Tuhan besertamu mamak

December 8, 2011 at 3:45 am Leave a comment

oleh: togi tua sianipar

———————-

KUTERBANGKAN anganku jauh menembus kaca bus lalu kemudian menyatu dengan angin dan melayang menuju Sumatera. Siang itu adalah hari yang paling aku benci seumur hidupku. Hari yang memaksaku untuk kembali ke Jakarta dan meninggalkan Mamak yang masih terbaring sakit di sebuah rumah sakit di kota Medan. Betapa aku tak berdaya sedikitpun untuk mencoba berontak dan menolak panggilan kota buas itu. Entah kenapa juga aku harus tunduk lalu kemudian menghampirinya dan menepikan banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar berjumpa denganmu Jakarta.

Andai saja aku masih punya dua pilihan saja kala itu, sudah dengan pasti dan lantang aku menolak saat Jakarta memanggilku pulang. Namun sayang, tak ada yang bisa memberiku satu pilihan lain sajapun tidak ada. Aku harus pulang ke Jakarta untuk bergulat bahkan sesekali jungkir balik untuk mendapatkan materi yang sebenarnya jumlahnya juga tidak cukup membayar keringat dan air mata yang tertumpah saat meraihnya. Aku hanya tidak ingin duduk dalam lamunan dan angan angan kosong kemudian berhenti tanpa berbuat lalu mengeluh tanpa berusaha. Untuk itu hampir enam tahun belakangan aku pasrah diperkosa Jakarta sampai dia puas lalu melepasku. Inilah aku yang sudah hampir enam tahun melacur untukmu Jakarta.

Seketika anganku terhenti saat wajahku ditimpah sinaran mata hari siang saat bus melaju garang, tak terlalu terik namun benci rasa hatiku dibuatnya. Aku galau saat batinku merasa diperkosa banyak hal yang dengan semena mena menelanjangi dan kemudian menodai hati kecilku yang sejatinya tulus namun kini mulai terinfeksi oleh pikiran dan prasangka buruk.

Aku bukan menuntut banyak kala itu, hanya ingin sekali kembali ke Medan untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi merawat Mamak yang masih terbaring lemah di rumah sakit saat aku tinggal pagi hari tadi. Aku hanya ingin ada di sampingnya membelai rambutnya yang sudah mulai memutih, aku hanya ingin menggenggam jemarinya saat kosong yang ada dipikirannya, aku hanya ingin mengajarinya menyebut ”A”, ”B”, ”C” atau bakan sesekali mengajarinya memanggil namaku ”TOGI”. Aku hanya ingin membantunya mengartikan setiap kata yang keluar dari mulutnya walau yang ada hanya kata yang sejujurnya sulit untuk aku mengerti, aku hanya ingin memberinya semangat untuk berusaha mengerakkan kaki dan tanganya lalu kemudian kuberikan dia hadiah ciuman di pipi dan bibirnya yang kering.

Sudah empat belas hari Mamak terbaring di rumah sakit saat aku meninggalkanya untuk pulang ke Jakarta. Persis tanggal empat maret lalu peristiwa pahit itu dimulai.

Saat pagi seperti biasa aku berangkat ke kantor dan kemudian memacu motorku berjelajah di jalan yang panjang berpuluh kilometer jaraknya. Seperti biasa pagi itu aku singgah di kantin kantor untuk sekedar membeli sebungkus nasi goreng lalu kemudian masuk ke ruanganku. Kubuka jaket yang menempel di badanku dan perlahan kukeluarkan telepon genggam yang sengaja kumasukkan di saku jaket. Ada tujuh panggilan tidak terjawab dari ”Dara” kakakku yang tinggal di Tarutung. Seketika saja jantungku berdegup kuat, namun sekali saja lalu kemudian nafasku sulit kutarik. Ada perasaan lain yang tiba tiba membuat aku takut lalu cemas tak terkatakan. Segera kulakukan panggilan balik ke nomor Dara, tak lama teleponku tersambung dan kemudian hanya suara tangisan yang kudengar sambil sesekali berbicara namun terbata bata. Aku panik luar biasa sampai akhirnya aku tau kalau sesuatu telah terjadi dengan Mamak pagi itu. Seketika saja hatiku kosong, pikiranku datar, semua kulit diwajahku seakan mengencang dan mataku kaku tak niat bergerak sedikitpun. Tiba tiba bayang bayang wajah Mamak perempuan yang melahirkan dan membesarkan aku itu datang berbondong bondong di pikiranku. Hatiku remuk seketika itu, seakan aku hampir bertemu dengan ajalku. Lama hatiku kosong melompong, wajahku panas, namun mataku masih tetap kaku. Perih sekali rasanya di palung hatiku terdalam dan perlahan kucoba untuk menarik nafas untuk sekedar memastikan apa peristiwa itu hanya mimpi yang tak jelas arahnya kemana.

Kuteguk air bening dari gelas yang terletak di mejaku, berjalan aku tapi tak tau hendak kemana kaki ini kubawa melangkah. Seketika saja kelopak mataku penuh seakan ingin memuntahkan lahar berkubik kubik saat akhirnya kakiku membawaku menepi ke toilet tak jauh dari mejaku. ”Hatiku remuk yah Tuhan, kenapa ini harus terjadi? Inikah upah atas kebaikan Mamak selama ini?”. Tumpah sudah airmataku berlomba tak terhentikan apapun. Bila saja hatiku dapat kuraih dengan tanganku, sudahlah aku menggenggamnya agar tak jatuh dari tampuknya.

Kembali kuraih HPku untuk kemudian mencoba menelpon keponakanku Carlos yang sudah sejak balita tinggal bersama Mamak. Aku ingin tau cerita yang sebenarnya dan berharap kalau semua itu bohong. Namun ternyata harapku kalah dan kini hatiku meradang menahan sakit yang termat kalau tenyata Mamak benar benar kena stroke.

Andai saja aku tidak menunggu waktu yang cocok dengan suasana hatiku untuk menelponya. Andai saja aku mau menyisihkan waktu bareng satu menit saja saat empat hari sebelum kejadian itu aku berniat menelponya. Andai saja aku…….

Bodohnya aku yang melewatkan empat hari berturut turut tanpa menelponya dan menanyakan kabarnya seperti yang biasa aku lakukan sebelumnya.

Dan sekarang pada siapa aku harus menyesali kebodohanku yang sudah empat hari terakhir tidak memanggilnya dari balik telepon persegi itu. Aku hanya ingin mendengar suaranya menyebut namaku ”Togi” atau bertanya ”Apa kabar?”.

Aku ingin sekali membunuh nyawaku saat kutau Mamak saat itu sudah tidak dapat lagi berkata kata, saat kutau Mamak sudah tidak dapat lagi berdiri, saat kutau Mamak sudah tidak dapat lagi menggerakkan kaki dan tangan kanannya. Bisik hatiku sendu persis dikedua daun telingaku ”Kisahmu sudah berakhir togi, maka nikmatilah mimpi dan angan anganmu yang tolol itu, karna semua itu sudah tak ada artinya lagi”.

Saat hatiku sudah tercabik cabik, saat pikiranku datar dan saat lututku terasa tak kuat lagi menopang badanku. Kembali aku membayangkan wajah Mamak.

Mamak bagian terpenting dalam hidupku, Mamak adalah alasan untuk aku bertahan hidup sampai saat ini, Mamak adalah penawar lara hatiku, Mamak adalah satu satunya sosok yang kucintai teramat sangat hampir sejajar dengan Tuhanku. Mamak adalah jiwaku dan nafasku. Mamak adalah segalanya buatku.

Sungguh aku tidak sanggup bila harus melihatnya dalam kesulitan dan terjerat oleh penyakit yang merampas bahagianya.

Demi Tuhan aku tidak berdusta apalagi menipu untuk setiap mata dan telinga yang berjumpa denganku. Mamak bagaikan Tuhanku yang selalu ada buatku dalam setiap pinta dan harapku. Sungguh aku tidak ingin menceritakan semua ini, namun aku hanya ingin dunia tau kalau tidak banyak Mamak di muka bumi ini sanggup bersaing dengan Mamakku yang hati dan jiwanya melebihi perempuan dari dunia manapun. Belum juga perempuan bertitel pahlawan sanggup mengalahkan rasa banggaku akan Mamak.

Dia yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan ribuan cerita tersusun rapih dalam sebuah buku yang kuletakkan di hatiku agar tak dapat dicuri siapapun. Dia yang sanggup mendustai mulut, mata bahkan perutnya hanya untuk anak anaknya. Dia yang sanggup menghapus keringatnya dan air matanya dengan senyum, walau kutau hatinya menjerit perih.

Mamak….!!!, rindu sekali rasanya aku mendengar suaramu merabah gendang telingaku lalu hatiku teduh dan tentram karnanya.

Dua minggu sudah aku menghabiskan waktu denganmu. Lalu lima hari diantaranya kau diam berbaring di ruang ICU dan memberiku banyak waktu untuk menumpahkan air mataku agar tak terlihat olehmu. Maka basah kelopak mataku dan tirisan air yang tak sengaja jatuh dipipimu saat aku menciummu, itupun tak kau tau.

Andai saja aku bukan terlahir olehmu, maka sudahlah aku mencari Tuhan lain lalu mengadu kepadanya. Namun nasihat dan petuah yang kau tanamkan buatku sejak kau mengenalkan Allahmu kepadaku, maka aku juga mengenalNYA dan percaya kepadaNYA.

Untuk itu dua minggu kita bertekun bersama dalam doa dan harap. Bahwa sejatinya tidak ada usaha yang sia sia dihadapan Tuhan.

Kemudian perlahan DIA mengembalikan suaramu, gerak di kaki dan tanganmu. Dan perlahan namun pasti aku yakin Mamak akan sembuh dan pulih oleh pertolongan Tuhanku.

Mamak…., bila untuk banyak hal hati dan mulutku sanggup berdusta. Namun untukmu kutak sanggup melakukannya. Maka itu pagi disaat pesawat yang akan membawaku terbang kembali ke Jakarta menungguku, kubisikkan ditelingamu ”Ganjang ma umurmu dah Mak, dang tolap au dope tading so marina, pos roham na lehonon ni Tuhan hamamalum tu Mamak dah”. Lalu bahagia rasa hatiku saat kau membalasku dengan senyum untuk membuatku yakin walau tidak terlalu jelas ucapanmu namun hatiku mengerti ”olo pudan naburju”.

Tidak lupa kita menyanyikan lagu kesayangan kita yang sudah kau ajarkan hampir dua puluh enam tahun yang lalu:

“Tuhan Debata sai ramotima,

Daging dohot tondi nami,

Ido pangidoan nami,

Sai pahipas be,

Hami on sude.”

God bless you Mamak, Bapak, Abang, Kakak dan semua keponakanku.

***Senang rasanya kalau sekarang kondisi Mamak sudah makin membaik, dan kini sudah dirawat di rumah untuk selanjutnya terapi rutin.

Semangat Mak’eeeeeeeee…….

Untukmu yang masih punya waktu bersama sama untuk membahagiakan orang tuamu, maka lakukanlah dini, tak perlu menunda nunda waktu.

Anyway terima kasih buat semua teman temanku yang sudah memberikan dukungan dan semangat untuk kesembuhan Mamakku, buat teman teman Alumni del yang sudah datang berkunjung ke RS Adam Malik Medan, buat teman teman SMA dulu dan buat semua doa dari semua teman teman sekantor.

Advertisements

Entry filed under: Cerpen.

Bapakku adalah bapak juara satu sedunia Lalu apa yang jadi bagian Dara??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

  • 27,882 visitor

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: