Archive for February, 2014

__menapak dalam tegar

oleh: togi tua sianipar

———————

PAGI ini hujan lagi, wiper mobilku semakin cepat bergerak ke kiri dan ke kanan. Jalanan macet tak bisa dielakkan lagi. Panjangnya antrian kendaraaan di setiap persimpangan dan lampu merah membuatku bosan lalu sesekali marah dengan kondisi macetnya jalanan Jakarta. Tiba-tiba saja seorang ibu tua menjulurkan tangannya tepat di depan wajahku dan membuatku terkejut bukan main. Kaca mobil memang sengaja kubiarkan terbuka separuh agar asap rokok yang kubakar tidak membuat pengap udara di mobil. “Buat makan pak..!!!, buat makan pak..!!!” begitu si Ibu berkata-kata dengan tatapan kosong dan air muka yang hambar tak berasa. Basah kepala dan bajunya tak lagi dia hiraukan.

Kuraih receh dari laci mobil lalu ku berikan padanya. Kuamati lagi wajah itu pelan-pelan. Yah pelan-pelan. Sepertinya aku mengenal wajahnya. Betul, aku mengenalnya. Itu wajahku!!!. Wajah dengan jenis ekspresi merana, nelangsa, meranggas, penuh derita, sakit. Itu benar-benar wajahku, wajahku yang dulu, wajahku tiga tahun lalu, wajahku yang sempat ingin kubunuh tapi tak sempat. **Anganku seketika saja terbang pada peristiwa dulu.

Tahun 2011 dulu. Bulan pertama setelah banyak pertistiwa pahit yang aku alami benar-benar menyeretku masuk dalam keterpurukan. Peristiwa saat Tuhan izinkan Mamak yang teramat sangat aku kasihi bergulat dengan sakit stroke yang serius membuat semangat yang sedari kecil aku pupuk seakan layu , kering meranggas dan hampir mati.

Tidak mudah untuk melewati semuanya itu, tidak mudah juga untuk berpura-pura bersikap tegar dan berusaha iklas akan semua kejadian itu. Yahhh, aku hanya seorang biasa yang tidak pernah siap untuk menerima rasa sakit yang merajam hati.

Hari-hari yang sangat berat kulewati tanpa ada semangat, bahkan tak ada harapan. Hidup seakan aku jalani tanpa ada tujuan. Aku jatuh dan terpuruk, terperosok jauh sekali. Hidup hanya dihantui rasa takut, sakit hati dan tidak ada damai di hatiku. Tak ada seharipun kulewatkan tanpa mempersalahkan Tuhan yang saat itu aku rasa cukup semena-mena membiarkan semua itu terjadi. Rasa percaya diri seakan hilang terbang terhembus angin entah kemana.

Malu dan letih aku harus menjual sedih dan cerita pada setiap teman yang aku harap bisa membantuku sekedar meminjam uang menebus obat Mamak dan untuk semua biaya teraphy yang dibutuhkannya. Sampai akhirnya rasa sudah takdapat kukenali lagi, tidak lagi ada sedih, riang dan entah apapun itu. Semua aku lakukan seolah hanya semacam keharusan untuk setiap minggu harus menyiapkan uang berjuta-juta rupiah lalu dengan sigap mengirimkannya ke kampung untuk biaya pengobatan Mamak.

Tidak seorangpun keluarga kuijinkan masuk dalam kubangan dan jeratan hutang ini, karena penuh pasrah dan iklas aku menyiapkan leherku terpenggal oleh hutang yang aku gauli. Air mata sudah jadi hal biasa kupakai sebagai senjata bila ada mulut yang menolakku saat mengemis ibah. Namun itu keluar begitu saja tanpa rasa malu dan bahkan tidak berasa apapun di hatiku.

Berat sekali dan hampir aku menyerah saat itu. Sejatinya aku merasa hanya berjalan pada sebuah putaran permainan yang ada pada level penghabisan menunggu game over. Yahhh bagaimana tidak, hanya untuk mengisi perut saja rasanya sulit sekali saat itu. Beruntung saya masih punya teman-teman dekat yang masih mau meperhatikanku dan membantuku walau sesungguhnya aku tak peduli apa motivasi mereka melakukannya untukku saat itu.

Pagi di hari-hari berat seperti biasa aku menapak ke kantorku yang saat itu sangat jauh dari tempatku tinggal. Aku ingin sekali mengakhiri semua cerita pahit ini. Aku sudah tidak kuat karena aku tau siapa aku dan sejauh mana kemampuanku. Tepat di hari pembayaran gaji yang sejatinya riang malah membuatku terpukul. Saat itu posisiku sebagai Senior Supervisor di sebuah perusahaan food and beverage yang sebenarnya termasuk salah satu perusahaan terbesar di Republik ini, namun tetap saja gajiku kandas persis di tanggal pay day. Hutang sudah menjalar dimana mana, sementara apa yang kupunya sudah tidak cukup lagi menyelesaikan masalahku. Tidak sedikitpun lagi air mataku tertumpah. Aku pasrah.

Saat itu aku hanya meminta Tuhan untuk memberiku satu jalan saja mengatasi masalahku bila memang Dia masih bisa mendengar suara hatiku saat itu. Karena sudah kuputuskan untuk resign dan pulang ke kampung menginggalkan pekerjaanku, kuliah masterku yang belum kelar, lalu bertemu Mamak dan akan kukatakan padanya “Aku terjerat utang banyak dan aku sudah tidak bisa lagi membiayai pengobatanmu. Mungkin juga akan banyak orang yang mengejar aku atau mungkin polisi akan mencariku kemana saja aku pergi lalu memborgol kedua tanganku. Tapi aku mau semua itu terjadi saat aku berada didekatmu Mamak. Maafkan aku anakmu yang tak berguna ini, maka izinkan aku merawatmu dengan kedua tanganku, dengan hatiku yang meranggas karena rasa sakit hati berbulan-bulan lamanya tapi kuharap bisa memberikan kasih setulus yang kubisa untukmu Mamak”.

Mantap sudah keputusanku kala itu. Namun tak juga aku berani melakukannya. Surat pengunduran diriku kusimpan entah sudah berapa hari di laci meja kerjaku. Setiap kali aku membukanya dunia seakan meruntuhkan bongkahan-bongkahan batu menimpa kepalaku tapi sakitnya justru di hatiku.

Dan ternyata…

Tak lama hari berselang, saat makan siang disebuah kantin pabrik padat dikerumuni para buruh berebut jatah, HP ku berbunyi. Ada seorang Ibu menyapaku ramah, ternyata ada panggilan interview dari sebuah instansi yang aku sendiri tidak tau sejak kapan aku mengajukan lamaran ke sana. Tidak juga aku tertarik untuk ikut dalam seleksi itu, namun terlanjur aku setuju dengan jadwal seleksi yang ditawarkannya.

Lalu hari itu tiba, belum pernah aku sejujur itu berbicara perihal kesulitan hidup, rasa sakit di hatiku dan luluhlantahnya hidup yang kualami kepada Mamak. Tapi pagi itu seakan ada yang memaksaku untuk harus bercerita jujur padanya. Kuraih telpon di meja kamarku, aku ingin mendengar suara Mamak yang sebenarnya belum begitu sempurna berbicara. Aku hanya diam sesaat dan kukatakan “Mak, pagi ini aku ada panggilan seleksi ke tempat kerja baru. Aku mau cari uang yang banyak supaya aku bisa bantu pengobatan Mamak karena apa yang aku punya sekarang tidak cukup lagi membantu pengobatanmu. Doakan aku yah Mak”. Lalu kututup telpon dan beranjak ke sebuah instansi yang mengundangku untuk ikut serangkaian tahapan seleksi.

Tidak banyak yang aku harapkan, hanya bisa diterima kerja entah jadi apa saja namun mereka mau mengupahku dengan gaji yang aku rasa cukup untuk menopang hidupku dan membantu biaya pengobatan Mamak. Begitulah aku jalani serangkaian test kurang lebih 2 minggu prosesnya. Sampai akhirnya hasil final menyatakan aku diterima bekerja di sana.

Doa Mamak yang sudah Tuhan dengar dan bukan doaku, sebab aku juragan dosa yang telah memaki-NYA setiap hari. Jadi manalah mungkin Tuhan mendengarkan doaku saat itu. Aku percaya itu. Mamak yang sudah meminta kepada Tuhan dengan teramat sangat bersama lidahnya yang keluh pasca sroke, Mamak yang sudah berseru pada Tuhan untuk beri aku jalan terbaik dan bisa melewati semua ini.

Dan sejak saat itu aku seakan menemukan pertolongan dari Tuhan untuk membantuku bangkit dari keterpurukannku. Sampai akhirnya Tuhan membantuku menemukan jalan untuk semua biaya pengobatan Mamak, Tuhan yang memberikan tenaga untuk pikiranku yang sebenarnya hampir geger menyelesaikan kuliah masterku karena harus berbagi fokus namun hasilnya tetap spektakuler, Tuhan juga yang menaruh uang di saku celana dan dompetku untuk cukup membayarkan hutang yang begitu banyak kepada semua yang sudah berbaik hati meminjamkan uang untukku. Tuhan yang memberiku kesempatan bekerja di instansi yang dipimpin lansung orang nomor dua di republik ini. Tuhan juga yang memberikan atasan bak saudara sedarah yang selalu memberiku maklum teramat sangat dalam bekerja hingga aku tetap bisa memberikan perhatian terbaik untuk Mamak dan keluarga di kampung (terima kasihku untukmu Sir MAT, Tuhan memberkatimu).

Lalu hari berganti hari semangatku bangun dari tidur panjangnya, mendapati senyum dan tawa Mamak dibalik speaker HP ku. Kondisinya semakin membaik. Akupun mulai berani bermimpi lagi, setelah lama tak pernah sedikitpun aku berani melakukannya lagi karena terlalu banyak mimpi buruk mendekatiku.

Banyak hal yang sudah Tuhan perbuat dalam hidupku dan aku percaya yang terbaik yang sudah Tuhan lakukan. Perlahan tapi pasti Tuhan bantu aku menyelesaikan semuanya. Biaya pengobatan Mamak, kuliah masterku selesai dengan hasil yang sangat memuaskan, renovasi rumah Mamak di kampung, beli rumah untuk istri dan anakku kelak, menyekolahkan ponakan sampai ke universitas dan dengan baiknya Tuhan mengizinkannya lulus dengan beasiswa penuh oleh pemerintah, mobil baru, berkeliling Indonesia dari Sabang – Merauke sembari bekerja, dan belakangan ini saya sedang mempersiapkan usaha bersama seorang sahabatku di Medan. Semoga semua berjalan lancar, sesuai jadwal dan bila Tuhan izinkan April nanti potong tumpeng akan digelar sebagai tanda usaha itu akan siap dibuka.

Aku bukan sedang memegahkan diri, sama sekali tidak. Kumohon kau tak mengartikannya seperti itu. Aku hanya tersadar betapa hidup banyak ragamnya. Semua terjadi karena seizin Tuhan. Bila ini yang terjadi padaku semua bukan karena kuat dan hebatku. Hanya karena kemurahan hati Tuhan.

Janji Tuhan tidak pernah terlambat dan selalu pasti. Aku percaya itu. Amin.

Anganku terhenti oleh hingar bingar bunyi klakson mobil yang ada di belakangku. Lampu merah kini berganti hijau dan memaksaku untuk sesegera mungkin menginjak gas dan pergi meninggalkan macetnya jalanan pagi itu. Entah kebetulan atau tidak, satu lagu rohani terputar dalam waktu yang tepat. Membuatku hanyut dalam melankolisnya perjalanan senin pagi bersama hujan di suatu jalan di Jakarta Pusat.

****

Marlojong ahu tu Ho oh Tuhan

Hapariron i gok di rohakki

Ho haposanki hutiop tongtong

Lam margogo ahu dibaen ho

Tikki jumpang ahu dihagogotan i

Nang galumbang pe ganggu rohakki

Ho haposanki hutiop tongtong

Lam margogo ahu dibaen ho

Songon lali i habang mansai timbo

Maninggalhon sude akka sidangolakki

Holan ho Tuhan pasabam rohakki

Ndada nasotarbahen ho Tuhan

February 3, 2014 at 9:34 am 3 comments


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

February 2014
M T W T F S S
« Aug   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

Visitor

  • 27,882 visitor

Top Clicks

  • None