Lalu bagaimana??

oleh: togi tua sianipar

—————–

bila mana hidup berjalan tidak seperti apa yang kau inginkan, maka ketahuilah bahwa dirimu bukanlah siapa siapa.

lalu bila hatimu gundah gulana kemudian ingin membenturkannya agar remuk dan pecah terurai maka ketahuilah bahwa sejatinya kau tidak pernah berani melakukannya.

lalu batinmu menghujat dan ingin mengakhiri semua impian yang sudah puluhan tahun kau rajut dengan usaha keras, peluh bahkan airmata, maka sadarilah kalau ternyata diriimu yang kau anggap hebat hanya pecundang busuk lalu sesaat lagi akan dilempar ke dalam tong sampah.

lalu matamu terasa panas ingin memuntahkan laharnya, maka lakukanlah sebab tidak seorangpun akan melarangmu meraung dalam cengengmu yang luar biasa itu.

lalu kau akan bertanya “apa yang harus aku lakukan??”, maka lakukanlah semaumu sebab bodohnya dirimu bila saja sampai sekarang kau belum tau mana yang baik dan jahat untuk dirimu.

Advertisements

December 8, 2011 at 3:43 am Leave a comment

Officially missing you.

oleh:  togi tua sianipar.

MASIH kah kau ingat dengan sepasang kaos kaki kado natal dariku sepuluh tahun yang lalu?. Hanya itu yang kupunya dulu buatmu sobatku, karna kau tau persis siapa aku dan bagai mana aku dulu. Bila saja saat ini aku masih bisa bercerita dan berkeluh kesah denganmu seperti dulu kita selalu berbaring menatap langit langit kamar setelah menyelesaikan banyaknya soal soal hitungan, persamaan kuadrat atau bahkan memecahkan rumus kimia dulu. Ketika hanya ada kejujuran dan ketulusan dalam sebuah kisah klasik sahabat karib yang mungkin dulu tidak pernah terpikirkan oleh kita akan berakhir kapan. Aku tak mengerti jelas kenapa dulu kita hanya hanyut dalam warna persahabatan tanpa mau berfikir sedikitpun ke mana kita harus menggantungkan semuanya saat usia beranjak dan saat kau atau aku sudah tua menyatu dengan keluarga masing masing. Mungkin dulu semua terlupakan oleh biusan nada dan lagu bonjovimu yang selalu kau banggakan padaku tanpa sedikitpun memberi aku kesempatan untuk berusaha meyakinkanmu kalau dahsyatnya irama dan syair lagu Billy Gilman kesukaanku jauh lebih hebat dari lagu lagu favoritmu dulu.

ENTAH apa yang membuatku kesetanan menulis semua ini, apa karna aku baru saja mendapati dompet pemberiaanmu terjatuh di korsi teras kosanku. Yah dompet yang sudah setia menempel di bokongku yang gempal sejak sebelas tahun yang lalu kau berikan sebagai kado di hari ulang tahunku.Andai saja kau tau kalau sampai sekarang dua logam pecahan lipa puluh rupiah itu masih ada di dalam dompet hitam yang kini sudah hampir lapuk tapi aku masih tetap suka memakainya.Terkadang juga aku harus dengan susah payah meraih kotak kecil yang selalu kutaruh di atas lemariku hanya untuk sekedar menyalahkan rokokku dengan korek gas kado ulang tahun darimu sejak kau mengawali kuliahmu jauh di pulau yang sekarang jadi tempatku berpijak. Ada sedikit kepuasan bila mana aku membakar rokokku sembari membaca pesan singkat yang kau tuliskan di kertas kecil saat kau mengirimkan kado itu untukku “Dear my best friend, Mulai saat ini kau gak perlu lagi mengantongi sobekan serbuk korek dan dua pentol batang korek api untuk menyalakan rokokmu. Tapi aku gak mau kau merokok terus, kau harus berusaha berhenti gi”, begitu kau berpesan. Inilah saat yang kumaksud dulu, itu yang membuatku selalu menyimpan semua apa yang kau berikan buatku. Karna kutau persis kalau aku akan mengenangmu kini dan mungkin nanti.

ATAU mungkin cerita membawa kabur motor guru pas SMA dulu hanya untuk merasakan nikmatnya semangkok pansit ayam malioboro yang baru buka di seberang toko emas kota tarutung dulu, atau cerita perjuangan menembus hujan hanya untuk menemanimu bertemu perempuan kisah cinta monyetmu dulu, atau mungkin cerita membuat skenario singkat di mikrolet sebelum kita sampai di rumahmu hanya untuk sebuah izin keluar malam dari orangtuamu.Terkadang aku tersenyum bila mengingatmu selalu gagal meyakinkan bapakmu untuk mengizinkanmu menunggangi skuter bututnya dulu. Gagal itu yang membuat kita kadang harus berjalan kaki berkilometer jaraknya untuk bisa pulang ke rumahmu. Capek dan letih memang, tapi seru bila aku mengingat ekpresimu karna rasa takut dan panik berlari di tengah gelapnya malam. Rinduku tak terbendung bila ingat ibumu yang selalu baik untukku. Yang selalu membuatkan masakan istimewa tiap kali aku datang ke rumahmu untuk menyelesaikan tugas tugas di sekolah dulu. Maafkan aku sobat kalau aku sering sekali mengecewakanmu saat kau butuh aku di waktu sulit menerima kenyataan ibumu divonis menderita penyakit gula akut dan membuat beliau harus dirawat berbulan bulan lamanya di rumah sakit. Bahkan aku gak bisa berbuat apa apa saat akhirnya beliau kembali kepangkuan Bapa di sorga waktu aku masih baru menapaki hidup di Jakarta nanbuas. Maaf bila kau juga kecewa ketika aku tidak bisa menghantarmu ke altar saat pemberkatakan pernikahanmu, walau aku tau dulu aku sudah berjanji kepadamu sejak SMA dulu.

SOBATKU, taukah kau bila rapuh hatiku saat ini tak bisa kueratkan lagi agar tak remuk?. Sering sekali aku ingin bercerita banyak denganmu seperti dulu kita selalu berbagi disaat riang atau sedih. Apakah kau tau kalau kemarin hampir saja motorku masuk ke dalam got besar saat aku akan berangkat ke kantor?. Atau apakah kau tau kalau sekarang aku sudah tidak suka lagi dengan rokok Amild yang kau rekomendasikan sebagai rokok yang dampaknya lebih ringan dibanding rokok lainya menurut versimu?. Namun yang pasti kaos biru lengan panjang pemberianmu dulu sudah koyak karna dua hari yang lalu tersangkut di kawat jemuran saat tiba tiba saja hujan lebat megguyur Jakarta sore itu. Mengenangmu sudahlah cukup buatku, walau raga takberhadap, walau mata tak bertatap dan walau handphoneku kini sudah hampir tak pernah mendapati kau berteriak memanggilku atau bahkan tak pernah lagi mendapati pesan singkat yang kau kirimkan buatku. Yang pasti ceritamu akan selalu jadi semangat buatku untuk mengejar sukses yang sudah lebih dulu kau raih dari puncak tempat kita meletakkan semua dulu. Dan lagi belakangan rinduku selalu sukses terobati setiap pagi di kantorku, saat aku bertemu Office Boy yang wajahnya sangat mirip denganmu mangkal di pantri. Itu juga yang membuat aku sering mengingatmu beberapa hari belakangan ini, kalau ternyata wajahmu itu hanya sekelas OB 🙂

** have you took the time to know me and to understand me?

December 8, 2011 at 3:42 am Leave a comment

[KKDH] Melepasmu, perempuanku berambut sebahu

HARI INI, KULEPASKAN KAU DARI HATIKU. Perempuan berambut sebahu yang sempat mengeratkan hatiku agar tak berasa saat mataku terpaut akan sosok lain yang mencoba membiusku. Dan di siang yang cerah seketika lalu mendung beberapa saat kutuliskan semua gundahku.Lagu “listen” nya beyonce sudah puluhan kali kuputar entah sejak berapa jam lalu menemani jemariku yang binal berdansa di atas puluhan tuch notebookku.

Rokokku juga kini hanya tersisa 4 batang dari 20 barisan rapih saat aku membukanya.

Hanya satu harapku “selamatkan hatiku yang telah kau perkosa lalu meradang seakan terjepit dalam sebuah trauma panjang bertahun tahun lamanya”.

Jangan sampai kau menyesal, karena sesal kemudian tiada guna.

Aku bagaikan seorang perjaka disarang penyamun tersamar tak tampak.

Lantas kenapa aku harus takut akan penyamun-penyamun itu?.

Itu yang aku rasakan sejak aku berusaha menggali lubang dalam, lalu mengubur bayangmu walau kutak tau pasti apa sebenarnya aku sanggup??

Entahlah…, hatiku beriak tapi bibirku terpalang seakan tak berpintu.

Hanya bayang-bayang tolol yang muncul, tak terarah dan bahkan semakin merusak tatanan pikiranku. Sesekali mataku mengarah akan binalnya wanita-wanita tak berbusana pada layar persegi di hadapanku. Muak aku melihat mereka menawarkan semua yang mereka punya namun aku tak dapat menjamah.

Gelas bening berbulir dingin bervolume kuteguk namun kerongkonganku masih tetap kering. Kenapa rasaku kosong melompong bagai kepompong ditinggal lari oleh kupu-kupu yang sudah bermetamorfosis.

Bila kau tega membiarkanku merana durjana bertahun tahun lamanya, aku juga harus bisa.

Biarlah ku meranggas bagai ilalang terhampar tak berair lalu mengering hampir mati.

Kelak semua akan terlupakan sampai nanti bayang-bayangmu pecah bagai ombak beradu terdampar dipantai tak bertepi.

Kini aku tersadar, betapa bodohnya aku masih mengharapkanmu perempuan berambut sebahu. Sebab sejatinya rambutmu itu palsu. Itu kutau saat beberapaka kali aku memergokimu keluar dari shaloon selepas meluruskan rambutmu yang keriting mengeras meranggas tak sehat bagai seorang negro gembel 🙂

Semoga harap dan niatku semakin mantap dan HARI INI, KULEPASKAN KAU DARI HATIKU.

***ditulis secepat kilat hanya untuk ikut2an lomba yang aku sendiri kurang ngeh maksud dan tujuanya :))

***gambar didapat dari google 🙂

December 8, 2011 at 3:40 am 2 comments

Melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang

oleh : togi tua sianipar

=============

PAGI di hari kedua oktober 2010 adalah jadwal kedua buatku untuk menjalani pengobatan dengan cara akupuntur karna satu sakit yang aku derita beberapa tahun belakangan ini. Kalau proses akupuntur pertama aku jalani di Win Lab Mall of Indonesia maka jadwal akupuntur ke dua harus aku jalani di Polikliinik Mediko di daerah Jati Negara. Itu adalah jadwal yang diberikan buatku karna harus mengikuti jadwal praktek dr. Melya Warianto seorang dokter spesialis akupuntur yang punya kepribadian yang sangat luar biasa, beliau laksana titisan dewi berhati malaikat. Sudah sangat jarang sekali aku menemukan sosok dokter seperti beliau.

Proses akupuntur yang pertama kali kujalani seumur hidupku untuk sebuah pengobatan, sangat menakutkan di awal. Bagaimana tidak, membayangkan banyak jarum yang ditikamkankan ke tubuh sudah sangat mengerikan buatku. Namun ini adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh. Sampai tadi pagi aku harus bangun lebih pagi untuk mengejar jadwal akupuntur yang sudah diberikan buatku.

Pukul 07.30 aku dibangunkan oleh suara alaram yang sengaja aku setting. Berat sekali rasanya pagi itu, mengingat aku baru tertidur 4 jam. Belum lagi otakku dihantui rasa takut akan banyak jarum yang ditikamkan ke permukaan tubuhku. Bukan cuman itu, tiga jarum juga harus dirajam di lidahku untuk mengkontrol saraf yang ada di lidah. Namun aku harus menjalaninya untuk mendapatkan kesembuhan.

Setelah berdoa aku bergegas untuk mandi lalu tanpa sarapan apa apa, aku segera bergegas menuju poliklinik yang sama sekali belum pernah aku datangi sebelumnya. Namun berbekal alamat yang jelas dan sesekali bertanya kepada orang orang di jalan, akhirnya aku sampai tepat waktu.

Ramai sekali poliklinik pagi itu, kursi tunggu juga tak bersisa barang satu saja. Lalu aku segera mendaftarkan diri setelah selesai memarkirkan motor di area parkir. Tidak lama aku segera dihantar ke ruangan akupuntur karna memang sudah ada appointment dengan dr Melya yang menyapaku dengan senyumnya yang sejuk pagi itu.

Sesaat setelah aku masuk keruangan itu, kakiku terhenti lalu menatap sekeliling. Bulu kuduku merinding lalu bibirku bergetar melihat dua orang pasien yang sedang menajalani pengobatan akupuntur saat itu.

Pasien itu masih terlalu muda, seorang laki laki berumur 4 tahun dan seorangnya lagi perempuan berumur 5 tahun. Anak lelaki itu bernama Yoga, kepalanya sangat besar sekali berbentuk loncong, dan aku sampai ngeri memandang wajah anak itu. Lalu anak perempuan itu bernama Grace juga punya ciri ciri yang sedikit sama dengan Yoga, namun tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding Yoga.

Tubuh mereka berdua telanjang tak berbalut kain, yang terlihat hanya puluhan jarum merajam di bagian kepala, punggung, dada, perut sampai ke kaki. Hatiku seakan disayat lalu terpercik air garam, perih sekali melihatnya. Lalu sesekali mereka mengangis menahan sakit namun tak sanggup berucap. Seperti Yoga yang duduk tepat di sampingku, dia sengaja didudukkan dipangkuan Ayahnya. Yoga sering sekali menjerit dan menangis tiba tiba, seakan dia ingin sekali berucap lantang “tolong lepaskan semua jarum ini ayah..!!!”. Tapi sayangnya dia bukanlah anak yang normal seperti kebanyakan anak seusianya yang sudah bisa berbicara dengan suara lantang. Dia hanya bisa menangis lalu air matanya tertumpah sangat deras. Mulutnya juga basah karna banyak air ludah yang keluar beriring air matanya.

Tapi taukah kamu kalau Ayah Yoga dan Ibunya Grace yang terduduk setia menatap anaknya terlihat ikut merasakan apa yang Yoga dan Grace rasakan. Mereka terlihat sangat menyangi anak mereka yang terlahir sebagai anak tidak normal. Yah.. Yoga dan Grace adalah anak penyandang/penderita autis yang hanya ingin berjuang untuk keluar dari takdir yang Tuhan sudah berikan untuk mereka.

Aku malah tak mengerti apakah itu takdir yang harus mereka telan lalu dengan penuh usaha dan perjuangan menawar takdir itu pada Sang Khalik?? Yang jelas mereka punya hak yang sama seperti kita yang ingin hidupnya lebih layak, yang ingin hidupnya terlahir sempurna seperti kita sekarang.

Sesekali kutatap wajah Ayah Yoga yang sedari tadi berusaha mengalihkan perhatian Yoga dari rasa sakit yang dideritanya. Lalu sesekali beliau tersenyum dan kemudian menangis mencium Yoga. Hatinya seakan berkecamuk meratapi hidupnya yang harus berlapang dada menerima titipan terindah dari Tuhannya. Sorot matanya tampak mengumpulkan remah remah semangat yang hampir saja pecah terbuang. Lalu seketika beliau membuka mulutnya menatapku berucap “Aku sangat sayang sama dia mas, Yoga anak pertamaku yang benar benar berharga dan luar biasa buatku. Terkadang sulit untuk bisa mengerti apa maunya Tuhan mas, cuman aku berusaha iklas atas semua ini”. Air mataku seketika saja tertumpah dan benar benar tidak sanggup berucap apa apa. Aku hanya merasa kalau semangat yang ingin kutularkan buatnya sama sekali belum bisa disebut semangat buatnya karna situasi yang luar biasa tengah dialaminya.

Lalu beliau kembali menatapku sambil mengusap rambut Yoga dan berucap “Jangan nangis yah Om, gak usah kasihan sama Yoga. Yoga hanya butuh bantu doa yah Om..”. Begitu cara beliau memintaku mengusap air mata yang tertumpah saat itu.

Lalu kemudian dr. Melya datang dan menyuruhku merebahkan badan di tempat yang sudah disiapkan. Sedikit bertanya tentang keluhan dan perkembangan setelah akupuntur pertama, beliau kembali menikamkan belasan jarum di lidah, leher, dada, perut dan kakiku. Kali ini tidak sedikitpun rasa sakit itu datang, entah kenapa sakit itu berpindah lalu menyusup ke hatiku. Yahh…“melihatnya, hatiku seakan ditelanjangi lalu meradang”.

Yoda dan Grace adalah anak yang luar biasa buatku. Dengan besarnya pencobaan yang Tuhan taruhkan di pundak mereka tidak sedikitpun membuat mereka meratap lalu pasrah menerima takdir. Terlebih buat orang tua mereka berdua. Sungguh orang tua yang luar biasa dan benar benar berhati besar. Sungguh Tuhan tak salah memlilh mereka sebagai orang tua dari Yoga dan Grace. Tidak sedikitpun mereka menyerah untuk sebuah kata bahagia menyaksikan anak mereka sembuh lalu bersyukur atas semua yang Tuhan sudah berikan.

Kini coba kita menilik sedikit saja pada bilik dihati kita, apakah masih ada ruang untuk bersabar dan bersyukur atas banyak bahagia yang kita punya. Aku malah tak menyadari kalau betapa banyak hal yang perlu disyukuri dalam hidup ini. Bersyukur buat kesehatan, bersyukur buat orang tua yang selalu ada buat kita, bersyukur buat teman dan bersyukur buat makan dan minum yang bisa aku nikmati.

Tiga puluh menit sudah berlalu aku memikirkan betapa angkuhnya hatiku, lalu seorang suster datang menyibak tirai biilik tempat aku merebahkan badan. Lalu perlahan dia menarik jarum satu persatu dari tubuhku dan tersenyum sambil berkata “semoga lekas sembuh yah pak”.

Kupasangkan sendal hitam di kedua telapak kakiku, kemudian menapak dan melintas dari hadapan Yoga dan Ayahnya. Hanya senyum yang bisa aku berikan buat Yoga dan doa yang teramat tulus dari lubuk hatiku “Kiranya Tuhan menyembuhkanya”.

Kemudian kini hatiku selalu diteror dengan banyak pertanyaan yang membuat aku malu untuk menjawab. Lalu apakah aku harus berduka kemudian mengumpat, mengutuk hanya karna sebuah cerita cinta yang kadang gagal, atau hanya karna banyak error pada baris codingku, atau hanya karna teman yang buat aku betek, atau hanya karna gajiku tak setinggi gaji orang lain, atau hanya karna aku tidak punya harta dan materi yang banyak?

Sungguh bodohnya apabila diri dibelunggu oleh satu judul saja. Bukankah hidup itu penuh warna?  Tinggal bagaimana caranya memadu padankan warna itu biar terlihat bernilai lalu membius mata untuk mengagumi indahnya.

God bless us.

*** btw, sampai lupa, menuliskan tentang penyakit yang aku derita. sebenarnya bukan sebuah penyakit serius. hanya berupa pencegahan karna gula darah dan kolestrol yang belakangan ini tak terkontrol. Ditambah olah raga yang hampir tidak pernah membuat sering sakit kepala dan sedikit menghambat proses pencernaan. Namun karna belakangan menganggu konsentrasi maka merasa perlu melakukan pencegahan dini agar dampaknya tidak meluas di hari esok.

December 8, 2011 at 3:39 am 2 comments

Panggil aku “Pandu” [part 1]

oleh: togi tua sianipar

=============

SUARA langkah kaki itu sudah tidak asing lagi di telinga Pandu laki laki yang masih duduk di bangku sekolah dasar kala itu. Sebenarnya sudah sejak sepuluh menit lalu dia terbangun dari tidurnya namun dinginnya subuh masih membuat dia enggan beranjak dari tempat tidurnya yang sengaja dibagi berdua dengan abangnya. Seketika saja Pandu kembali menutup matanya saat suara langkah kaki itu terasa dekat dari telinganya. Dia mencoba berusaha berpura pura tidur lagi berharap ada sesuatu yang nantinya akan berubah saat langkah itu berhenti di dekatnya lalu berpaling saat melihatnya masih larut dalam tidur yang indah. Namun sepertinya ini adalah kegagalan yang kesekian kalinya dia terima dengan berpura pura menutup mata agar terlihat masih tertiidur nyenyak.

Yah, Pandu harus segera mengakhiri tidurnya saat langkah kaki itu tepat berhenti di sebelahnya lalu tangan lembut mengusap wajahnya dan berbisik lembut “Bangunlah mang, kau harus segera pergi biar tidak telat dan tidak pulang dengan tangan kosong lagi seperti beberapa minggu lalu”. Itu yang membuat Pandu segera bangun dari tidurnya lalu bergegas untuk membasuh wajahnya dengan dinginya air subuh itu. Dia hanya tidak mau membuat kecewa ibunya lagi seperti beberapa minggu yang lalu dia gagal membawa pulang beberapa gulungan benang yang akan dipakai ibunya menenun mawar yang indah dalam beribu barisan benang berpadu.

Tak lama setelah Pandu menerima catatan kecil dari ibunya, dia bergegas melangkahkan kakinya keluar dari mulut pintu rumahnya menembus embun yang masih merayap terapung bagai lautan putih tak bertepi.Tidak banyak yang dia pikirkan bahkan untuk mengeluhpun dia tak sanggup, dia hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa sampai di pasar dengan cepat agar dia bisa membawakan benang pesanan ibunya subuh itu. Berjelajah dan menapak, Pandu hanya terdiam lalu sesekali mengeratkan jaket tebal di bandannya yang sengaja dipasangkan ibunya saat dia berangkat dari rumahnya tadi. Dinginnya subuh benar benar tak bisa ditawar oleh Pandu, toh juga itu sudah jadi sahabat baginya yang sudah dua tahun terakhir menemaninya menapaki subuh dan menenangkannya dari rasa takut dan sepi batinya.

Begitulah Pandu acap kali melakukan tugasnya di sabtu subuh. Dia harus menggantikan ibunya untuk menjemput kiloan benang yang akan dipintal dan ditenun oleh sang ibu demi mendapatkan uang yang sangat berarti baginya dan keluarganya. Bagaimana bisa dia menolak tugas itu lalu memilih untuk berdiam diri layaknya anak anak seusianya yang cukup duduk manis lalu sesekali merengek meminta uang atau suatu hadiah dari bapak dan ibunya. Mustahil Pandu memilih jalan itu lalu dengan keras hati menyaksikan ibunya merintih sakit menahan rematiknya kambuh karna harus memaksakan diri bergulat dengan dinginya subuh menusuk dan merajam tulangnya. Dia sungguh mencintai ibunya yang sudah dengan penuh cerita berjuang untuk sebuah harap yang dia juga belum tau akan berujung dalam episode yang seperti apa kelak.

Kali ini Pandu berhasil membawa kiloan benang berwarna ganding yang dipesankan ibunya. Batinya cukup puas lalu dengan senyum bahagia dia kembali melangkah pulang menuju rumahnya. Kali ini dia tidak perlu takut atau merasakan lagi dingin menyusup celah pada jaketnya karna matahari sudah mulai terbangun lalu mengintip dari balik bukit Siatas Barita yang berdiri menegak memandangnya. Nafasnya sedikit terengah engah lalu sesekali dihembuskanya kencang mengusir letihnya. Pantas saja, tidak setegukpun air mengalir ditenggorokanya sejak tadi, tidak juga dia memakan sepotong kue atau roti mengganjal perutnya yang agak lapar. Uang yang diberikan ibunya selalu tidak bersisa bahkan terkadang kurang. Namun Pandu tidak pernah mengeluh,dia merasa kalau itu sudah takdir yang harus dia telan lalu masuk ke lambungnya. Hanya ada dua pilihan buatnya kala itu, menjalankan tugas dari ibunya lalu bersekolah atau menolak tugas ibunya lalu duduk dan berdiam di rumah tanpa mau merasakan bagaimana nikmatnya belajar di sekolah bersama teman teman seusianya. Pandu memperbesar langkahnya sambil sesekali berlari kecil agar tidak telat sampai di rumahnya. Berkilo kilo panjang jalan yang dia tapaki dengan kakinya yang kurus, dia tidak mau telat lagi ke sekolah pagi itu lalu diolok olok teman teman di kelasnya.

Tidak lama akhirnya Pandu sampai di rumahnya yang kecil namun terasa hangat baginya. Diletakkanya kiloan benang yang dia bawa di atas meja yang membisu berdiri di dapur rumahnya. Kakanya segera menyambutnya lalu menyiapkanya seember air hangat di kamar mandi. Entah apa juga yang membuat kakak perempuanya itu selalu menyiapkan seember air hangat tiap kali Pandu pulang dari pasar memebeli benang. Yang dia tau ibunya berpesan kepada kakaknya untuk melakukanya lalu kakak perempuanya harus melalukan itu, hanya itu yang dia tau. Dengan segera Pandu bersiap untuk mandi merasakan sedikit hangatnya hadiah yang sampai sekarang sangat dia rindukan dari kakak perempuanya itu. Lalu setelah dia merasakan hangat di tubuhnya oleh balutan handuk dan berpakaian seragam putih merahnya, Pandu harus segera melahap sarapan paginya sebelum berangkat ke sekolah bersama abang dan kakaknya. Sepiring nasi putih hangat dengan potongan kecil telur dadar sudah siap dia santap. Tidak perlu bersungut sungut kenapa pagi itu dia harus merasakan menu yang hampir sama untuk tiap pagi, tidak perlu juga dia mengerutkan dahinya lalu protes kenapa bukan sepotong daging yang dia terima atas kerja kerasnya pagi itu. Karna lagi lagi Pandu dan saudaranya tidak punya pilihan menu istimewa seperti yang ada di meja makan tetangganya. Pandu terduduk cukup manis di kursi yang sudah diwariskan oleh penghuni rumahnya baginya, tepat berhadapan dengan kursi abangnya yang sulung, lalu kedua kakak perempuanya mengapitnya di sisi kiri dan kanan, sementara abangnya yang satu lagi duduk tepat bersanding dengan si sulung. Lalu kakak perempuanya yang tertua memulai doa pagi itu, berharap sepiring nasi putih hangat dengan potongan kecil telur dadar dan segelas teh manis hangat itu menjadi tenaga baru dan berkat buat tubuh mereka berjelajah dalam semua aktifitas mereka pagi itu. Sementara bapak dan ibunya duduk di kursi bertulang jati sederhana di ruang tamu, entah apa yang mereka selalu perbincangkan setiap pagi di meja itu. Pandu tidak pernah memaksakan dirinya untuk mengetahui perbincangan mereka, karna bibirnya akan terkunci rapat tiap kali dia berusaha mempertanyakan itu kepada saudaranya di meja makan itu. Abangnya yang sulung akan segera menyuruhnya menutup mulutnya lalu berpesan “segera habiskan makanmu, lalu pergi agar tidak telat sampai di sekolah”. Pandu harus segera bergegas saat abangnya anak ke empat di rumahnya itu selesai membereskan semua piring dan gelas yang ada di meja makan karna itu sudah jadi tugas baginya.

Lalu dengan sedikit terburu buru Pandu memakaikan sepatu “Bridge” berwarna putih yang entah sudah beberapa minggu mangap dan terpaksa dia lem dengan lem uhu karna jahitannya sudah terbuka. Dia hanya berharap pada Tuhan agar waktu berputar dengan kencang mengalahkan kencangnya roda sepeda Dedi tetangganya yang bulan lalu dihadiahkan sepeda bagus oleh orang tuanya. Pandu hanya ingin hari Natal segera mendekatnya lalu dengan begitu dia akan mendapatkan sepatu baru sebagai jatah tahunan dari bapak dan ibunya. Namun sayangnya dia harus menunggu dua bulan lagi untuk mendapatkan itu. Setelah berpamitan dengan bapak dan ibunya, Pandu bergegas menuju sekolahnya di bukit kecil sekitar satu kilo meter dari rumahnya. Tak lupa abangnya yang sulung berpesan untuknya, abangnya dan kedua kakaknya agar siang nanti pulang dengan nilai yang bagus, “kasihan bapak dan ibu kalau nanti meraka menemukan nilai jelek di buku kita dik..!!”, begitu si sulung berpesan. Pandu selalu mendengarkan pesan itu dengan baik lalu berusaha belajar sebaik yang dia punya di sekolah. Tidak heran kalau ketika itu Pandu dan saudara saudaranya selalu mendapat rangking kelas, walau dirinya tidak sehebat abang ke duanya yang selalu sukses berdiri sebagai rangking satu di kelasnya. Pandu yakin kalau suatu saat kelak dia akan bisa medapatkan itu dan berkesempatan diajak bapak menonton filem di bioskop sebagai hadiah rangking satu kelas.

*** tobe continue

December 8, 2011 at 3:38 am Leave a comment

Hari Pengantin Bonar

Oleh: Togi Tua Sianipar

————————

Ce. Ii. EN. Te. Aa, panggil aku Cinta,

KENAPA harus dibesar besarkan? Kenapa harus dipaksakan? Kenapa harus dipertanyakan?

Bukankah mereka bilang cinta itu tulus? Lantas kenapa harus terlalu dipermasalahkan? Biarlah semua datang dengan sendirinya, biar kiranya dia masuk perlahan dan mau tinggal selamanya dalam diri.

Mungkin cinta ini yang dirasa jadi sebuah malapetaka oleh BONAR seorang lelaki perjaka tua yang kandas meletakkan harapanya pada sebuah cinta.

Yah…, Bonar memang sudah bukan lagi seorang laki laki dewasa yang tengah berjelajah dalam usia yang tepat untuk memikirkan cinta atau mungkin sekedar bermain main dengan cinta. Usianya yang tinggal dua tahun lagi akan tepat jatuh pada bilangan empat puluh yang bagi beberapa orang merupakan sesuatu hal yang tabuh. Itu juga yang buat dia terpaksa pasrah untuk menerima tawaran mamaknya menikah dengan perempuan yang sengaja dipilihkan mamaknya buatnya. Bagaimana tidak, kelima orang adik Bonar sudah menutup cerita lajang mereka dan kini sudah membina rumah tangga masing masing dengan anak anak yang Tuhan sudah karuniakan kepada mereka.

Bonar adalah anak tertua yang tadinya jadi harapan termanis buat bapak dan mamaknya untuk meneruskan garis keturunan mereka. Mengharap Bonar bisa segera memiliki istri dan anak adalah penantian yang sangat panjang dan benar benar berharga buat kedua orangtuanya bahkan bagi oppung (kakek/nenek) Bonar. Sudah tentu pula, bukan saja Bonar seorang sulung dari saudara saudaranya, Bonar juga cucu tertua dari garis keturunan oppungnya. Untuk itu hampir setiap mulut yang bertemu denganya selalu memperkarakan status Bonar yang sudah menimbulkan keresahan bagi hati keluarga besarnya.

***HERLINA perempuan desa yang tidak terlalu banyak menuntut dan hampir tidak mengenal apa itu demokrasi kini dihadirkan sebagai pilihan terakhir buat Bonar oleh mamaknya. Sifat penurut inilah yang membuat Herlina tidak perlu ditawar terlalu lama untuk mau menikah dengan Bonar seorang laki laki yang sudah dikenalnya betul sejak dia bisa mengenal dan merasa dan mengerti berkata kata. Tentunya Bonar juga menyaksikan pertumbuhan Herlina sejak kecil sampai dia diperhadapkan akan pilihan itu karna mereka tinggal pada kampung yang sama. Herlina berumur 18 tahun tepat saat dia diminta kesediaanya untuk menikah dengan Bonar laki laki yang sebenarnya tidak dicintainya itu.

“Kali ini kau gak bisa menolak lagi, apa kau tega membiarkan kami pergi meninggalkan hidup ini sebelum melihatmu menikah dan menimang cucu darimu? Lihat juga bapakmu sudah tidak sesehat dulu Bonar, dia sudah sakit sakitan. Bapakmu juga sakit sakitan karna kau juga, dia stress memikirkan kau yang tak kunjung menikah ini. Makanya kau harus mau yang amang? Tolong jangan kau kecewakan kami orang tuamu ini”. Begitu mamak membujuk Bonar yang hanya terdiam dan sebenarnya tidak sedikitpun memikirkan perkataan perempuan tua itu dengan serius.

Dia juga tidak mengerti entah apa yang menggerakkan bibirnya dan menganggukkan kepalanya untuk bersetuju dengan permintaan mamaknya yang sangat dia sayangi itu. Padahal Bonar adalah sesosok yang tidak pernah mau diajak bernegosiasi untuk urusan jodoh sebelumnya.

“Baiklah mak, kalau memang itu yang jadi keputusan mamak. Aku gak bisa menolak lagi mak, terserah mamak dan bapak sajalah. Aku ikut saja”. Begitu Bonar menjawab tarawan mamaknya kala itu.

*** Tiga hari sebelum pernikahan Bonar, semua saudara, family dekat dan jauh sudah mulai berdatangan dari berbagai daerah. Ternyata mereka terlalu larut dalam sukacita atas rencana pernikahan Bonar yang akan segera digelar. Terlebih adik adiknya yang dengan antusias membantu semua biaya pernikahan Bonar dan bahkan memberikan hadiah beragam jenisnya untuk abang yang sangat mereka sayangi itu. Bukan itu saja, oppungnya yang sudah lanjut usianya saja tidak tanggung memberikan tanah berbidang bidang luasnya sebagai hadiah untuk cucu tertuanya itu.

Undangan sudah beres disebar ke semua kerabat mereka. Mulai dari kerabat yang ada di Siantar, Medan, Riau, Jakarta bahkan sampai ke Belanda sudahlah kelar. Tinggal menunggu kedatangan mereka saja di hari pernikahan Bonar.

Di hari hari terakhir masa lajangnya Bonar justru memilih untuk pergi ke ladang tempat dia biasanya menghabiskan hari harinya. Ladang yang sudah seperti milik pribadinya sejak belasan tahun yang lalu Bonar memilih untuk tinggal di kampung menemani kedua orang tuanya setelah meraih gelar Insinyur Pertanian dari sebuah universitas di Medan. Dia hanya kasihan dan tidak tega melihat kedua orang tuanya yang semakin tua dan ditinggal pergi oleh adik adiknya karna sudah menikah.

Terik matahari saat itu memaksa Bonar untuk beristirahat sejenak di sopo (pondok) kecil tak berdinding yang ada di ladangnya itu. Pikiranya berat sekali, keras dan tandus rasa hatinya. Dia merasa terpaksa menjalani semua keputusan itu, bagai tanah kering yang dihujami panggu tumpul. Tidak nyaman sekali rasa hatinya. Sesekali dia teringat dengan Herlina perempuan yang seakan dijadikan tumbal buat dirinya. Jauh di lubuk hati Bonar, rasa tidak tega dan kasihan sungguh teramat besar buat Herlina. Dia hanya tidak ingin Herlina menikahinya hanya karna ingin dikatakan berbakti buat orangtuanya dan dikatakan patuh sama adat dan tradisi di kampungnya. Herlina adalah anak tulangnya (paman) yang baru dua bulan yang lalu menamatkan sekolahnya dari bangku SMA.

Sebenarnya Bonar ingin sekali menyudahi semua cerita seputar rencana pernikahinya. Dia sangat berharap ada mujizat yang mau menyapanya untuk bisa membatalkan pernikahanya itu. Namun di lain pihak, Bonar tidak sanggup kalau sampai melihat kecewa yang luar biasa menerpa kedua orang tuanya, adik adiknya dan bahkan semua keluarga besarnya. Tapi Bonar tidak bisa berbuat apa apa, bahkan dia tidak berani menyampaikan keluhan di hatinya pada siapapun. Bayang banyang Herlina benar benar menghantuinya. Dia sadar betul dan bisa merasakan betapa sebenarnya Herlina juga ingin sekali batal menikah denganya. Dia sudah menganggap Herlina seperti adik kandungnya sendiri, namun kini dia harus berubah menjadi seorang calon suami Herlina yang akan menemani hari hari Herlina sampai maut memisahkan.

*** Satu malam sebelum pernikahannya, Bonar sengaja keluar rumah untuk sekedar mencari udara segar yang diharapkanya mampu menyejukkan hatinya yang kacau dan benar benar tidak bisa digambarkan. Kakinya menapak namun tak tau arahya ke mana. Dia hanya bisa membiarkan kedua kakinya berjalan dan mengiring badannya kemana saja malam itu. Sampai dia terhenti oleh sesosok yang tepat berdiri di hadapanya. Herlina, yah perempuan yang sudah dipilihkan sebagai calon istrinya itu ternyata diam diam mengikuti Bonar malam itu.

“Kenapa abang belum tidur? Apa abang lagi ada masalah?” sapah perempuan lugu itu. Bonar hanya terdiam dan sedikit memberikan senyumnya untuk Herlina.

“Abang tidak apa apa, cuman lagi susah tidur aja” begitu Bonar membohongi calon istrinya itu. Terdiam mereka sejenak sampai Bonar memberanikan diri bertanya kepada Herlina yang juga terlihat kalut hatinya.

“Herlina, apakah kau benar benar mau menikah dengan aku?, kenapa kau mau dipaksa menikah dengan laki laki tua seperti aku ini, sementara kau masih muda dan perjalananmu masih panjang?”. Herlina hanya terdiam dan tidak sedikitpun dia mau menjawab pertanyaan Bonar. Namun gurat wajahnya sangat jelas menunjukkan galau hatinya.

“Kalau memang kau tidak mau menjawab, baiknya kita pulang saja dan beristirahat, karna besok pastilah kita akan sangat letih menjalani acara pemberkatan dan adat” kata Bonar pada perempuan dihadapanya itu.

Bonar berpaling dan berjalan mengarah ke rumahnya, namun seketika dia terpaksa menghentikan langkahnya karna Herlina menarik tanganya dari belakang. Dengan berurai air mata Herlina memegang tangan Bonar sambil tertunduk malu. Dia tidak tau bagaimana caranya dia menumpahkan gundah hatinya. Dia bingung bagaimana cara menyampaikan protes hatinya kepada laki laki yang besok akan jadi suaminya itu. Perlahan Herlina mengangkat kepalanya dan menatap wajah laki laki paruh baya itu. Dia kembali menangis dan berusaha mengumpulkan tenaga dan keberanianya untuk berkata jujur kepada Bonar.

“Bang…, apakah kau kecewa andai pernikahan kita ini batal digelar? Apakah kau akan membunuhku dan orangtuaku kalau kalau aku membatalkan semua ini? Betapa hatiku tidak mau berdamai dengan kenyataan bang, sejak sebulan yang lalu namboru (bibik) melamarku aku sudah berusaha untuk bisa mencintaimu walau aku harus mengubur cita citaku untuk melanjutkan studyku ke universitas. Tapi ternyata aku gak bisa bang, aku tidak berhasil membujuk hatiku untuk mau menumbuhkan rasa itu” Begitu Herlina berkata kata sambil terbata bata saat pipinya basah oleh airmatanya.

Bonar terdiam dan kini seakan langit runtuh menimpa dirinya. Hatinya remuk dan perasaanya seakan diperkosa oleh keadaan. Ternyata apa yang dikhawatirkanya selama ini terjadi juga, kalau ternyata Herlina juga terpaksa menjalani semuanya. Namun dia berusaha tegar walau rasa tegar yang dia punya sudah tidak bernyawa sedikitpun. Bagai mengumpulkan remah remah bercampur duri yang dipaksa ia kunyah lalu ditelan masuk ke lambungnya. Dia hanya berusaha untuk menghargai keberanian paribannya itu. Dia hanya berusaha memberikan harga sedikit saja buat dirinya. Lalu dengan begitu status perjaka tuanya masih punya sedikit harga dan bukan menjadikannya seorang pengemis yang berharap belas kasihan.

Bonar meraih tangan Herlina dan meyakinkan hati perempuan itu lagi atas perkataan yang telah dia lontarkan kepadanya. Tidak terlalu lama Bonar mendapatkan kepastian itu dari mulut Herlina dan dari binar mata Herlina yang sangat jujur. Perlahan Bonar membuka katup mulutnya dan dengan pelan dia berkata “Pergilah.., sebelum terlambat. Kemasi barang barangmu lalu pergi sebentar ke mana saja kau merasa aman. Karna kalau kau masih ada di sini sampai besok maka mereka semua akan memaksamu lagi. Aku tidak akan marah kepadamu, karna cinta itu tidak bisa dipaksa”.

Bonar meninggalkan perempuan itu lalu kembali berjalan menuju rumahya. Hatinya kini datar, kering bagai lahan gundul meranggas. Matanya kaku tak sedikitpun bergerak ke mana mana. Sampai dia masuk ke dalam kamarnya. Tak ada satupun yang dia inginkan saat itu kecuali berharap besok tidak akan pernah datang menghampirinya. Dia ingin sekali hari berhenti sampai malam itu saja. Dia hanya berharap matahari lupa bangun dari tidurnya hingga tak akan pernah muncul dari ufuk timurnya. Namun sayang semua tidak mungkin bisa terbendung oleh Bonar, tidak ada pengecualian buat beban dan sakit dihatinya yang luar biasa kala itu.

*** Pagi hari saat Bonar berdiri bagai patung dengan jas yang mewah hadiah dari bapaknya di depan cermin. Dia menatap sosoknya yang ternyata masih kalah akan arti sebuah cinta. Terdiam saja tanpa berkata, hanya berdiri dan tidak juga melangkah keluar dari kamar, sebab tidak ada artinya Bonar di hari pengantin itu.

p.s.

1. terinspirasi oleh kejadian nyata, seseorang yang penulis kenal (bukan pengalaman pribadi atau bayangan penulis tentang dirinya). Jadi mohon untuk tidak sehuzon yah 🙂

sebab fitnah lebih kejam dari fiknik :p

2. maaf apabila ditemukan kesamaan nama (benar2 ketidak sengajaan)

December 8, 2011 at 3:36 am Leave a comment

MONA, temuilah Tuhanmu…

Oleh : Togi Tua Sianipar

————————–

RIA HESTI LAMONA MATONDANG, nama ini sudah menemani hari hariku lebih dari sewindu. Tepatnya dua belas tahun dia selalu ada dalam cerita masa laluku. Sudah tiga seragam berkemeja putih dia sealu ikut menghiasi ceritaku dulu. Bila saja masih tersisa waktu untuk bertemu, pastilah aku akan hadir untuknya sebelum raganya yang kini sudah tak berasa, sebelum bibirnya kini telah kaku terkunci rapat seakan berpalang ganda, sebelum matanya tidak lagi bisa berkedip sedikit saja.

MONA, sepuluh menit aku terdiam sobat, mencoba mengingat semua tentang sosokmu, walau tak banyak memang, tapi aku cukup bisa merasakan saat kau masih bisa menyapaku dan selalu berikan senyummu buatku dan teman temanmu dulu.

MONA, tahun 1989 sudah dua puluh satu tahun berlalu. Cukup lama yah sobat? Tapi tau kah kau kalau masih ada ingat yang tersisa? Yahh masih ada, walau tak seberapa.

MONA, begitu kami memanggilmu sejak dua puluh satu tahun yang lalu. Saat seragam putih merah pertama kali kita kenakan di SD N 173100 Tarutung. Enam tahun kita bersama setia dengan seragam penuh riang itu. Enam hari dalam seminggu kita bersama, mengenal huruf, membaca, berhitung dan menyanyi bersama. Sampai kita mengerti bagaimana sebenarnya bila huruf K berpadu dengan A atau bila M berdamping U. Sosokmu sungguh mengingatku betapa semangatmu untuk belajar dulu sangat luar biasa.

MONA, aku tak mungkin bisa melupakanmu. Dola, Nurmei, Frengki dan Robert juga pasti masih mengingatmu. Mereka juga pasti masih bisa membayangkan sosokmu yang selalu hadir sebagai ancaman buat kami bertarung merebut juara kelas demi tiga buah buku tulis hadiah dari guru kita dulu.

MONA, enam tahun ternyata belumlah cukup untuk mengenalmu sobat, itu sebabnya Tuhan masih mengizinkan kita bersama lagi berjelajah hari dengan seragam putih biru di SMP N 2 Tarutung. Tiga tahun kita bersama masih seperti enam tahun yang dulu. Kalau saja aku bisa jujur, dulu aku selalu menganggapmu sebagai ancaman besar buat setiap usahaku meraih ranking kelas dulu. Tapi seiring waktu kau semakin buas dan selalu berhasil menyingkirkanku. Posisi terbaik selalu bisa kau dapatkan, itu sudah cukup buatku untuk mengakui betapa semangatmu sangat luar biasa dulu.

MONA, bukan juga sebuah kebetulan kalau alam masih ingin melihat kita bersama berjelajah di hari hari dulu. SMA N 1 Tarutung sudah menyimpan ceritaku dan dirimu sobat. Tiga tahun lagi kita bersama menjalani hari hari, belajar, tertawa dan bermain. Semakin sulit rasanya buatku untuk bisa mengimbangimu mengejar prestasi dulu. Sungguh kau perempuan bijak, pintar dan luar biasa. Banyak hal yang kau bisa dulu. Dengan lantang kau bisa berbahasa asing, dengan lincahnya kau bisa memecahkan hitungan hitungan liar dulu. Sungguh kau perempuan pintar dan cerdas sobatku.

MONA, bila saja aku tau kalau tahun 2001 ternyata tahun yang kejam buat cerita persahabatan kita. Sudahlah aku berusaha untuk menemuimu lagi dan bercerita walau sepatah kata saja untukmu. Saat riang dulu tidak sedikitpun mau memberitahuku kalau itu adalah terakhir buatku dan buatmu bertegur dan bertukar senyum.

MONA, selamat jalan sobatku. Bertemulah dengan Tuhanmu karna sesungguhnya kematian adalah keharusan buat semua mahluk. Kami sobatmu akan merindukan riangmu dan senyummu.

MONA, salam dari kami sobatmu OSMOSIS: Sonta, Rio Jojor, Ernawati, Suryani, Frengki, David, Togi, Reinhard, Asron, Victor, Rosni, Erlita, Mey, Santi, Nora, Netty, Tohap, Tulus, Robby, Esrnet, Roy C, Renta, Natalin, Nurmei, Natalia, Ertina, Asnita, Satriana, Mike, Dewi, Erlina, Meida, Elfrida, Susan, Elfride, Eva, Delila, Martha dan Nova.

** ditulis saat hening seketika di kamar kos kosan sambil menunggu final piala dunia 2010, teringat sosok Mona yang telah dipanggil Tuhan 10 Juli 2010 karna menderita gagal ginjal.

December 8, 2011 at 3:35 am Leave a comment

Older Posts Newer Posts


About Me

I am a simple man, and also a good boy. I was born in Tarutung 14/feb/1983. Now I live at Jakarta as IT Staff in Bilangan Jakarta Pusat. I like singing very much, sleeping and also dreaming :). Music..??, hmmm... I love RnB and sometimes Country Music. About food, I like Saksang, Panggang and ofcourse "Baso". It's very fantastis luar biasa aaahaaiii...ii.

Calendar

November 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Visitor

  • 28,025 visitor

Top Clicks

  • None