menjadi tenaga baru dan berkat buat tubuh mereka berjelajah dalam semua aktifitas mereka pagi itu. Sementara bapak dan ibunya duduk di kursi bertulang jati sederhana di ruang tamu, entah apa yang mereka selalu perbincangkan setiap pagi di meja itu. Pandu tidak pernah memaksakan dirinya untuk mengetahui perbincangan mereka, karna bibirnya akan terkunci rapat tiap kali dia berusaha mempertanyakan itu kepada saudaranya di meja makan itu. Abangnya yang sulung akan segera menyuruhnya menutup mulutnya lalu berpesan “segera habiskan makanmu, lalu pergi agar tidak telat sampai di sekolah”. Pandu harus segera bergegas saat abangnya anak ke empat di rumahnya itu selesai membereskan semua piring dan gelas yang ada di meja makan karna itu sudah jadi tugas baginya.

Lalu dengan sedikit terburu buru Pandu memakaikan sepatu “Bridge” berwarna putih yang entah sudah beberapa minggu mangap dan terpaksa dia lem dengan lem uhu karna jahitannya sudah terbuka. Dia hanya berharap pada Tuhan agar waktu berputar dengan kencang mengalahkan kencangnya roda sepeda Dedi tetangganya yang bulan lalu dihadiahkan sepeda bagus oleh orang tuanya. Pandu hanya ingin hari Natal segera mendekatnya lalu dengan begitu dia akan mendapatkan sepatu baru sebagai jatah tahunan dari bapak dan ibunya. Namun sayangnya dia harus menunggu dua bulan lagi untuk mendapatkan itu. Setelah berpamitan dengan bapak dan ibunya, Pandu bergegas menuju sekolahnya di bukit kecil sekitar satu kilo meter dari rumahnya. Tak lupa abangnya yang sulung berpesan untuknya, abangnya dan kedua kakaknya agar siang nanti pulang dengan nilai yang bagus, “kasihan bapak dan ibu kalau nanti meraka menemukan nilai jelek di buku kita dik..!!”, begitu si sulung berpesan. Pandu selalu mendengarkan pesan itu dengan baik lalu berusaha belajar sebaik yang dia punya di sekolah. Tidak heran kalau ketika itu Pandu dan saudara saudaranya selalu mendapat rangking kelas, walau dirinya tidak sehebat abang ke duanya yang selalu sukses berdiri sebagai rangking satu di kelasnya. Pandu yakin kalau suatu saat kelak dia akan bisa medapatkan itu dan berkesempatan diajak bapak menonton filem di bioskop sebagai hadiah rangking satu kelas.

*** tobe continue

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

Hari Pengantin Bonar Melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,997 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: